
Hazel pulang dengan rasa lelah yang menumpuk di kepalanya, kedua bahunya yang terasa nyeri, pinggangnya yang terasa nyeri. Mungkin karena terlalu banyak pikiran dan bekerja yang terus menerus tak kenal waktu. Bahkan makan siangnya berlangsung dengan cepat di karenakan meeting, dia menyuruh Adel pulang sendiri.
Kini dia duduk di sofa, pulang larut malam dan istrinya pasti sudah tidur.
Tak
Hazel membuka kedua matanya dan melihat Mikayla berdiri di depannya dan tatapannya beralih pada kopi hangat yang uapnya kemana-mana itu.
"Sepertinya tuan lelah, jadi aku hanya bisa menyajikan kopi hangat ini di campur dengan jahe."
Ibunya asli orang Jakarta, karena ingin menikah dengan pria idamannya, dia di bawa ke paris. Pekerjaan sang ibu hanyalah sebagai pelayan Restaurant miliknya ayahnya. Namun sampai di sini, kedua orang tua sang ayah tidak setuju dan ibunya memilih pergi. Kini ia mau berdamai dengan masa lalu, ia tidak ingin terbelenggu dengan masa lalu. Sepanjang hari dia melihat buku diary yang di simpan ibunya dan akhirnya sudah menemukan jawabannya. Dulu ia juga benci dengan ayahnya dan juga rindu, namun sekarang ia lelah dan ingin berdamai, ia hanya fokus pada pengobatan ibunya.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Hazel dengan nada rendah. Dia meniup kopi di depannya dan meminumnya sedikit.
"Terimakasih."
Kayla mengangguk, dia pun hendak pergi, namun melihat Hazel yang merenggangkan kedua otot lengannya, ia merasa kasihan. "Tuan apa boleh saya memijat mu? Maaf tidak ada maksud apa-apa."
__ADS_1
Kayla menyadari perkataannya yang tidak pantas, dia melangkah. Namun, suara berat itu membuatnya menghentikan langkahnya.
"Kayla, aku ingin kamu memijatnya. Ikut aku,"
Kayla menurut, seperti ada magnet yang menariknya untuk mengikuti langkah Hazel. Kini mereka berada di ruang olahraga Hazel. Beberapa alat olahraga dan satu sofa serta satu meja bundar.
Hazel membuka kemejanya dan duduk bersila. Ia memilih ruangan ini karena aman dari beberapa pasang mata.
"Tuan mau apa?"
Kayla membuka kedua matanya, ia hampir menjadi orang bodoh saking gugupnya. Dia pun melangkah dengan cepat, dengan jantung berdebar kedua tangannya bergerak ke bahu Hazel. Gerakan lembut itu dalam sekejap membuat wajah Hazel memerah dan jantungnya berdebar-debar seakan ingin melompat.
"Hah? Kenapa tuan? Apa sakit?" tanya Kayla. Ia sudah berhati-hati dan tidak terlalu menekan.
"Aku ngantu Kay, Ka-kau tidurlah." Hazel bergegas keluar dari ruang olahraga itu.
Hazel menutup pintu kamarnya, ia bergegas ke kamar mandi dan menyalakan showernya, menghujani seluruh tubuhnya, kedua tangannya menekan dinding di depannya dan menunduk. "Kenapa dia berekasi?"
__ADS_1
Ia memejamkan kedua matanya, mengangkat wajahnya dan seketika bayangan wajah Kayla tersenyum, entah pikiran jorok dari mana bayangan Kayla saat menggunakan lingerai merah dan tubuh menggoda. "Sial, pucuknya semakin menegang."
Entah beberapa jam dia memakan waktu merendam tubuhnya dan kedua matanya semakin berat dan tidak sadar kalau ia masih menggunakan bethrobe. "Aku tidak boleh mengingatnya," ia tidak mau menyentuh Kayla dan menyakiti istrinya, Adel.
Dia pun menyusul mimpi Adel dan tidur terlelap di sampingnya dan memeluk guling.
...
Silau Matahari menerpa wajah Hazel, matanya terlalu berat untuk di buka.
"Adel, tutup tirainya." Hazel menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya.
Kayla membuka jendela kaca agar udara masuk dan pintu ke arah balkon.
Dia pun menoleh pada sang majikan yang masih ingin bermanja-manja di kasur empuknya.
"Tuan bangun, ini sudah jam 9." Seru Kayla. Dia mengguncang tubuh Hazel dengan kasar. Bisa-bisa pita suaranya terputus memanggil Hazel yang sangat sulit di bangunkan. Ingin sekali dia mengambil sebaskom air lalu menyiramnya.
__ADS_1