
"Apa Daddy bisa menceritakannya? Tentang putri Daddy?" tanya Hazel, entah mengapa ia begitu tertarik dengan kisah Mikayla yang kini berada di genggamannya sebagai bonekanya. Seakan seluruh tubuhnya di ikat oleh benang dan dia lah yang menjadi pemegang kekuasananya.
"Dia," Tuan Azraf tersenyum, sambil menikmati malam yang indah. "Dia pasti tumbuh menjadi gadis yang cantik, polos, kalau ada orang yang menyapanya pasti dia menunduk. Dia orangnya pemalu, ah ya aku yakin dia seperti ibunya. Kesukaan ibunya bakso, aku masih ingat makanan yang waktu itu aku tidak tau makanan apa itu. Tetapi gadis itu mengenalkan bakso itu pada ku." Tuan Azraf tertawa. Ia teringat dengan Puspitasari yang menarinya makanan aneh.
Ini enank tuan ...
Hazel menunduk, hatinya mendadak sesak mendengarkan suara tangisan tuan Azraf, ternyata inilah kelemahannya dari dulu.
"Dia mudah tersenyum,"
Dada Hazel terasa terhimpit, ia kira kisah tuan Azraf sama seperti Daddynya yang meninggalkannya dan ibunya, ternyata beda, di sinilah tuan Azraf dan kekasihnya berkorban.
"Aku pernah bertemu dengannya, waktu itu putri ku masih berumur 5 tahun. Tapi Sari pergi lagi dan sampai sekarang aku belum menemukannya. Aku mohon Hazel, tolong, tolong bantu Daddy, bantu Daddy, Daddy akan melakukan apa pun, tapi tolong sembunyikan dia kalau kau menemuinya. Jika ada Mommy mu tau, aku yakin putri ku dalam bahaya."
"Baik Dad," entah apa yang akan terjadi padanya setelah semuanya terbongkar. Ia merasa menjadi pria yang bresngsek menikahi kedua putri mertuanya.
"Terimakasih, Daddy berharap kau bahagia." Daddy Azraf memutuskan panggilannya, dia memijat pelipisnya dan merasakan sesak.
"Aku berharap dengan rencana ku seperti ini bisa membuat mereka bahagia."
__ADS_1
Hazel menaruh ponselnya ke atas nakas, namun saat dia ingin menaruhnya dia melihat puluhan pesan dari sang istri. Dia pun membuka pesan itu dan membaca tiap pesan yang di kirim istrinya.
"Ternyata begitu, Daddy tidak berbohong." Hazel tersenyum puas. "Besok aku akan membawa Kayla ke salon dan ke Mall."
Hazel tersenyum, ia tidak membalas pesan istrinya dan malah menutup kedua matanya.
...
Kayla mematikan kompornya, ia berniat ingin menuangkan air panas ke susu yang berada di dalam gelas itu.
"Au,"
"Apa yang terjadi?" tanya seorang pria. Dia melihat tangan kiri Kayla yang perlahan memerah. Dengan sigap pria itu mengambil panci kecil yang masih berisi air itu, ia letakkan di atas kompor dan kembali pada wanita yang berdiri tak jauh darinya.
"Apa kau tidak bisa berhati-hati?" Ada rasa sakit di hatinya melihat Kayla yang meringis dan kedua matanya mengembun.
"Tuan ada apa?" tanya seorang wanita yang memakai baju pelayan.
"Bi, kau gantikan Kayla, aku akan mengobati tangannya."
__ADS_1
Hazel manarik tangan Kayla, sepanjang perjalanan dia meniup tangan Kayla. Dia pun mengambil sebuah kotak lalu dengan cepat mengolesi kulit yang perlahan memerah itu dan meniupnya.
"Lain kali hati-hati, jangan lakukan apa yang kamu tidak bisa dan jangan memaksa melakukan apa pun yang membahayakan mu."
Bukannya menjawab atau mendengarkan, justru Kayla menikmati wajah tampan di depannya. Bahkan harum aroma shampo di rambutnya yang basah menyeruak memasuki tenggorokannya.
"Kay,"
Hazel mengangkat wajahnya, kedua maniknya menatap dalam kedua manik milik Kayla, sebuah debaran aneh kembali tercipta, membuat keduanya mematung dalam mengagumi keindahan di depannya.
"Ah, maaf." Kayla menarik tangannya dan membuang wajahnya.
Hazel tersenyum, ia seolah tersihir dalam hitungan detik saat melihat wajah Kayla. "Aku akan mengantar mu ke kampus dan pulangnya aku akan menjemput mu."
"Tidak usah, itu kan Nyonya ..."
"Kay, turuti saja perintah ku." Hazel berdiri, tangannya langsung mengelus pucuk kepala Kayla. Hazel pun melangkahkan kedua kakinya. Ia bermaksud ke lantai atas untuk mengambil tas kerjanjanya.
"Tuan, apa tuan bisa bersikap seperti biasa saja?"
__ADS_1