Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
#part35


__ADS_3

Seorang wanita tengah memuntahkan sesuatu, dia mengusap membasuh mulutnya dengan air yang mengalir deras di depannya. Semua makanan yang ia makan keluar begitu saja. Selama dua minggu ini segala makanan yang ia makan keluar dan kepalanya terasa berat.


Di belakang seorang pria berumur kira-kira 50 tahun mengusap punggungnya dengan lembut dan berkata penuh kekhawatiran, "Sayang, sebaiknya kau periksa saja. Papa takut terjadi sesuatu pada mu."


"Masuk angin Pa," ucap Kayla.


"Masuk angin bagaimana? Ini sudah dua minggu," ucap Tuan Azraf.


Seorang wanita berumur 40 tahun muncul di ambang pintu. "Nona seperti hamil tuan,"


Kayla langsung menatap wajahnya, ia lupa kalau bulan ini ia terlambat datang bulan. Sedangkan tuan Azraf, entahlah ia harus bahagia atau bersedih. Kalau memang Kayla hamil, ia bersyukur ia akan menjadi Kakek.


"Bik Ina, apa aku boleh mintak tolong?"

__ADS_1


"Iya Non, apa?"


"Tolong belikan aku testpack."


...


Buliran air bening itu terjatuh, dia memandang dua garis di tangannya. Dia hamil, dia hamil anaknya Hazel. Karena larut dalam kesedihan dia lupa kejadian malam itu. Dia tersenyum, di saat ia sedang rapuh justru hadir seorang malaikat yanh menghapus kerapuhannya, kesedihannya. Dia mengusap perutnya dan tersenyum. "Ibu akan menjaga mu dengan baik. Ibu akan memberikan seluruh hati Ibu untuk mu."


Kayla keluar sambil membawa bukti kalau dia hamil, tuan Azraf mengambil tespack itu dan langsung memeluk Kayla. Dia terharu sambil meneteskan air matanya, memeluknya dengan erat. Kini dia menjadi seorang kakek, dia akan di panggil kakek. "Selamat sayang, kau akan menjadi seorang ibu."


Ketiga orang itu pun larut dalam kebahagiaan. Keduanya membawa Kayla ke arah ranjang. "Sayang, kamu istirahat dulu. Besok Papa akan menemani mu ke rumah sakit."


"Baik Pa,"

__ADS_1


"Non, Bibi ke dapur buat susu hamil dulu," ucap Bik Mina. Selain membeli testpack ia juga membeli susu ibu hamil karena ia yakin nonanya sedang hamil.


Kayla bersandar, air matanya membelah pipi putihnya, menatap punggung dua orang yang keluar dari kamarnya. "Ibu senang kau hadir, andai saja nenek mu masih hidup. Dia pasti senang." Kayla menoleh, dia mengambil bingkai foto ibunya dengannya. "Ma, Kay hamil. Mama akan jadi nenek,"


...


Sedangkan di belahan lain. Seorang pria tampak lelah, dia terus bekerja siang dan malam. Jangan lupakan selama dua minggu ini dia terus menyibukkan dirinya, bahkan kadang tidak tidur sama sekali. Sesekali dia pulang kerumah, tidur di samping istrinya tapi tak membuatnya terlelap. Justru dia harus mengomsumsi obat yang pada akhirnya membuatnya tidur.


Pria itu pun membuka pintu kamarnya, terlihat seorang wanita tengah tertidur lelap. Dia duduk di samping ranjangnya, menatap sang istri. Rasa bersalah semakin menumpuk, dia menghindari istrinya demi melupakan wanita lain. Ia akui, kini hatinya menginginkan Kayla, wanita itu telah menghuni hatinya, wanita itu telah membuatnya gila.


Dia pun memejamkan kedua matanya, air matanya kembali mengalir. Dia pun bangkit, bukannya mandi justru dia berlalu ke ruang kerjanya. Selama dua minggu hatinya sesak dan sakit, dia rindu, dia menginginkan kehadirannya.


Dia melihat ponselnya, mencari sebuah foto yang dulu sempat ia berikan pada Adel sewaktu mencari informasi tentang Kayla. "Tuhan ... Aku merindukannya."

__ADS_1


...


Lima Tahun Kemudian...


__ADS_2