
Kayla menikmati sinar pagi di daerah Ibu Kota jakarta. Tangannya menghalangi cahaya matahari yang menerpa wajahnya, dia mengintip lewat jari mungilnya. Sedangkan sebelah tangannya memegang sebuah selang.
Pagi ini Kayla menyibukkan dirinya dengan menanam bunga. Mamanya sangat menyukai bunga bahkan ia pernah berpikir untuk membuka toko bunga.
"Sayang, kau sibuk?" tanya tuan Azraf. Dia duduk di teras samping. Sudah ada teh hangat dan sebuah koran.
"Papa tidak bekerja?" tanya Kayla. Tuan Azraf telah mengatakan kalau dia memiliki anak perusahaan di Jakarta. Jadi dia akan mengelolahnya, sedangkan di paris dia meminta sang asisten yang membantu mengelolahnya.
Tuan Azraf tersenyum, dia menaruh koran yang sempat dia buka. Mana mungkin dia meninggalkan Kayla begitu saja. Hatinya tidak tenang, ia takut Mommy Mona dan Adel mengganggu Kayla. Memang ada beberapa bodyguar yang ia sewa, bahkan pengawal pribadi Kayla sendiri, tapi hatinya masih belum bisa tenang.
"Tidak, Papa ingin menemani mu."
Kayla mematikan kran di halamannya. Walaupun masih tersisa rasa panas dan sakit tapi bukan berarti ia harus membuat sang ayah bersedih. "Papa mengkhawatirkan Kayla?" tanya Kayla. Dia duduk di depan tuan Azraf, hanya meja bundar yang menjadi pemisah antara keduanya.
"Iya, putri ayah sangat berharga." Sahut tuan Azraf.
__ADS_1
Kayla berpindah, dia berjongkok di depan kaki tuan Azraf dan mendongak. "Papa jangan khawatir, Kay baik-baik saja."
"Ah benar putri Papa sangat kuat." Tuan Azraf mencubit hidung mungil Kayla. "O iya sayang, Papa berniat untuk memindahkan kuliah mu ke Jakarta."
"Iya Pa, Kay tidak sabar untuk kuliah." Kayla tersenyum.
"Iya sudah, nanti papa pertemukan dengan pengawal pribadi mu. Semoga kau menyukainya,"
"Kayla baik-baik saja Pa, kenapa harus menyewa pengawal pribadi segala?" Kayla merasa risih kalau kemana pun ia harus di buntuti.
"Demi kebaikan mu, Papa tidak menjamin Adel dan Mona tidak mengusik mu. Apa lagi Hazel memanjakan keduanya. O iya, apa kau siap berpisah dengan Hazel? Kau tidak mencintainya?"
"Papa menyayangi mu."
....
__ADS_1
Di sisi lain.
Seorang pria tengah berkutat dengan beberapa dokumen di depannya. Waktu telah menunjuk pukul 01.00 pas, namun pria itu, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa lelah. Seolah pekerjaan adalah kehidupannya yang paling melekat dan utama.
Dia mengambil segelas air di depannya yang tak jauh darinya dan meneguknya setengah. Dia pun melanjutkann pekerjaannya lagi.
Drt
Sebelah tangan kekarnya mengambil gawai yang berbunyi di depannya. Lalu mengangkatnya, "Iya,"
"Sayang kau tidak pulang?" tanya wanita di seberang sana.
"Maaf, kau tidurlah dulu. Aku harus mengerjakan beberapa pekerjaan lagi." Hazel memijat keningnya.
Adel menghela nafas, tidak biasanya suaminya memilih melanjutkan pekerjaannya di kantor. Biasanya, Hazel selalu membawa pulang pekerjananya dengan alasan ingin menemaninya. Ya kadang ia menemani Hazel, bahkan pria itu tak sempat melanjutkan pekerjaannya demi menemaninya. "Baiklah,"
__ADS_1
Adel menutup panggilannya, dia menatap foto pernikahannya dengan Hazel. Tiba-tiba ia merindukan tuan Azraf, sekalipun tuan Azraf bersikap dingin tapi ia sangat menyayanginya. "Aku ingin bertemu dengannya." Kedua air matanya mengalir, ia sangat ingin mendapatkan kehangatan dari tuan Azraf.
...