Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
#part48


__ADS_3

"Ghava," Begitu sulit kedua mata Kayla melihat Hazel di depannya. Ia mengubah ekspresi wajahnya dengan sedikit tersenyum.


"Ma, aku bawa Papa. Katanya Papa bareng sama kita. Papa gak akan ninggalin kita lagi Ma."


Kedua mata Kayla berkaca-kaca, dia mengusap rambut hitam milik Ghava dan mengangguk. "Iya sayang, kamu ganti baju dulu ya."


Ghava menurut, dengan cepat berlari, ia tak sabar ingin bermain dengan sang Papa.


Setelah kepergian Ghava, kini Kayla melanjutkan sesuatu yang ingin ucapkan. "Duduklah Mas, kita perlu bicara."


Sejenak Kayla menekan hatinya yang masih perih, ternyata bertahun-tahun tidak bertemu dengan Hazel, masih saja lukanya terasa. Padahal ia pergi dan lepas ingin melupakan semuanya, mencintai tak semudah melupakan. Inilah yang ia rasakan kali ini.


"Apa maksud Mas mengatakan akan bersama dengan Ghava, jangan memberikan harapan palsu Mas. Aku juga tidak berharap kita bersama."


"Aku ingin kembali pada mu?"

__ADS_1


"Apa?" Tidak semudah apa yang di katakan, kata kembali bagaikan tamparan padanya. "Aku tidak melarang Mas untuk menemui Ghava, tapi jangan mengatakan sesuatu yang membual."


"Aku serius, aku akan menceraikan Adel."


"Semudah itu?" tanya Kayla. Pria di depannya sangatlah kejam. Ia tak menyangka bercerai sangat mudah di ucapkan baginya. Padahal Adel telah bersamanya bertahun-tahun.


"Tidak!!!" satu teriakan menggema di ruangan yang tadinya mencekam itu. Suasana bertambah dingin sampai menyelusup ke tulang-belulang mereka.


Seorang wanita hendak menampar Kayla, namun Hazel dengan cepat menahan tangannya dan menghempaskan tangannya.


Adel menoleh, menatap sengit Kayla. "Kau puas."


"Adel hentikan! Aku yang meminta pada Kayla, bukan Kayla."Tegas Hazel, ia ingin menarik Kayla menjauh namun dering ponsel membuatnya geram, saat ia melihat siapa yang menghubunginya. Lekas ia mengangkatnya.


Hazel mendengarkan ucapan pria di seberang sana, seketika kedua matanya memerah. Ia buru-buru mematikan ponselnya dan melihat sebuah vidio. Vidio seorang dokter yang ia percayakan saat merawat ibu Kayla, dan Dokter itu mengatakan sesuatu yang membuatnya bagaikan di sambar petir, lalu ribuan anak panah menancapnya.

__ADS_1


Dengan tangan gematar, ia menghadapkan vidio itu ke wajah Adel dan memutarnya. Suara pria itu menarik perhatian Kayla dan Rio.


"Maaf tuan, saya terpaksa melakukannya. Saya di ancam nyonya Adel untuk berpura-pura merawat ibu nyonya Kayla, saya takut. Nyonya Adel mengancam keluarga saya."


"Ha-Hazel," Kayla ingin meraih lengan Hazel, namun pria itu menolaknya dengan menghindari tangan Adel. "Aku bisa jelasin, ini gak seperti."


Kayla langsung melemparkan tamparannya ke pipi Adel. Ibu muda itu merasakan perih, Adel, ia sudah melakukan semua perintahnya termasuk melahirkan seorang anak, meskipun ia tak di perlakukan baik dan pada akhirnya melahirkan seorang anak, tapi ia bersyukur ia tidak meninggalkan anaknya pada wanita seperti Adel.


"Kau pikir apa nyawa ibu ku? Selama ini aku dan ibu ku tidak pernah mengusik keluarga mu."


Adel memegangi pipinya, bibirnya bergetar. Penghinaan ini menjatuhkan harga dirinya dalam sekejap. "Salah, ibu mu menghancurkan ibu ku dan sekarang kamu."


"Jangan menyelahkan kami, Papa ku mencintai ibu ku berarti ibu ku lebih baik dari pada ibu mu dan aku di cintai Hazel, berarti aku lebih baik dari pada dirimu," ucap Kayla. Ia tak bisa menahan amarah dan emosinya, ia tak bisa menahan pedasnya ucapannya.


Adel memundurkan langkahnya, perkataan Kayla bagaikan petir yang menghunus ke ulu hatinya. Ia tersadar akan kekurangannya saat menikah dengan Hazel. Ia sadar, ia bukan wanita yang baik bahkan karena pergaulannya ia kehilangan sesuatu yang berharga.

__ADS_1


__ADS_2