Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
part41 : Permohonan Maaf Hazel


__ADS_3

"Pa ..." Kayla memegang lengan tuan Azraf dan meggeleng pelan. Ia berharap sang papa tidak menceritakan semuanya.


"Tidak sayang, Ghava harus tau."


"Jadi aku anak yang tidak di harapkan?"


Kayla beranjak, kemudian berjongkok di depan Ghava. Ia tidak rela bocah seumuran Ghava harus menerima kesakitan yang mendalam. "Tidak sayang, kamu tidak boleh membenci papa mu."


"Mama jangan berbohong, pria itu kan yang membuat Mama sedih. Pria itu kan yang tidak mau dengan Ghava?"


"Kamu anak Mama, Mama sayang sama Ghava. Tidak ada orang yang tidak mengharapkan Ghava." Kayla kembali memeluk Ghava, ia tidak mau Ghava tumbuh dengan menyimpan kebencian pada Hazel.


Ghava mengepalkan kedua tangannya dan menatap ke arah sang kakek. "Tenang saja Kek, aku tidak akan mengakuinya sebagai ayah ku, ya ayah ku sudah mati."


Ghava menyingkirkan tubuh Kayla, kemudian berlari ke kamarnya dan menutup pintunya dengan kasar.


"Sayang .." Kayla berdiri hendak mengejar putranya. Namun tuan Azraf dengan sigap menahan lengan Kayla.


"Biarkan Ghava merenungi perkataan Papa Kay,"


"Tapi Pa,"


"Tuan Azraf," seru Rio menghentikan ucapan mereka. "Di luar ada tuan Hazel." Seru Rio. Meskipun ia tidak menyukai Hazel, namun ia harus mengatakan kedatangan Hazel. Sebagai seorang pengawal, ia tidak boleh langsung menolak dan membawanya masuk.


"Akhirnya dia datang juga, mari kita lihat seberapa tebal wajahnya. Biarkan dia masuk dan kamu Kayla, kamu harus menghadapi Hazel, kamu mengerti kan?"

__ADS_1


Kayla meremas dressnya di liputi perasaan kalut dan mengangguk sebagai tanda jawabannya.


...


Rio menyuruh dua pengawal membuka pintu gerbang, dua orang pria pun masuk. Hazel di ekori Adam. Kedua pria itu sejenak menatap Rio. Hazel memaksa kakinya melangkah memasuki area rumah berlantai dua itu. Rumah yang tak begitu mewah namun terasa memiliki kehidupan. Ia terus melangkah sesekali ia Hazel menghapus air matanya dengan lengannya.


Rasa sakit dan kerinduan yang bertahun-tahun ia pendam, kini bercampur aduk. Ia tidak bisa mengekspresikan wajahnya. Betapa ia merindukan mantan istrinya dan anaknya.


Deg


Deg


Deg


Hazel menaiki anak tangga satu per satu, dengan perasaan pahit, tepat di depan pintu ia menghentikan langkahnya. Sejenak menarik nafasnya dalam-dalam, akhirnya kakinya melangkah dan memasuki pintu.


Tap


Kedua kakinya berhenti tepat di depan Kayla, hanya meja panjang yang memisahkan jarak di antara keduanya. Hatinya berdenyut nyilu saat melihat Kayla yang sama sekali tak meihat ke arahnya. Ia pun menoleh pada tuan Azraf, mantan mertuanya.


"Om," suara Hazel lirih, nyaris tak terdengar.


Namun memiliki pendengaran yang tajam, tuan Azraf mendnegarkan Hazel memanggilnya.


"Untuk apa kau datang kesini?" tanya tuan Azraf datar dan dingin seakan menusuk sampai ke tulang Hazel.

__ADS_1


Bruk


Hazel menjatuhkam tubuhnya, ia duduk di lantai seakan bersujud di depan Kayla dan tuan Azraf.


"Maafkan aku Om,"


"Hubungan kalian telah usai, kata maaf itu aku kembalikan." Tanpa melihat ke arah Hazel.


Pria yang di sapa Hazel terus menatap wanita yang pernah singgah bersamanya walau hanya beberapa saat. Pertemuan singjat itu menumbuhkan rasa cinta di hatinya, menggeser nama adel yang menghiasi hatinya.


"Aku mencintai Kayla Om."


Rahang tuan Azraf mengeras, sebagai seorang ayah ia tidak terima putrinya di cintai oleh Hazel, pria yang telah menyiksa putrinya. Dalam sekali pukulan, sudut bibir Hazel berdarah. Tangan tuan Azraf menarik kuat kerah kemeja Hazel dan melayangkan pukulannya yang kedua kalinya.


"Bajingan, kau pikir mulut mu harum, tapi ternyata mulut mu busuk. Aku, sebagai ayah dari Kayla Azraf tidak menerima cinta dari mulut kotor mu itu, bahkan kotoran anjing lebih baik dari dirimu."


Adam meringis, namun ia menahannya. Sang tuan telah memerintahkannya untuk tidak ikut campur sekalipun mendapatkan amukan dari keluarga Kayla bahkan nyawanya sekalipun berada di ujung tanduk.


"Pria kotor seperti mu, kenapa tidak mati saja. Dengan begitu aku bersyukur."


"Maafkan aku Om,"


Buk


Buk

__ADS_1


Buk


Tuan Azraf bagaikan orang gila memukul wajah Hazel, ia tidak peduli sekalipun wajah Hazel hancur lebur. Kata maaf tak bisa menggantikan kata sakit dari hatinya.


__ADS_2