
Kayla mengajak Ghava gosok gigi, kemudian membaringkan bocah imutnya ke atas tempat tidur. Dia menarik selimutnya sampai ke dada Ghava. Kemudian menyandarkan punggungnya ke sisi ranjang di samping Ghava. Ia mengambil buku dongeng di laci.
"Ma, mana papa?" tanya Ghava. Malam ini ia ingin tidur bersama dengan papa dan mamanya.
"Papa pasti sibuk, kan Ghava tau sendiri. Tadi Papa mencuci piring," ucap Kayla. Tadinya ia ingin mencuci piring sambil membantu Bibi Mira. Akan tetapi, Hazel malah menyuruhnya menemani Ghava dan menggantikannya membantu Bibi Mira.
Dia pun menurut, membiarkan Hazel mengambil pekerjaannya. Lagi pula Hazel seorang tamu dan hanya menumpang.
krek
Hazel muncul dari arah pintu membuat Ghava mendadak bangkit. "Papa,"
"Ghava," Hazel pun masuk ke dalam selimutnya. "Ghava belum tidur?" tanya Hazel.
"Tidak, Ghava nunggu Papa."
"Benarkah?" Hazelm menarik hidung mancung putranya itu.. "Imutnya anak Papa."
"Ih," Ghava memukul tangan Hazel yang menarik hidungnya. Kemudian mengelus hidungnya. "Ini kalau kelewat mancung jadi jelek Pa." Kesalnya sambil memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
Hazel tertawa, ia membaringkan tubuhnya, kedua tangannya menyilang dan menjadikan bantal kepalanya. Ghava ikut berbaring dan menatap pada Kayla yang sejak tadi termenung.
"Mama kok bengong, lanjutin gih ceritanya."
"Ah iya sayang," ucap Kayla. Dia melirik Hazel yang tak bertegur sapa padanya. Ia pun tak peduli dan melanjutkan cerita dongen sesuai kesukaan putrnya, cerita si kancil.
Hingga beberapa menit kemudian, ia melirik putranya yang memejamkan kedua matanya. Ia menutup buku dongen itu, kemudian menaruhnya di atas nakas, lalu beralih pada rambut Ghava. Ia mengelus pucuk kepalanya dan menciumnya. "Selamat tidur sayang."
Kayla melirik ke samping, melihat Hazel yang ikut memejamkan matanya, membuatnya mengukir sebuah senyuman. Ia turun dari ranjangnya, memutar ranjangnya dan membenarkan selimut menutupi hingga ke dada Hazel.
Ingin sekali ia mengucapkan selamat tidur, namun bibirnya terasa berat dan hanya mampu mengucapkan dalam hatinya.
Kayla menoleh, "Kau butuh sesuatu?" tanya Kayla.
Hazel menggeleng, ia langsung memeluk tubuh Kayla, menyandarkan kepalanya ke perut Kayla. "Maafkan aku, jangan mengusir ku dari sini. Berikan aku kesempatan, aku ingin memulai kehidupan awal bersama mu Kayla. Demi Ghava, setidaknya demi Ghava," ucap Hazel. Hatinya seperti di peras, di iringi air mata yang mulai membanjiri kedua pipinya.
Kayla menggerakkan tangannya membelai kepala Hazel. "Kau bisa tinggal di sini dan untuk penawaran mu. Aku akan memikirkannya, aku ingin kau menyelesaikan dulu permasalahan mu dengan Adel." Kayla menekan rasa sakitnya, melihat Ghava yang tersenyum ia tak bisa menggunakan keegoisannya. Ghava sangat membutuhkan keluarga yang lengkap, dulu sempat ia berpikir untuk menikah lagi. Namun Ghava menolaknya, dia memang dekat dengan Rio. Tapi ketika tuan Azraf ingin menjadikan Rio sebagai ayah sambungnya, Ghava menolaknya dengan tegas.
"Kau temani Ghava, dia pasti merindukan mu."
__ADS_1
Hazel melerai pelukannya. "Kau juga ikut tidur menemani Ghava. Dia pasti merindukan keluarga yang lengkap."
"Baiklah," ucap Kayla. Dia menyingkap selimutnya dan membaringkan tubuhnya. Memejamkan kedua matanya.
Namun nyatanya, kedua matanya tak bisa terpenjam. jantungnya terus berdebar-debar, seranjang dengan Hazel membuatnya tak bisa tidur. Baru kedua kalinya ia tidur seranjang dengan Hazel.
Begitupun dengan Hazel, ia tak bisa memejamkan kedua matanya. Sesekali ia melirik Kayla yang memejamkan kedua matanya. Ia meraba dadanya yang berbunyi itu.
"Sepertinya malam ini aku tak bisa tidur," gumamnya pelan.
....
Silau matahari mulai memasuki celah-celan jendela, udara sejuk namun terasa hangat. Sepasang insan itu saling berpelukan, mengeratkan pelukannya yang terasa hangat dan nyaman.
emmm
Seorang wanita melenguh dengan suara merdunya. Pria dalam pelukannya tersenyum. Beberapa kali dia mencium keningnya dan mengecup singkat bibir manisnya.
Pria yang terbangun sejak tadi itu merasa senang melihat pemandangan yang selalu ia harapkan dan inginkan. Baginya saat ini terasa sebuah mimpi, ia tak ingin mimpinya pudar dan menghilang. Ia bersyukur ternyata bukanlah mimpi, namun kenyataan.
__ADS_1
"Aku mencintai mu, Sweetie Pie."