
"Ghava," sapa Hazel. Ia sampai tepat jam pulang sekolah Ghava dan melihat putranya duduk sendirian dan ada beberapa teman yang berdiri tak jauh darinya. Hazel berjongkok, bocah di depannya malah melengos dengan hati sakit. Kedua matanya berkaca-kaca. "Sayang, kau tidak ingin melihat Papa?"
"Eh Ghava, laki-laki itu siapa? Papa mu ya? Mama mu nikah lagi cariin Papa buat kamu. Kasian sekali kamu,"
Ghava mengepalkan kedua tangannya, hidungnya kembang kempis ingin menangis.
"Adek-adek, Ghava itu memiliki Papa dan saya Papa aslinya, kalau kalian mengganggu Ghava lagi ...."
Kedua bocah seumuran Ghava saling berpegangan tangan dan gemetar ketakutan, yang ia lihat bukan manusia melainkan monster dengan mata yang bersinar terang.
Kadua bocah itu pun langsung berlari kencang, bahkan salah satu dari mereka ada yang jatuh dan membuat Hazel bernafas lega.
"Ghava, kau tidak apa-apa sayang." Hazel mengelus pipi Ghava perlahan menarik wajahnya untuk melihat ke arahnya. Ghava menangis, putranya menangis hatinya sangat perih melihatnya. Sakit, jadi selama ini Ghava menerima penghinaan seperti ini karenanya. "Sayang, maafkan Papa."
Hazel memeluk Ghava dengan erat dan menangis dalam pelukannya. "Maafkan Papa sayang."
__ADS_1
"Papa gak sayang Ghava,"
"Tidak sayang, tidak benar. Papa sangat menyayangi mu, mencintai mu."
Hazel mengusap air mata yang tumpah ke pipinya, ia mengecup pipi Ghava dan keningnya. "Maafkan Papa sayang, Papa tidak akan meninggalkan mu."
"Papa bohong, Papa ninggalin Ghava demi istri Papa yang lain. Papa gak sayang Ghava."
Perih, bagaikan petir yang menyambar hatinya. Ia sangat menyesali keputusannya tanpa memikirkan hati putranya. "Maafkan Papa, maukah Ghava menerima permintaan maaf Papa. Papa janji akan membahagiakan Ghava, berikan kesempatan untuk Papa."
"Tapi Papa bukan milik Ghava, bukan seutuhnya milik Ghava dan Mama."
Ribuan anak panah yang membawa api menghancurkan hatinya. Begitu panas dan sakit. "Sayang, Papa menyayangi Ghava dan Papa berjanji tidak akan meninggalkan Ghava."
Hazel mencium telapak tangan Ghava, pipinya ia samdarkan pada tangan mungil putranya. "Kalau begitu, ikut Ghava pulang ke rumah Mama." Ajak Ghava. Kalau pun Papanya memilihnya, berarti dia akan ikut dengannya.
__ADS_1
Hazel tersenyum, ia sudah memantapkan pikiran dan hatinya. "Iya sayang, Papa ikut dengan mu. Tetapi, kalau Mama dan Kakek menyerang Papa. Ghava harus menjadi pahlawannya ya, buat melindungi Papa."
Ghava tersenyum, ia langsung memeluk Hazel. Ia tidak bisa berbohong kalau ia menginginkan sanga ayah kembali ke dalam pelukannya, pelukan Mamanya.
"Ayo pulang sama Papa,"
Dengan senang hati Ghava menaiki mobil milik Hazel dan duduk di pangkuannya. Hazel dengan senang hati mengalihkan pembicaraannya dengan menanyakan tentang Ghava, kesukaan makannya, apa yang Ghava sukai, kesukaan Kayla. Tak pernah bosan ia mendengarkan cerita Ghava hingga sampai di kediaman tuan Azraf.
Adam turun dari mobilnya dan mengatakan pada dua satpam, dua satpam itu pun membukakan pintu, terpaksa mereka melakukannya karena permintaan Ghava dan mendengarkannya sendiri.
...
"Au sakit," Kayla merasa sakit di kaki kanannya, karena menangis ia terpeleset dari anak tangga dan membuat kaki kanannya membengkak.
"Rio, kau jemput Ghava. Aku hari ini tidak bisa menjemputnya. Jangan pedulikan aku, aku baik-baik saja," ucap Kayla. Dia melihat jam di ponselnya dan sudah terlewat beberapa menit.
__ADS_1
"Iya, aku jemput Ghava dulu."
"Mama ....."