
Seorang pria tengah menatap seorang wanita dan seorang anak kecil lewat jendela kaca mobilnya yang di buka separuh. Kedua matanya tak lepas dari pasangan ibu dan anak itu. Dia menopang dagunya, kedua matanya telah mengeluarakan air bening dan hangat.
"Dia putra ku," ingin sekali ia keluar dan menghampiri keduanya. Ingin sekali ia merangkul anaknya. Sesaknya sangat menyakiti ulu hatinya, bagaikan samurai mengoyak hatinya.
"Tuan ingin kelua?"
Hazel menghapus air matanya, ia pun memasang kaca mata hitamnya dan memakai sebagai penyamaran sempurna.
Hazel mencari beberapa mainan laki-laki, ada robot kecil yang dan mobil-mobilan. Banyak sekali berupa mainan khusus laki-laki.
"Mam, aku ingin ini."
Hazel meneguk ludahnya susah payah, ia melangkah ke rak sebelah di depannya.
Dia pun berjalan dan melirik anak kecil di sebelah Kayla.
"Mam, aku ingin pinguin ini, ini dinosaurus."
"Jangan sayang beli yang lainnya, di rumah sudah banyak dinosaurus milik mu."
Bocah gembul yang di sapa Ghava itu mengerucutkan bibirnya. "Aku mau itu Mam,"
__ADS_1
Dengan berat hati Ghava menaruh Dinosaurus ke raknya.
Hazel melihat Kayla yang menjauh, ia pun menghampiri Ghava. Ini kesempatannya untuk mendekati Ghava. "Kau menyukainya?"
Ghava mendongak, Hazel menurunkan tubuhnya dan duduk berjongkok.
Ghava menatap aneh pria berkacamata di depannya. Ibunya pernah berpesan jangan dekat-dekat dengan orang asing, bisa saja seorang penculik.
"Om penculik?" Tanya Ghava dengan polos.
Hazel terkekeh kecil, "Apa Om seperti penculik?" Tanya Hazel. Hatinya seperti di tancap oleh belati saat anaknya memanggilnya sebutan Om.
Tangan Hazel terulur mengelus Ghava. "Kau mirip seperti anak Om," ucap Hazel. Dia membuka kedua matanya dan di sudut matanya telah menggenang air bening.
Ghava menghapus air mata di sudutnya itu. "Kemana anak Om?" Tanya Ghava. Ia merasa kasihan pada pria di depannya. Terasa asing, namum seolah ia telah mengenal lama.
"Anak Om pergi, Om selalu mencarinya dan menemukannya. Tapi Om takut menghampirinya, Om takut dia benci pada Om dan tidak mau mengakui Om sebagai ayahnya."
"Kenapa? Om sepertinya orang baik."
"Om pria yang buruk,"
__ADS_1
Hazel mengambil boneka dinosaurus yang berada dalam kotak itu. Ia pun memberikannya pada Ghava. "Maukah kamu menggantikan anak Om untuk menerimanya?"
Ghava menatap mainan yang ia sukai. "Tapi Om berjanji tidak akan bersedih lagi. Om harus menemui anak Om,"
Sayang, ini ayah Nak. Maafkan ayah, maafkan ayah.
Hazel mengangguk, "Boleh Om memeluk mu?"
Ghava yang polos mengangguk, ia ingin menenangkan pria di depannya. Tangan kecil menepuk pelan punggung Hazel. "Om tidak boleh bersedih, laki-laki harus kuat."
"Ghava!"
Tubuh Hazel menegang, Ghava melepaskan pelukannya dan menghampiri Kayla. Hazel buru-buru bangkit, ia ingin melangkah pergi. Namun hatinya terasa berat, ia ingin menemui Kayla. Ia pun memutar tubuhnya dan menatap lembut wanita yang ia rindukan.
"Hazel!" Seketika jantung Kayla terasa berhenti, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depannya. Seolah pria di depannya adalah mimpi buruh baginya.
Kayla menarik tubuh Ghava ke belakangnya, namun Hazel malah tersenyum.
"Dia putra ku kan? Dia anak ku kan?"
Bibir Kayla terasa berat, ia kedua matanya memerah. Ia pun meraih tubuh Ghava ke dalam dekapannya. Tanpa sepatah kata apa pun ia langsung pergi meninggalkan Hazel dengan air mata yang deras membasahi pipinya.
__ADS_1