Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
#part44 : Antara kebahagian Adel atau Ghava


__ADS_3

"Apa?"


Hazel mulai merasakan firasat yang tidak baik, seolah akan ada rencana besar atau sesuatu yang akan terjadi dengan kedatangan Adel.


"Suruh dia datang kesini, dia tidak boleh menemui Kayla dan tuan Azraf." Kedua tangannya memegang kepalanya yang terasa berat. Ia tidak menduga Adel mengikutinya.


"Baik tuan,"


Adam mengatakan alamat hotel yang di tempati oleh Hazel kemudian mematikan ponselnya.


"Kau temui dia di bawah," ucap Hazel. Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa, lalu merentangkan kedua tangannya sambil menatap ke arah langit-langit.

__ADS_1


"Semoga saja Adel tidak bertemu dengan tuan Azraf dan Kayla." gumam Hazel.


Beberapa menit telah berlalu, Adel tersenyum manis melihat Hazel yang memunggunginya, pria itu memunggunginya dan gegas ia berlari dan memuluk Hazel dari belakang.


"Aku merindukan mu," ucapnya dengan lembut. Ia merasa betapa hangatnya tubuh Hazel. Kehangatan yang selalu ia rindukan.


Hazel melerai pelukan Adel, kemudian berbalik dan menghadap ke arah Adel. "Kenapa kamu bisa datang ke sini?" Ia teringat dengan pertengkaran itu.


"Kenapa? Kau tidak suka istri mu datang karena ingin menemui wanita lain?" Adel tertawa miris, ya hidupnya menyedihkan. Ia menggenggam tangan Hazel. "Maafkan aku, mari kita hidup seperti sebelumnya, sebelum ada Kayla. Aku rindu dirimu Hazel, aku rindu Hazel yang dulu. Tidak masalah jika kau masih mencintai Kayla, aku yakin lambat laun kau akan mencintai ku seperti dulu."


"Bagaimana kalau kita adopsi anak? Aku suka di sini, bagaimana kalau kita tinggal di sini saja," ucap Adel. Di Jakarta ia merasa senang, sekaligus ia bisa memantau Kayla dan Hazel.

__ADS_1


Hazel menunduk, "Ada sesuatu yang harus aku katakan pada mu." Sejenak diam, menyiapkan hatinya. "Aku sudah memiliki anak dengan Kayla."


Dadanya seperti tertusuk oleh ribuan jarum yang di panaskan lalu menusuk hatinya secara perlahan. Air matanya keluar begitu saja. Perih rasanya mendengarkan pria yang ia cintai telah melakukan hubungan dengan Kayla, semenjak kapan? Dan kapan? Ia tidak mengetahuinya.


"Aku sudah memiliki anak dengan Kayla, dan tak mungkin aku mengadopsi anak lagi."


"Kapan? Kenapa aku tidak tau?" tanya Adel mengepalkan kedua tangannya. Dadanya bergemuruh kesakitan. Ia tidak bisa membiarkan semuanya berlalu begitu saja. "Aku ingin kita tetap mengadopsi anak demi kebahagian ku."


Adel membalikkan tubuhnya, ia berjalan ke sebuah kamar dan menutupnya. Perkataan Hazel, pria yang ia cintai bagaikan petir yang membelah dadanya.


Sedangkan Adam, ia menyaksikan semuanya. Hidup tuannya semakin kacau. Ia pun menghampiri pria yang sebagai majikannya sekaligus atasannya. "Tuan, boleh saya memberi saran."

__ADS_1


"Jangan turuti apa perkataan nyonya, jika tuan tetap mengadopsi anak, tuan muda Ghava akan semakin membenci tuan. Dia akan merasa tuan tidak mencintainya lagi, sebaiknya tuan memperjuangkan maaf untuk tuan Ghava. Keputusan ini memang berat, anatara kebahagian nyonya Adel dan tuan muda Ghava, tapi saya ingin tuan lebih mengutamakan tuan muda Ghava, lebih mengutamakan bagaimana caranya tuan muda Ghava memaafkan tuan."


Hazel mengangguk, benar ia tidak boleh gegabah. Cukup dulu ia gegabah dan pada akhirnya di benci oleh anaknya sendiri. "Terimakasih saran mu, aku sangat bersyukur memiliki asisten seperti mu."


__ADS_2