Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
#part43 : Memanas


__ADS_3

Bagaikan hantaman ombak yang menerjang tubuhnya, Kayla langsung lemas seakan tak bernyawa. Ternyata selama ini ia di tipu, ia memukul dadanya yang terasa sesak.


"Ya Tuhan ..."


Daddya Azraf pun tak bisa mengatakan apa pun, ia tau Hazel. Sekalipun Hazel sangat ia benci karena putrinya, tapi rasanya ia tak mempercayainya sampai harus memainkan nyawa seseorang.


"Argh!!!"


Kayla ingin berteriak sekeras mungkin, seandainya bisa, ia ingin membuang kulitnya. Ia merasa jijik pada tubuhnya sendiri. Kenapa? Kenapa ia harus terlena. Tanpa sadar kukunya yang tajam mencakar kedua tangannya.


"Kayla!! Hentikan!!" Tuan Azraf melihat lima cakaran di masing-masing lengan Kayla. "Apa yang kau lakukan?"


"Aku jijik, aku jijik pada tubuh ku sendiri." Kayla menjambak rambutnya, bagaikan orang gila. Ia sangat membenci tubuhnya sendiri.


Tuan Azraf mengguncang tubuh Kayla. "Hentikan!! Lihat Papa! Kau sudah memiliki Ghava, tidak mungkin kau membebci Ghava."

__ADS_1


Sejenak Kayla mematung, tuan Azraf langsung memeluk tubuh putrinya. "Jangan sampai Ghava tau melukai tubuh mu sendiri, Ghava akan beranggapan kau juga membencinya."


Sekalipun dadanya sesak, ia tetap harus kuat merengkuh tubuh Kayla. Putrinya hanya memiliki dirinya dan Ghava, ia selalu berdoa meminta kesehatannya untuk menjaga Ghava dan Kayla.


"Kay!!"


"Ada apa ini Om?" tanya Rio. Setelah kepulangan Hazel, ia menyusul Ghava ke kamarnya dan menenangkannya. Mendengar teriakan Kayla, ia dan Ghava bergegas keluar kamar.


"Ma..." Ghava melihat kedua tangannya yang penuh luka. "Om Rhion, tangan Mama terluka."


"Ya ampun, Om ambil kotak obat dulu."


Kayla memeluk Ghava dengan erat, mengusap pelan rambut Ghava. "Maafkan Mama sayang, ini salah Mama."


Ghava membalasa pelukan Kayla, namun matanya sangat tajam. Dadanya menaruh kebencian pada pria yang telah membuat Mamanya tersayangnya menangis. "Ini salahnya Ma."

__ADS_1


Kayla mengurai pelukannya dan menggeleng. "Tidak sayang, dia Papa mu."


Ghava menggenggam tangan Kayla dan menciumnya. "Dia tidak pantas di panggil Papa karena sudah membuat Mama dan Ghava menderita, ya mereka bilang Ghava anak haram. Tapi Ghava tahan, selagi Ghava mampu. Mama pernah bilang abaikan orang yang menggunjing mu dan Mama tau, Ghava menganggap mereka seekor anjing yang menggonggong."


Kayla tercengang dengan ucapan Ghava, ia tidak pernah mengatakan apa pun pada Ghava selain untuk mengabaikan perkataan orang yang menghinanya. "Sayang kamu,"


Tuan Azraf menggeleng, "Jangan sekarang, Ghava masih tertekan. Pelan-pelan kau nasehati dia."


...


Di sebuah mobil taksi, Adel tertawa senang. Dia melihat keluar jendela, keadaannya saat ini memanas, ia menyalakan kobaran api antaran Kayla dan suaminya. Selama ini ia telah menahannya, menatap sakit saat suaminya memandang foto Kayla. Ia bertahan dan kadang membuat ulah, suaminya tidak terlalu suka dengan pakaian yanh sangat minim, kadang suaminya menegurnya dan merayunya untuk tidak keluar dengan pakian yang kurang bahan. Namun sekarang, sekalipun ia berpakaian minim, suaminya hanya menegurnya sekali, merayunya pun enggak.


Ia pun menghubungi Adam, ia ingin tau keberadaan suaminya.


"Adam, aku sekarang berada di Jakarta dan kalian berada di mana?"

__ADS_1


Adam melirik bosnya yang tampak kacau, jangan tanyakan lagi keadaan bosnya. Dia kini berhenti menangis setelah meraung-raung, pakaiannya pun terlihat kusut, bahkan bosnya tidak mau di obati wajahnya.


"Bos, Nyonya Adel berada di Jakarta."


__ADS_2