
"Tidak! Aku yang terbaik untuk Hazel." Adel memegang lengan Hazel, dengan tatapan iba. "Katakan Hazel, semua yang di katakan itu tidak benar."
Hazel diam, ia merasa malu untuk mengakuinya. Seumur hidupnya ia tidak pernah membuka kekurangan istrinya, ia berusaha menjadi suami yang menutupi semua kekurangan istrinya.
"Hazel ...."
Kayla menyeret kakinya yang teras nyilu ke lantai atas, ia malas melihat Hazel dan Adel. Biarkan saja sepasang insan itu saling menyelami kehidupan masa lalunya. Ia tidak akan berusaha mencegah Hazel untuk pergi atau pun tinggal. Sebagai seorang ibu, ia juga memikirkan putranya dan sebagai seorang mantan istri, ia tidak ingin di hina oleh istri dari mantan suaminya.
"Kay, biar aku bantu." Rio mendekati Kayla, dia mengalungkan sebelah tangan Kayla ke lantai atas.
Hazel menarik Adel ke taman samping. Dia duduk di taman samping dekat pohon yang begitu rindang. "Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Jujur, bagi ku tidak mudah melupakan mu. Walaupun hanya sedikit nama mu masih ada, tapi hati ku terlanjur kecewa."
"Karena ibu Kayla?"
"Iya, aku kecewa pada mu. Aku tidak akan memejarakan mu. Aku ingin kau berubah dan memperbaiki diri. Sama seperti ku, mari kita bercerai. Pengacara ku akan mengurusnya."
Adel semakin menangis tergugu, ini kesalahannya hingga membuat pria yang ia cintai kecewa melebihi rasa cintanya. Ia sadar kebencian hatinya membuat Hazel terluka.
"Maafkan aku, aku tidak tau kau akan terluka seperti ini."
Adel melangkah dengan langkah gontai, pipinya terus menerus teraliri air mata. Dia tak mampu menahan rasa sakitnya. Berjalan tanpa melihat keadaan sekelilingnya. Ia tidak peduli tatapan semua orang.
"Argh!!!"
__ADS_1
Ia memegangi kedua telinganya, ia menyesal telah menggores luka untuk suaminya. Rasa penyesalannya seakan mencekiknya.
"Nona ..."
Seorang pria turun dari mobilnya, ia melihat seorang wanita yang jatuh pingsan di tengah jelan. Bergegas ia membawa wanita yang tak lain adalah Adel itu membawa ke rumah sakit terdekat.
....
"Kemana Adel?" tanya Mommy Mona. Karena keasikan liburan ke luar negeri ia tidak tau kalu putrinya tidak ada dan juga menantunya, lebih mengejutkan lagi mendengarkan pertengkaran Adel dan Hazel. Bahkan keduanya menuju Indonesia.
"Apa ini berkaitan dengan wanita murahan itu?" Mommy Mona berkacak pinggang. Padahal ia sudah membeli beberapa oleh-oleh untuk putrinya. Beberapa pakaian yang cantik.
"Aku harus menyusul mereka."
Dia pun memesan sebuah tiket pesawat, besok pagi ia harus berangkat. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada putri semata wayangnya itu.
...
"Apa dia sudah pulang?" tanya Kayla. Setelah kejadian itu, dia menuju ke kamar putranya dan melaragnya untuk keluar hingga tertidur dan bangun di malam hari, tepat jam makan malam.
"Ma, Papa mana?" tanya Ghava. Kayla terdiam, ia bingung harus menjawab apa? Ia pikir Hazel telah pergi bersama dengan Adel.
"Sayang kau baik-baik saja?" tanya tuan Azraf. Dia khawatir mendengarkan cerita putrinya dari Rio. Pria itu juga menceritakan Hazel dan Adel.
__ADS_1
Jadi ia mengurungkan niatnya mengusir Hazel dari kediamannya.
"Aku baik-baik saja pa."
"Ayo kita ke ruang makan," ucap tuan Azraf. Ia pun menggendong Ghava dan sebelah lengannya sebagai di jadikan tongkat untuk Kayla.
"Makan malam sudah siap."
Deg
Kayla menatap pria di depannya, dia tersenyum dengan ceria seakan tak terjadi apa pun. Menggunakan celemek dan tangannya memegang sebuah baskom yang berisi sayuran.
"Ayo makan," Hazel membantu Kayla duduk. Kemudian beralih pada Ghava. Dia membantu putranya duduk di sampingnya. Malam ini ia ingin menyuapi Ghava dengan tangannya sendiri.
"Ghava sayang, malam Papa yang akan menyuapi mu."
"Mas, biar aku saja." Sela Kayla.
"Tidak, malam ini biar aku saja yang menyuapi Ghava." Tolak Hazel secara halus.
"Iya Ma, Ghava ingin di suapi oleh Papa." Ghava menunjuk sup daging di depan Kayla. "Pa aku ingin itu,"
"Siap sayang."
__ADS_1
Kayla tersenyum hangat, ia melihat dua laki-laki yang saling tertawa bersama. Sejujurnya, inilah yang ia rindukan. Melihat Ghava bahagia membuatnya tak ingin apa pun selain melihat senyumannya.