
Tubuh Kayla bergetar, kedua kakinya terasa lemas seakan tak menyentuh lantai, pijakan kakinya terasa melayang. Dia menurunkan tubuh Ghava tepat di samping mobilnya, dengan perasaan berkembuk kedua air matanya mengalir dan kedua lututnya yang menyentuh lantai.
"Mam," suara lembut, suara yang menghangatkan hatinya. Sebuah suara yang menjadi kekuatan hidupnya. "Mam, Mama kenapa?" Hidunganya kembang kempis, bibirnya melebar dan kedua matanya berair.
"Sayang," Kayla menarik Ghava masuk ke dalam pelukannya, air mata beningnya membelah kedua pipinya. "Sayang, berjanjilah jangan pernah meninggalkan Mama."
"Ghava janji Ma," Ghava memeluk erat tubuh lemah sang Mama, seorang wanita yang seperti malaikat.
"Kita pulang sayang," Kayla membuka mobilnya. Hari ini ia dan Ghava sengaja keluar tanpa di jaga oleh Rio. Ibu dan anak itu ingin keluar bebas, namun siapa sangka justru malah bertemu dengan seseorang yang menyakitkan.
"Mam," Ghava menatap Dinosaurus di tangannya, ia memikirkan pria yang tadi. Pria itu menangis dan Mamanya menangis. "Tadi, laki-laki itu siapa Ma? Apa Mama mengenalnya?" Ghava menoleh, mecari jawaban dari sang Mama.
"Ghava dengarin Mama, kalau kamu bertemu dengan pria itu. Kamu harus berlari, jangan mau memeluknya. Dia laki-laki yang tidak baik, dia laki-laki jahat," ucap Kayla dengan nada tegas.
"Baik Ma," ucap Ghava menurut. Ia tidak mau mamanya sedih dan khawatir padanya.
Kayla memarkirkan mobilnya, dengan cepat memutari mobil hitamnya, kemudian mengambil tubuh Ghava.
__ADS_1
"Pa ...." Kayla berlari dan memanggil tuan Azraf. Ia menaruh Ghava di sofa ruang tamu, mengambil ponselnya dan menghubungi tuan Azraf. "Pa ..." Kayla menangis dengan suara bergetar membuat pria di seberang sana khawatir.
"Kay, ada apa?" Rio tampak khawatir. Bibi Mirna tadi memberitahunya kalau Kayla menangis setelah keluar dari mobilnya. Ia langsung berlari menghampiri Kayla yang menangis tergugu.
"Kay,"
Kayla menggeleng, ia tidak bisa tenang setelah kedatangan Hazel. Apa lagi Hazel sepertinya tau tentang Ghava.
"Kayla!!"
"Papa!!" Kayla berhambur memeluk tuan Azraf yang masih memegang tas kerjanya. Segera Bibi Mirna mengambil tas kerja milik tuan Azraf.
Tangan Kayla menunjuk ke luar, rasa sakit yang luar biasa itu membuat bibirnya terasa berat mengucapkan nama Hazel.
"Kakek, tadi ada seorang laki-laki dan Mama bertemu dengannya, lalu Mama menagis." Tutur Ghava.
Seketika raut wajah Tuan Azraf pias. "Hazel??"
__ADS_1
Kayla mengangguk, tuan Azraf langsung memeluk putrinya. "Rio, perketat penjagaan. Aku tidak mau pria jahat itu menerobos masuk."
"Baik tuan," ucap Rio. Ia bergegas pergi mengumpulkan beberapa penjaga agar jangan sampai lengah.
Tuan Azraf menggiring tubuh Kayla ke sofa, Bi Mirna pun datang membawa segelas air putih. Tuan Azraf mengambilnya dan membantu Kayla minum.
"Jangan khawatir, dia tidak akan berani menyentuh mu, Papa akan melakukan apa pun demi melindungi mu."
"Kakek, laki-laki tadi siapa? Kenapa Mama menangis dan laki-laki itu menangis?" tanya Ghava. Sebagai seorang anak kecil, rasa penasaran dan keinginan taunya tidak bisa di hilangkan. Ia belum puas dengan jawaban sang Mama.
Tuan Azraf menghela nafas. "Dia ayah kamu, ayah yang telah menelantarkan kamu dan Mama mu. Dia tidak pernah menganggap mu ada. Dia memilih wanita lain dan meninggalkan Mama mu pada saat tengah mengandung mu." Tutur Tuan Azraf. Seorang anak kecil mudah sakit hati, sebagai seorang kakek tentu ia tidak tega menyakiti cucunya, tapi apalah daya, ia harus melakukannya agar Ghava menolak pria bajingan yang telah menyakitinya.
"Jangan pernah percaya omong kosongnya, Ayah mu memiliki istri lain."
Ghava meremas kotak mainan di depannya, hatinya begitu sakit, ternyata inilah alasan Mamanya kadang sedih, bahkan menangis ketika menanyakan keberadaan Ayahnya. Bahkan selama ini pernah dia mendapatkan gunjingan dari beberapa temannya.
Bahkan inilah alasannya, kenapa beberapa hari ini ia malas sekolah.
__ADS_1
"Jangan menerimanya di dalam hati, dia tidak pantas menjadi ayah mu."