
Bugh
Satu pukulan membuat Hazel mundur beberapa langkah, dia mengusap sudut bibirnya dengan jari jempolnya.
"Beraninya kau menyakiti Kayla. Seharusnya kau mengajarkan istri mu Hazel. Sebagai suaminya kau selayaknya mendidiknya." Tuan Azraf menoleh pada Adel. "Dan kau, seharusnya kau tanyakan pada ibu mu siapa ayah kandung mu. Bahkan aku saja tidak tau ayah kandung mu."
"Azraf!" teriak Mommy Mona. Urat-uratnya seakan ingin keluar. Semakin melihat betapa suaminya menjaga Kayal, semakin panas kedua matanya dan hatinya.
Tuan Azraf pun menoleh pada Mommy Mona. "Tunggu surat dari ku."
Tuan Azraf memakaikan jasnya pada tubuh Kayla. "Ayo sayang, kita pergi."
Kayla terdiam, hanya air mata menjadi saksinya betapa sakitnya dan perihnya hatinya. Dia berjalan menunduk dengan perasaan tercabik-cabik.
Tuan Azraf membukakan pintu depan mobilnya. Kayla masuk, mulutnya terkunci rapat, tidak bicara sepatah kata apa pun. Sesaknya begitu membuat nafasnya sekaan berhenti, tidak pernah ia di permalukan seperti ini, bahkan di depan banyaknya orang.
"Aaaaaaarrhhh ...."
Tuan Azraf langsung memeluk putrinya, dia mencium kening Kayla, rasa bersalah dan sesal begitu dalam sampai ke ulu hatinya. Bahkan hari ini, ia belum bisa melindungi putrinya. "Maafkan Papa, Nak." Sesalnya. Air matanya tak bisa ia bendung lebih lama lagi. Sampai saat ini ia belum bisa membuat putrinya dan wanitanya bahagia.
Drt
Kayla melepaskan pelukannya, dia segera mengambil ponselnya yang bergetar dan berdering itu.
__ADS_1
Kayla mematung, air matanya kembali menuruni kedua pipinya. Hatinya semakin hancur berkeping-keping.
"Kenapa Kayla?" tanya tuan Azraf khawatir.
"Kerumah sakit," ucap Kayla.
....
Kayla langsung keluar dan berlari menuju ruangan ibunya. Sepanjang perjalanan ia menangis tepat sampai di depan ruangan sang ibu. Langkahnya berhenti sejenak, rasanya berat dan menyakitkan. Ia tidak tahan, ia tidak kuat. Dia membuka pintu yang tertutup itu, di sana ada beberapa perawat dan menoleh padanya.
Arghhhh
Hidupnya hancur, kini bagaikan puing-puing yang terombang ambing. Dia jatuh ke lantai dan berteriak kesakitan, kenapa hidupnya harus menderita seperti ini?
Tuan Azraf mematung di ambang pintu, kedua mulutnya ingin mengucapkan sepatah kata. Namun tak keluar, dia perlahan melangkah menghampiri wanita pucat di atas brankar itu.
"Sari, Sari." Tuan Azraf menggubcang tubuh wanita yang begitu amat ia cintainya. Rasa bersalah dan sakitnya semakin membuatnya sesak, dadanya bergetar dan panas. "Bangun ... Ku mohon bangun."
"Ma ma bangun, jangan tinggalkan Kay. Kay tidak punya siapa-siapa lagi Ma. Mama sudah berjanji akan membawa Kay pulang, Mama sudah berjanji akan membuat kue kesukaan Kay. Mama jangan bercanda ...."
Kayla memeluk leher sang ibu, menangis di atas dadanya. Sejauh ini ia bertahan demi sang ibu, bahkan ia melakukan apa pun demi sang ibu, tapi kenapa masih meninggalkannya? Masih meninggalkannya untuk waktu yang lama.
"Ma, Kay tidak punya siapa-siapa lagi Ma. Ayo kita pulang, Kay ikut Mama."
__ADS_1
Tuan Azraf mengusap air matanya, ia harus kuat demi putrinya. Dia pun mencium kening wanita yang sangat ia cintai. Sangat dalam dan begitu lembut, mengiringi segala curahan hatinya. "Aku akan menjaga putri kita, maafkan aku."
Tuan Azraf memutari brankar itu, dia merangkul Kayla dan memeluknya, mendekapnya dengan erat. "Sabar sayang, kita harus kuat."
"Gak, ini gak adil. Kay sudah melakukan apa pun, tapi kenapa Pa?" Kayla menunduk, derasnya air matanya membasahi lantai putih itu. "Sakit Pa,"
Sedangkan di tempat lain.
Hazel merangkul istrinya, mengecup keningnya beberapa kali. Membiarkan sang istri menangis, akhirnya istrinya tau kalau dia bukan anak kandung tuan Azraf. Mommy Mona terpaksa menceritakan semuanya pada Adel dan membuat wanita itu tak bisa menghentikan tangisannya.
Hazel terus membisikkan kata cinta, melihat istrinya menangis sungguh sakit. Tapi ada sesuatu yang mengganjal, lebih sakit dan perih. Dia menatap ke langit-langit, ia mengepalkan sebelah tangannya yang telah ia gunakan menampar Kayla. Rasnaya sangat perih menusuk hatinya.
"Adel sudah jangan menangis. Kau masih memiliki aku dan Mommy."
Hazel kini tak tau dengan perasaannya, raganya memang berada di samping Adel, namun hatinya tertuju ke tempat lain.
Ada rasa penyesalan di hatinya, tadi ia ingin mengejar Kayla, namun tangannya di tahan oleh Adel. Kini ia tidak bisa menemui Kayla dan tidak tau keadaannya saat ini.
Sedangkan Mommy Mona malah tersenyum senang, dia bahagia dia sangat bahagia. Akhirnya wanita yang merusak rumah tangganya telah mati. Dia pun mengintip lewat celah pinti kamar Adel, melihat menantunya yang menemani anaknya.
"Sudah seharusnya seperti ini. Azraf terimalah nasib buruk mu." Ia puas, ia sangat puas mendengarkan seorang Dokter menghubunginya dan menyampaikan bahwa Puspitasari telah meninggal. Saking senangnya, ia ingin sekali membuat pesta. Ia tak peduli dengan tangisan Azraf.
"Aku yakin Azraf akan kembali pada ku dan Kayla tidak akan pernah bisa masuk ke dalam rumah tangga anak ku."
__ADS_1
"Biarkan saja Hazel tidak tau, saat ini Adel membutuhkannya. Jangan sampai pikirannya bercabang."