Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
#part30


__ADS_3

Hazel memakan sarapannya yang tak begitu enak. Perasaan nyilu dan rasa bersalah yang mendalam pada istrinya, ketika ia melihat istrinya yang bersalah dan tersenyum. Penyesalan itu menyeruak begitu saja.


Dia menoleh pada tuan Azraf yang cukup menanggapi celoteh istri kecilnya itu. Cukup mendengarkan walaupun tak ikut berbicara. Ia cukup senang melihatnya dan kali ini ia tidak ingin membuat istrinya bersedih.


"Dad, nanti aku kembali lagi ke sini. Aku pasti merindukan Daddy."


"Iya," ucap Daddy Azraf.


Adel begitu terharu, dia beranjak dari tempat duduknya dan memeluk tuan Azraf dari samping. "Terimakasih Daddy tidak mengabaikan ku lagi, aku percaya Daddy sangat mencintai ku."


"Lupakan, kita mulai dari awal lagi," ucap Adel. Saking senangnya, rasa senang itu tidak sebanding apa pun. Rasa haus kasih sayang itu membuatnya tak pernah berhenti memikirkan Daddy Azraf.


"O iya sayang, aku berangkat kantor dulu nanti sepulangnya aku jemput," ucap Hazel.


Adel mengangguk dan tersenyum, ia kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan memakan sarapannya.


Seusai sarapan Hazel keluar bersama dengan Daddy Azraf. Sang mertua itu sengaja mempercepat langkahnya menyusul Hazel.


"Hazel, Kayla berada di mana?" tanya Daddy Azraf. Hazel yang hendak membuka pintu mobilnya menoleh. Ia tak mungkin menutupinya lagi.


"Ada di mansion Dad, kau bisa mendatanginya kesana." Hazel membuka kembali pintu mobilnya. Dia menghembuskan nafasnya. Ia berharap Kayla tidak mengatakan apa pun. Ia berniat akan menceraikan Kayla demi Adel.


Daddy Azraf pun melangkah ke arah mobilnya, sebelum berangkat ke kantor dia berniat ingin menemui Kayla.

__ADS_1


"Kayla!" panggil Daddy Azraf berteriak meneriaki nama sang anak. Kayla yang mendengarkan suara yang ia kenal, ia pun keluar dari kamarnya.


"Pa," Kayla berhambur memeluk Daddy Azraf. Ia memeluk erat pria yang sangat mencintainya itu. Dia menangis dengan rasa sesak yang menekan hingga ke ulu hatinya.


"Kayla? Kenapa?" Daddy Azraf melepaskan pelukannya. Dia merangkup kedua pipinya. Kedua mata putrinya bengkak dan memerah seperti sehabis menangis semalaman.


"Sayang, Kay??"


"Tuan," sapa Bibi Lin. Ia mengerutkan keningnya melihat majikan tuanya yang tak lain mertua majikan begitu khawatir dan memeluk Kayla.


"Bibi Lin, Kayla putri ku. Kalau kau ingin menanyakannya lebih jelas. Tanyakan saja pada majikan mu." Bibi Lin mengangguk, Daddy Azraf kembali fokus pada wanita di depannya.


"Kita keluar, kau bisa menenangkan hati mu. Sekalian kita ke rumah sakit menengok ibu mu."


Daddy Azraf pun membawa Kayla ke taman, dia menggenggam tangan putrinya. Inilah yang ia harapkan di masa tuanya bersama dengan istrinya dan putrinya, menghabiskan waktu bersama. "Hati mu sudah lega?" tanya Daddy Azraf. "Boleh papa tau apa yang membuat mu menangis?"


Kayla diam, ia belum siap menceritakan semuanya. Ia tak ingin mengganggu momen saat ini yang tak ingin ia lewatkan begitu saja.


"Ya sudah, kita ke Mall. Kau harus menguras uang Papa."


Kini keduanya sampai di Mall ternama, Daddy Azraf selalu menggenggam tangan putrinya. Dia pun memilih beberapa pakaian yang cocok untuk Kayla. Beberapa Dress selutut, tas, sepatu dan heels.


"Kay sayang, ini cocok untu mu," ucap Daddy Azraf menilai sebuah model dres yang menutupi leher Kayla, warna merah dengan motif bunga melati."

__ADS_1


"Dad, ini sudah banyak."


Tak jauh dari mereka, kedua wanita yang berbeda umur itu mengepalkan kedua tangannya, rasanya sesak dan sakit melihat seorang yang mereka cintai malah bersama dengan anak wanita yang bahkan mereka benci.


"Sialan!!"


Mommy Mona berlari dan memutar tubuh Kayla, tangan kanannya melayang tepat di pipi Kayla. Dengan sekuat tenaga dia meluapkan kemarahannya. "Wanita murahan!! Tidak ibu mu dan kamu sama-sama tukang goda," ucap Mommy Mona menggebu-gebu, bahkan kedua matanya memerah.


"Daddy, apa yang Daddy lakukan? Kenapa Daddy sama dia?" tunjuk Adel. Air matanya meluncur deras. Ia teringat kebersamaannya bersama sang Daddy, walaupun sementara tapi baginya sangat berharga.


"Kayla," Daddy Azraf merangkul tubuh Kayla.


"Apa yang Daddy lakukan?" Adel tak terima, ia menarik tangan Daddy Azraf. Namun pria itu menepisnya dan membuat Adel menatap nanar.


"Daddy," lirih Adel tak percaya. Rahangnya mengeras. "Dasar wanita murahan! Pelacur! ****** kau sama seperti ibu mu."


"Kalian semua, lihat wanita ini." Tunjuk Adel sambil melihat keadaan di sekitarnya. Banyak para pengunjung yang mengelilinginya. "Ibunya merayu Daddy ku dan sekarang anaknya merayu suami ku, sebutan apa yang pantas kalau tidak dengan kata pelavur. Bahkan aku membantunya untuk menemui Daddy, tapi wanita ini diam-diam merayu suami ku. Bahkan ibunya terbaring sakit, dia malah asik merayu Daddy ku setelah merayu suami ku. Aku berharap ibunya mati mengenaskan dan ...."


Plak


Dada Kayla naik turun, dadanya di remas seakan di himpit oleh besi yang panas. Sangat perih dan menyiksa seluruh tubuhnya.


"Kayla!"

__ADS_1


__ADS_2