
Hazel memandang gedung-gedung pencakar langit, tatapannya kosong melalang ke arah mana. Kedua tangannya di selipkan ke saku celananya sambil berdiri di depan jendela. Entah beberapa jam dia berdiri tanpa merasa lelah.
Pikirannya terus terngiang-ngiang perkataan Adel. Ada sesuatu yang berat di hatinya. Dia pun menggeleng dan bergegas menghubungi Daddy Azraf. Beberapa kali ia menghubungi Daddy Azraf dan pada akhirnya di angkat.
"Dad ..."
"Buat apa kau menghubungi ku?" tanya tuan Azraf begitu dingin. Bukan tanpa alasan dia mengangkat panggilan menantunya, tapi ia memang sengaja menunggu menantunya menghubunginya. "Aku bersyukur kau menghubungi ku, niat ku ingin membicarakan perceraian mu dengan Kayla."
Deg
Deg
Dada Hazel seperti di remas hingga keluar seluruh darahnya. Sesak dan perihnya menjalar ke seluruh tubuhnya. Tidak salah mertuanya mengatakan seperti itu, ia tau pasti Kayla sudah menceritakan semuanya.
"Kau pria bajingan. Awalnya aku berterimakasih karena kau membantu ku menemukan putri ku, tapi aku salah, kau pria bajingan yang merampas kebahagiaan putri ku. Kau menganggap putri ku seperti pengemis. Hah," Tuan Azraf tertawa miris, orang yang ia kira malaikat ternyata memiliki hati iblis. Seorang menantu yang tak perna ia toleh dan pada saat ia menoleh, ternyata ia di tipu mentah-mentah.
__ADS_1
Hazel menyadari kesalahannya, awalnya ia ingin mengatakan sejujurnya, tapi karena sudah begini ia tidak bisa menyangkal atau pun menolak. "Maafkan aku Dad."
"Kau ingin membuat ku tertawa sampai berteriak. Ambil saja kata maaf mu, aku tidak membutuhkannya. Bahkan aku sangat bahagia kau akan berpisah dengan putri ku. Ingin sekali aku bepesta sebagai bentuk perayaan mu." Sebelah tangannya mengepal, nafasnya memburu ingin membunuh seseorang. Tidak ada seorang ayah yang mampu melihat putrinya hidup menderita. Seorang ayah akan berusaha membuat anak-anaknya bahagia, bahkan melakukan apa pun.
Tanpa sadar air matanya mengalir, ia menekan dadanya yang terasa sakit mematikan itu.
"Aku ingin bertemu dengan Daddy," Mohon Hazel, ia ingin bertemu sebelum benar-benar berpisah dengan Kayla. Dia melirik ke atas, tanpa terasa air matanya hendak tumpah.
"Mati pun aku tidak akan membirkan mu bertemu dengan Kayla. Oh jangan lupa, kau bukan lagi suaminya, kau mantan suaminya." Tegas Daddy Azraf.
Hazel tau, ia sangat tau. Tapi hatinya sangat sesak. "Aku mohon Dad, terkahir kalinya. Aku akan mempercepat prosesnya kalau Daddy mau memberikan aku kesempatan."
"Daddy! Adel juga putri Daddy."
"Lalu Kayla juga putri ku yang kau paksa melahirkan anak mu dan dengan mudahnya kalian membuangnya setelah mendapatkan anak. Aku ingin suatu saat nanti kau merasakannya, kau merasakannya bagaimana anak mu membenci mu. Ah, aku lupa kau tidak bisa memiliki anak. Hiduplah dengan kebahagian yang melimpah bersama putri angkat ku." Daddy Azraf mematikan ponselnya, lalu menaruhnya ke atas nakas dengan keras.
__ADS_1
..
Hazel melonggarkan dasinya. Begitu sakitnya di tolak. Ia pun menyuruh sang pengacara untuk memproses perceraiannya. Ia pikir, ini yang terbaik dan mungkin perasaan ini hanyalah sesat saja.
Hazel kembali melanjutkan pekerjaannya, ia memfokuskan kedua pikirannya untuk urusan kantor dan ingin melupakan rasa sakit dan sesaknya.
...
Pada malam harinya.
Hazel pulang ke mansionnya, di sambut oleh beberapa pelayan dan tentunya Bibi Lin. Wanita itu memang menunggu kedatangan Hazel, ia khawatir pada Kayla yang tak bisa di hubungi.
"Tuan," Sapa Bibi Lin dengan ramah. Dia mengekori Hazel dan pria itu melemparkan tas pekerjaannya begitu saja, lalu duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya ke sisi sofa. Rasanya sangat lelah, ia lelah pikiran dan hatinya.
"Apa tuan bersama non ..."
__ADS_1
"Aku akan bercerai dengannya, dia tidak akan tinggal di sini dan juga jangan pernah menyebut namanya," ucap Hazel begitu dingin.
Bibi Lin tercengang, ia pun menghela nafas berat. Padahal ia berharap Kayla bertahan sedikit lagi, entah apa yang terjadi pada Kayla hingga wanita itu memilih pergi tanpa menemuinya dulu.