Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
#part38


__ADS_3

Hazel menyandarkan tubuhnya ke belakang pintu, satu kakinya di tekuk dengan sebelah tangan di atas lututnya dan sebelah kakinya berselonjor, sambil menangis tergugu, pilu, sesak, perih, sakit, semuanya bercampur aduk bagaikan adonan yang mengental.


Ketika matahari terbit, ia bangun dengan perasaan yanh sesak, menjalani hari-harinya dengan kesakitan. Ketika matahari terbenam, ia menjalani malam dengan keperihan. Ia berusaha, berusaha menekan perasaannya. Ia bukan suami yang baik, ia gagal, dulu dengan mudahnya ia mengatakan cinta dan tidak berpindah ke lain hati, ia gagal. Sekarang ia mencintai orang lain, ia tidak ingin menyakiti Kayla, namun kenyataannya ia menyakiti Kayla. Rasanya sangat sesak.


Arhk!!!


Sedangkan Adel, ia bersandar di ujung ranjangnya, menekuk kedua lututnya. Ia sangat takut, takut kehilangan Hazel. Ia takut, suaminya pergi meninggalkannya.


Semua ketakutan itu bagaikan hantu membututi tubuhnya. "Hazel,"


"Sakit!!!"


Malam ini, malam di sepasang insan yang dulu saling mencintai, kini di terpa badai. Keduanya menangis menahan rasa sakit di dadanya. Semua cerita yang mereka ciptakan kini bagaikan kertas yang di sobek dan terbawa angin.

__ADS_1


....


Tepat jam 02.00 malam, Hazel masuk ke kamarnya dan melihat istrinya berada di lantai. Ia pun membopong tubuh Adel ke atas ranjang dan menyelimutinya. Ada rasa sesal di hatinya tidak bisa menjadi suami yang baik. Ia telah mengingkari cinta yang tulus untuk istrinya. "Maafkan aku, aku pergi bukan aku tak menyayangi mu. Tapi aku pergi ingin menebus kesalahan ku. Kau tau, sesungguhnya aku merasa berat, hidup ku berat adel."


Hazel mencondongkan tubuhnya, dia mengecup kening Adel dan mengambil kopernya, kemudian menarik. Sejenak dia berbalik dan melanjutkan langkahnya.


Setelah terdengar bunyi pintu itu tertutup kedua mata itu terbuka, lagi air matanya mengalir di kedua sudut air matanya. Ia memiringkan tubuhnya, meringkuk dan menangis. Semalaman ia menangis, tapi saat mendengarkan langkah kaki, ia pura-pura tidur, ingin melihat reaksi Hazel. Namun dugaannya salah, Hazel meminta maaf padanya dan mengatakan menebus keslahannya. Salahkan ia sebagai istri terlalu egois? Tidak ada seorang istri melihat suaminya mencintai perempuan lain.


"Hazel ...."


....


"Mama, Ghava main masak-masakan." Ghava mengambil tepung, lalu menuangkan ke baskom kecil dan tangan mungil mengambil sebutir telur, kamudian menaruhnya ke dalam baskom.

__ADS_1


Menggunakan kepalan kecil tangan mungilnya, Ghava memukul terlur, akhirnya bukan hanya adonan, melainkan beberapa pecahan kulit telur yang tercampur.


"Ghava!!" pekik Kayla.


"Iya Mam, Ghava bantu Mam."


Ingin sekali Kayla menangis, bukannya membantu tapi malah menambah pekerjaan. Sedangkan seorang pria yang jauh memandang melihat ibu dan anak itu tertawa geli, bagaimana tak geli? Kayla begitu shok melihat Ghava memecahkan telur di dalam baskom bercampur dengan tepung.


Dan tangan mungil malah mengaduknya. Semenjak tadi ia tak ingin melarangnya, rasanya lucu melihat perdebatan lagi.


"Ghava apa yang kamu lakukan? Oh sayang, ini bukan adonan tapi seperti kotoran ayam. Ghava, kau mau menambah pekerjaan Mama ya?"


"Mama harusnya berterimakasih, Ghava kan baik membantu mama." Ghava menyodorkan adonan miliknya. "Ghava sudah selesai buatnya, Ghava mau main."

__ADS_1


Ghava turun dari kursinya dan menghampiri Rio. "Om Rio, ayo main. Ghava gak mau bantu Mama, Mama di bantu malah berteriak."


Rio mengelus pucuk kepala Ghava. "Kayla, selamat bersenang-senang." Ejeknya melihat tatapan menahan kesalnya Kayla yang terlihat lucu di matanya.


__ADS_2