Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
#part14


__ADS_3

Semalaman ini Hazel tidak tidur, dia memikirkan perkataan Bibi Lin yang mengusik pikirannya, perkataan Bibi Lin ada benarnya, kalau Kayla dan ibunya berniat menghancurkan rumah tangga mertuanya, sudah dari dulu mereka mencarinya.


Hazel mengambil gawainya di depannya dan menghubungi seseorang. "Aku ingin kau mencari tahu informasi tentang tuan Azraf."


Hazel menaruh gawainya, dan kini tak terasa dia memakan waktu yang lumayan cukup lama hanya duduk dan mengingat Kayla. 


"Sudah pagi rupanya." Hazel langsung beranjak pergi menuju kamar istrinya, ia harus bersiap-siap ke kantor. Hari ini tidak ada Kayla yang akan membantunya bersiap-siap.


"Sayang, kau datang dari mana?" tanya Adel. Dia memicingkan matanya melihat Hazel yang baru masuk ke kamarnya. Bahkan masih menggunakan piyama.


"Aku ketiduran di ruang kerja sayang, maaf ya." Hazel berkata lirih, baru kali ini dia berbohong pada istrinya.


"Hah begitu ya, aku kira kamu menemui gadis murahan itu." 


"Sayang, jangan mengatakan seperti itu." Nasehat Hazel, entahlah dia tidak suka saat kata 'murahan' keluar dari mulut Adel. 


Mendengarkan suara Hazel yang menolak perkataannya, hatinya tak suka. Selama ini suaminya tidak pernah menolak atau mengomentari setiap perkataannya. "Kau membelanya?" Adel menunduk, tetesan air matanya kini mengalir.


Hazel mendekat, dia menarik dagu Adel dan menghapus air matanya. "Bukannya begitu sayang, aku tidak mau orang akan berpikiran buruk tentang mu."


"Tapi jangan membelanya, aku membencinya."


Hazel memandangi istrinya dengan senyuman. Dia pun menarik tubuh Adel masuk kedalam pelukannya.

__ADS_1


Cup


"Jangan menangis."


Setiap berhadapan dengan istrinya, ia teringat pada ibunya. Dalam hidupnya selalu ingin membahagiakan istrinya dan tak pernah menginginkan sedikit pun istrinya menangis.


….


Hazel berkutat dengan leptop di depannya. Sampai langkah kaki seseorang membuatnya mengangkat wajahnya. "Kau sudah menemukan sesuatu."


Pria itu menghela nafas, teringat dengan perkataan seorang wanita setengah baya.


"Tuan saya sudah mencari informasinya dan selama ini diam-diam tuan Azraf masih mencari keberadaan putrinya dan kekasihnya. Silahkan tuan melihatnya sendiri." Pria berjas hitam itu memberikan sebuah map. 


Hazel memijat keningnya dan menatap pria di depannya. "Kau boleh pergi."


Hazel kembali menatap informasi tentang ayah mertuanya. Jadi ayah mertuanya dulu memiliki seorang kekasih dan sudah lama menjalin hubungan. Bahkan di status itu mertuanya tidak menikahi siapa pun kecuali ibunya adel. Jadi Kayla selama ini tidak memiliki status. Hanya sebuah nama, nama mertuanya.


Selama ini ia kira hubungan mama mertuanya renggang karena orang ketiga, setelah ia selidiki ternyata Mommy Mona lah yang masuk ke dalam kehidupan tuan Azraf papa mertunya, dan ternyata tuan Azraf menikah karena di jodohkan dengan Mommy Mona.


"Ternyata aku salah menilainya, pantas saja tuan Azraf tidak begitu menyukai Mommy Mona."


Ada rasa bersalah dan sesal di hatinya, ia pun menggeleng. Rasa sesak bergelanyut di hatinya, jadi selama ini ia sudah salah paham.

__ADS_1


"Sayang," sapa seseorang dari ambang pintu.


Hazel segera menyembunyikan dokumen itu ke dalam laci meja kerjanya. 


"Sayang kau sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan di luar?" Tanya Adel. Siang ini dia memang berniat untuk makan siang dengan Hazel di luar.


"Kebetulan aku belum makan, ayo," Hazel menggenggam tangan istrinya keluar dari ruangannya.



Kayla merasakan sesuatu di dahinya, ia pun mengambilnya dan melihat sapu tangan. "Pasti Bibi Lin yang melakukannya. Dia baik sekali," gumam Bibi Lin. Karena sakit ia tak bisa menghadiri pertunangan mantan kekasihnya.


Lagi-lagi dadanya merasa sesak, dengan cepat ia menghapus air matanya. Percuma saja ia menangis, nasi sudah jadi bubur, ia juga tidak pantas bersama Dion. 


"Semoga bahagia Dion." 


Mikayla bergegas turun, dia membersihkan tubuhnya yang terasa lengket itu. Ia pun menuju ke arah dapur dan melihat Bibi Lin.


"Bibi Lin terimakasih telah merawat ku tadi malam." Di tengah-tengah orang menghina dirinya, hanya Bibi Lin yang menerimanya.


"Kay sebenarnya tadi malam bukan Bibi yang merawat mu, tapi tuan Hazel. Sepertinya dia merasa kasihan pada mu." 


Kayla mengingat kejadian tadi malam, memang ia samar-samar melihat bayangan Hazel, tapi ia tak semudah itu percaya. Namun, setelah Bibi Lin mengatakannya, ia tak bisa menyangkalnya. "Oh,"

__ADS_1


Entah ia harus berterimakasih atau tidak, tapi rasa sakit hatinya belum hilang.


__ADS_2