Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
#part3


__ADS_3

Tik


Tok


Tik


Tok


Tepat jam 12 malam, terdengar suara langkah kaki. Ruangan yang begitu sepi, hanya ada celah sinar lampu dari tirai jendela.


Seorang pria melangkah dengan lebar menuju lantai atas, kerutan di dahinya membuktika rasa lelah yang begitu berat. Dia menarik dasinya dan menghentikan langkahnya, dia malah duduk di sofa berwarna merah itu.


"Huh,"


Merasa haus, Hazel melangkah ke belakang. Namun sampai di dapur, dia melihat sekelibat bayanganya. Dia pun perlahan mendekat pada bayangan itu dan mengeluarkan pisau yang selalu dia bawa kemana-mana.


Akh


Tubuhnya menegang, butiran keringat membasahi pipinya. Tubuhnya gemetar, belati di lehernya siap menggores kulitnya kapan saja.


"Siapa kau?"

__ADS_1


"Tu-tuan,"


Hazel mengernyit, dia teringat dengan suara yang pernah dia dengar. Hazel menurunkan belati tajamnya. Dia langsung menghidupkan lampu utama di dapur.


Mikayla meraba lehernya, nafasnya naik turun dengan tubuh gemetar ketakutan.


"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Hazel dengan tatapan penuh menyelidik.


Mikayla melewati Hazel, dia langsung meneguk air di dalam gelas yang ia tuang itu.


"Katakan! Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Hazel. Mata elangnya menatap dengan penuh selidik. Sebagai seorang pria, dia tidak pernah percaya pada siapa pun kecuali istrinya.


"Ma-mau minum."


Mikayla meneguk ludahnya susah payah. Nafas Hazel sangat dekat di wajahnya, bagaikana anak panah yang akan menancap di dahinya. "I-iya aku ma-mau minum."


"Aku tidak akan tertipu dengan trik kotor mu itu, kalau bobotnya sudah kotor pasti bibitnya juga kotor." Hazel menatap tubuh Mikayla dari bawah ke atas, menggunakan sandal jepit, kaos dan celana pendek selutut dan rambut yang di ikat biasa.


"Apa tu-tuan baik-baik saja?" Mikayla mengintip lewat sudut matanya. Dia melihat ada darah di tangan kanan Hazel. "Se-sepertinya tuan terluka."


"Kau tidak perlu mencari perhatian dari ku. Aku tidak akan tergoda dengan wanita iblis."

__ADS_1


Mikayla menunduk dengan lekat, ia mengepalkan kedua tangannya, hingga urat itu terlihat jelas seakan ingin keluar.


Hazel tersenyum sinis, bisa ia lihat kemarahan lewat tangan Mikayla. Tapi ia tak peduli karena memang kenyataannya. Ibunya orang ketiga di keluarga istrinya. Bahkan istrinya dan mama mertuanya menangis karena keluarga Mikayla, sekaligus Mikayla sendiri.


"Saya pamit tuan," ucap Mikayla. Dia langsung pergi tanpa mendengarkan ucapan perkataan Hazel.


Hazel pun melangkah pergi, dia ingin menemui istrinya dan sesampainya di kamar ia melihat istrinya meringkuk di dalam kamar sambil menangis.


"Sayang, kenapa?"


Adel beranjak dia langsung memeluk tubuh kekar Hazel. Menangis dalam pelukannya, "Apa salah ku? Kenapa ayah begitu? Aku sangat mencintainya Hazel."


Hazel mengepalkan kedua tangannya, sekalipun ayah mertuanya, ia tidak akan tinggal diam. Istrinya merasakan sakit hati dan penderitaan.


"Sayang, jangan menangis." Hazel melerai pelukannya, dia mengusap air mata yang membelah kedua pipi istrinya. "Ini bukan salah mu, Om Rio tidak pantas mendapatkan kasih sayang mu. Dia terlalu beruntung mendapatkan kasih sayang mu."


"Hanya kau, hanya kau yang seperti suami dan ayah bagi ku Hazel, aku sangat mencintai mu, setelah Mikayla melahirkan anak mu, kau harus membuangnya."


Hazel menghela nafas, entah dari mana pemikiran bodoh istrinya ini. Dia tidak bisa menyentuh tubuh lain selain istrinya. Ia merasa jijik apa lagi tubuh Mikayla.


"Apa kamu bisa mengurungkan niat mu? Aku tidak bisa sayang,"

__ADS_1


"Tidak sayang, keluarga mu butuh penerus. Lagi pula seluruh keluarga mu tidak tau, dia belum tau kalau rahim ku telah di angkat."


"Maaf sayang, aku tidak bisa menuruti mu." Hazel mengusap pucuk kepala Adel. "Tidurlah, besok kita harus bertemu dengan Mama."


__ADS_2