
"Sayang," seorang wanita berhembur memeluk Adel. Mommy Mona langsung menuju sebuah hotel tempat Adel berada. "Apa yang terjadi?"
Mommy Mona begitu khawatir dengan Adel. Sebagai seorang ibu, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada anaknya. "Dimana Hazel?" Mommy Mona teringat tadi yang di bukakan pintu oleh seorang pria. "Apa dia bawahan Hazel untuk menjaga mu?"
"Mom, aku ingin bercerai dengan Hazel."
"Apa?" tanya Mommy Mona berteriak kencang. "Kau gila? kau mencintai Hazel, begitupun Hazel mencintai mu." Mommy Mona tak terima dengan perkataan Adel.
"Cukup Mom, di sini aku bersalah. Aku tidak bisa menjaga Hazel. Sampai sekarang dia masih mencintai Kayla. Aku mengurungnya, aku kejam padanya Mom."
"Kayla, Kayla dan Kayla, kau harus buktikan kalau kau bisa."
"Mom, aku tidak ingin seperti Mommy. Berdiri di balik bayangan wanita lain. Bertahun-tahun Daddy tidak mencintai Mommy, cukup Daddy yang kita sakiti Mom."
Mommy Mona terdiam, perkataan putrinya tak mampu membuatnya berkutik. Memang benar, selama bertahun-tahun dia hidup dalam bayangan Pusitasari.
"Kayla dan Hazel sudah memiliki anak. Apa yang kita lakukan salah Mom, jadi mari kita pergi. Kita sudahi, aku tidak ingin melihat Hazel menangis. Ini buktinya kalau aku mencintainya Mom, aku melepaskannya demi kebahagiaannya."
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin berusaha sedikit lagi?" tanya Mommy Mona. Hazel dan Adel memiliki hubungan yang sangat lama, apakah semudah itu menyerah? Apa tidak ada sedikit pun di hati Hazel.
Mommy Mona memeluk Adel dengan erat, kedua wanita itu kini saling menangis dengan penyesalan yang mendalam.
....
Di tempat lain.
Hazel bangun pagi hari membuat sarapan untuk Kayla dan putranya. Di siang hari dia menjemput putranya. Di malam harinya dia mempunyai jadwal untuk menemani putranya tidur.
"Papa!!" panggil Ghava. Hazel langsung memeluk putranya dan menggendongnya. Mencium kedua pipinya.
"Mama," Kayla mencium sebelah pipi Ghava.
Dua orang yang pernah mengukir kisah itu kini tampak harmonis seperti keluarga seutuhnya.
Kayla pun tak lagi mengekang Ghava bersama dengan Hazel, putranya kini bebas bersama dengan Hazel. Bahkan Hazel berniat membawa Ghava ke paris bersamanya dan tentunya permintaan Ghava.
__ADS_1
"Kay, dua hari lagi kita ke Paris."
Kayla mengangguk, percuma saja ia menolaknya. Ghava pasti membujuknya dan ua tak tega melihat Ghava menangis.
"Bagaimana dengan permintaan ku?" tanya Hazel.
Kayla menoleh, "Kau belum cerai secera resmi kan?"
"Jadi kau tak menolak ku?" tanya Hazel. Kayla diam, ia sudah memikirkan secara matang. Melepaskan rasa sakit hatinya demi buah hatinya. Biarlah dia di katakan egois, karena sejatinya dirinya sebagai wanita tidak ingin di duakan. Ada beberapa wanita yang memang meminta suami poligami, tapi ia tidak bisa. Ia bukan wanita seperti itu.
"Yes!" saking gembiranya, bagaikan menadapatkan lotre. Kedua tangan Hazel mengepal kuat dan menariknya.
"Hazel, awas di depan." Seketika Hazel mengerem mendadak.
"Kau ini," kesal Kayla. Jantungnya seakan melompat ketika mobil Hazel mendekati mobil yang berhenti karena lampu merah.
"Maaf sayang,," ucap Hazel. Dia pun mengelus kepala Ghava. Rupanya anaknya tengah tertidur pulas.
__ADS_1