Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
part42 : Penyesalan Datanganya Terlambat


__ADS_3

Kayla memejamkan kedua matanya, ayahnya memukul Hazel bagaikan orang kesetanan. Ia membuka kedua matanya dan melihat Rio dan Adam tetap berdiri, tak ingin melerai atau menghentikannya.


"Cukup Pa!" Kayla melangkah ke arah Hazel, ia pun menarik tuan Azraf. "Cukup Pa, dia bisa mati di sini. Aku tidak mau darahnya mengotori lanti ku."


Hazel merangkak, dia hendak memegang kaki Kayla. Namun Kayla secepat kilat memundurkan langkahnya. Hingga Hazel mendongak dan mengatupkan kedua tangannya.


"Maafkan aku Kay, aku ... Aku ... Ingin bertemu dengan putra ku."


Kayla mengepalkan kedua tangannya, tersenyum miris dan pahit. Bahkan kejadian malam itu bagaikan ombak yang menerjangnya, ia akui memang ia terbuai, tapi tidak seharusnya Hazel tidak ingin menginginkan anaknya.


"Kau ingin bertemu dengan putra mu, kemana saja selama ini? Meminta maaf, apa permintaan maaf mu bisa mengubah kesakitan Ghava, kesepian Ghava, ya kau ingin menggantinya, tapi Ghava tidak membutuhkan mu. Ghava tidak butuh orang yang tidak menginginkannya."


Bagaikan tamparan yang menacap di ulu hatinya. "Kau boleh tidak memaafkan aku, tapi jangan mengusir ku untuk bertemu Ghava."


"Aku tidak ingin bertemu dengan Om, aku tidak punya Papa, Papa ku udah meninggal." Ghava langsung berlari ke manaiki anak tangga. Karena penasaran seperti apa sosok wajah ayahnya, ia jadi tau. Kalau ternyata orang yang ia kasihi di toko tadi, ternyata adalah orang yang tidak menginginkannya.


Ghava menaiki ranjangnya dan menangis pilu, rasa sesak tidak di akui oleh ayahnya bagaikan pedang yang ingin membunuhnya. Selama ini ia selalu cemburu melihat orang lain pulang sekolah di jemputa ayahnya, ia ingin kehangatan itu, ia ingin seperti lainnya. "Tuhan ini sakit,"

__ADS_1


"Bos," Adam melangkah cepat, saat tubuh bosnya terguling beberapa langkah dari anak tangga yang hendak mengejar tuan mudanya.


"Adam, sebaiknya kau bawa pria bajingan ini." Suruh tuan Azraf.


Adam membantu Hazel berdiri, pria itu mendorong tubuh Adam dan memaksa untuk melihat Ghava. "Pergi! Aku ingin bertemu dengan putra ku. Dia, dia membenci ku."


"Tuan kita pulang dulu, obati luka tuan baru kita memikirkan tetang tuan muda."


"Kau pikir siapa? aku harus bertemu dengan Ghava."


"Tuan saya mohon, tolong berpikir jernih. Hari ini tuan muda Ghava tidak bisa di temui. Biarkan hati tuan muda Ghava tenang dulu." Nasehat Adam.


"Asalkan dia mau menemui mu." Sarkan tuan Azraf.


Sedangkan Kayla tak sedikit pun dia menoleh atau merasa iba, terlanjur sakit membuatnya tak ingin lebih menatap Hazel. Pria di depannya memberikannya kehangatan, namun di hempaskan ke dasar dinginnya yang seakan membunuhnya.


...

__ADS_1


Tuan Azraf langsung memeluk Kayla, ia mengelus punggung Kayla. Kedua mata tuanya juga tak bisa membendung air matanya, ia merasa terpukul dengan kedatanhan Hazel.


"Pa ..."


Kayla menoleh, tuan Azraf melepaskan pelukannya. Kedua manatap tak percaya pada seorang wanita di depannya. Baru tadi suaminya, sekarang istrinya. Apa sepasang suami istri ini memang berniat menghancurkan hati putrinya?


"Mau apa kau datang kesini?" tanya tuan Azraf. "Pergi! Aku tidak ingin melihat mu." Usirnya sambil menunjuk ke arah pintu.


Hati Adel mencolos, ia tetap melangkah mendekati papanya dan adik tirinya. Melihat Kayla yang menangis pasti ada drama hebat yang telah terjadi, ia yakin Hazel pasti sudah datang. Beruntungnya, ia juga menyusul Hazel menemui Kayla, ia tidak ingin mereka rujuk.


Justru ia akan menambah kadar kebencian Kayla dan papanya. "Aku tidak ingin apa pun, tapi aku ingin mengatakan satu hal, Hazel berbohong pada mu Kayla, sebenarnya dia tidak merawat Mama mu dengan sungguh-sungguh, dia memerintahkan Dokter bersandiwara seakan merawat Mama."


Kayla mencengkaran lengan tuan Azraf, syok, ia jelas sangat syok. Kebohongan apa lagi yang Hazel berikan padanya?


"Jadi, apa kau masih mau menerima Hazel orang yang telah mencelakai Mama mu?"


"Seharusnya aku membunuh saja pria itu? Aku akan mencarinya dan kau, penjelasan mu sudah cukup. Aku rasa kedua mata mu tidak buta, silahkan keluar. Pintunya ada di depan sana."

__ADS_1


Adel menatap Kayla dan tuan Azraf bergantian, ia langsung pergi meninggalkan mereka. Setidaknya ia sudah melakukan langkah terakhirnya.


__ADS_2