Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
#part6


__ADS_3

"Sayang, kau sudah datang." Sambut seorang wanita yang memakai dress berwarna merah selutut. Dia mencium pipi kiri dan kanan Adel.


"Mom, kau sudah baikan. Ada sesuatu yang ingin aku katakan." Adel melihat kanan kiri, melihat keadaan yang aman atau tidak. "Aku sudah menemukan putri pelacur itu."


"Kau yakin?"


"Iya Mom, Hazel yang membantu ku dan ternyata sekarang si pelacur itu berjuang di rumah sakit. Dia terkena serangan jantung Mam dan saat ini belum sadar, aku harap dia mati."


"Lalu?"


Adel menarik sang Mommy menuju taman samping. "Aku mengambil kesempatan Mam, karena dia butuh uang dan aku butuh rahimnya, tapi dengan syarat dia harus mengandung anak Hazel, lalu setelahnya bercerai."


"Sayang, kau yakin Hazel tidak menyukainya. Bagaimana kalau suatu saat nanti dia menggoda Hazel?"


"Hazel sangat mencintai ku Mom, tidak mungkin. Karena bagi Hazel, akulah wanita yang pertama untuknya."


"Aku ingin bertemu dengannya dan memberi pelajaran padanya, tapi kau tidak benar-benar menyembuhkan pelacur itu kan?" tanya Mommy Mona sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak Mom," Adel tersenyum menyeringai. "Mana mungkin aku membantu orang yang sudah membuat Mom menangis dan membuat Daddy jauh dari ku. Kalau pun dia bertahan sampai saat ini, berarti dia masih beruntung."


Mommy Mona memeluk Adel. "Kau memang anak yang cerdas, tidak sia-sia kau menikah dengan Hazel, sudah kaya, tampan dan mampu memanjakan mu."


"Daddy mana Mom?" tanya Adel.


"Daddy mu sudah pergi ke kantor, kau seperti tidak tau saja Daddy mu. O iya, aku ingin ke rumah mu hari ini."

__ADS_1


"Tapi kita sarapan dulu Mom, makanya aku buru-buru ke sini hanya untuk menyampaikan kabar bahagia ini."


....


Kayla membersihkan seluruh rumah, mengepel dan membersihkan kaca, bahkan setiap kamar yang berada di kediaman Hazel, ruang kerja Hazel pun tak luput dia bersihkan, hari ini ia tidak bisa kuliah pagi dan tidak masuk kerja.


"Aku tidak bisa seperti ini terus, kalau semua pekerjaan rumah ini di berikan pada ku. Aku bisa mati," Kayla mendesah saat melihat beberapa pakaian yang belum ia cuci. Bahkan hari ini ia juga ingin bertemu dengan ibunya.


"Jangan khawatir Non, saya akan membantu Nona," ucap Bibi Lin. Sebagai seorang wanita dia kasihan pada Mikayla, gadis itu tidak pernah melawan pada Hazel dan Adel.


"Terimakasih Bi,"


"Maaf ya Non, Bibi tidak bisa membela Non."


Mikayla sangat paham bagaimana kejamnya Adel dan Hazel. Dia juga tidak mau ada orang lain yang terlibat.


Bibi Lin menoleh, dia memberikan hormat pada Mommy Mona dan Adel. Kedua wanita itu masuk ke dalam ruangan yang di khususkan untuk mencuci pakaian. Sekalipun ada mesin cuci, Adel tidak mengijinkannya dan menyuruh Mikayla untuk menguceknya.


"Apa maksdu anda?" tanya Mikayla. Dia tak tahan lagi memdengarkan ibunya menjadi bahan hinaan.


"Heh,"


Mommy Mona menatap penuh jijik, ia pun langsung melayangkan sebuah tamparan pada Mikayla dan membuat tubuh Mikayla jatuh ke lantai.


Tidak puas, Mommy Mona mencengkram kedua pipi Mikayla. "Kau, ingin sekali aku membunuh mu dan ibu mu. Gara-gara ibu murahan mu itu, suami ku berubah, bahkan ada anak yang harus di lantarkan."

__ADS_1


"Ibu saya bukan wanita murahan Nyonya. Dia orang baik."


"Orang baik? Perusak keluarga orang bukan orang baik." Mommy Mona beralih menarik kuat rambut Mikayla. "Dasar wanita iblis,"


"Jangan pernah menghina ibu saya, ibu saya lebih baik dari pada Nyonya atau jangan-jangan, Papa saya menyukai ibu saya karena ibu saya lebih baik dari Nyonya."


Plak


Perkataan Mikayla membuat kedua wanita itu tersulut kemarahan. Mommy Mona dan Adel merasakan dadanya sesak, seluruh darahnya seakan memanas dengan penuh kebencian.


Adel mengambil satu ember air cuci, lalu menyiramkannya ke tubuh Mikayla. "Kau memang pantas di lakukan seperti ini, anak busuk seperti mu tidak pantas di hargai."


"Nyonya kasihan Non Kay," ujar Bibi Lin.


"Kau ingin aku menghukum mu?" tanya Adel sambil menatap tajam, seakan kedua bola matanya keluar. Adel menarik kasar tangan Bibi Lin. "Jangan ikut campur,"


"Nyonya tapi,"


Bibi Lin pun bingung, apa yang harus dia lakukan. Dia tidak tega melihat Mikayla yang di sakiti. Ingin sekali ia menghubungi Hazel, tapi percuma Hazel tidak akan peduli.


"Arkh!"


Bibi Lin menangis, dia melihat Mikayla yang di seret dengan kasar.


"Nyonya jangan,"

__ADS_1


Bibi Lin mengekori kedua wanita itu, bahkan setiap pelayan pun melihat kejadian itu. Mommy Mona langsung menceburkan kepala Mikayla ke kolam dan kembali menariknya ke dasar.


"Dasar wanita tidak tau diri, masih untung anak ku mau mengobati ibu busuk mu itu."


__ADS_2