
"Tuan, di luar ada tuan Azraf. Dia meminta untuk masuk," ucap seorang pria.
Sarapan pagi yang tadinya hangat, kini seperti aura gelap dan dingin yang menyelimuti ruangannya.
"Biarkan saja, sekalipun dia menjadi anjing pun jangan membiarkannya masuk." Tuan Azraf menoleh pada cucunya. Ia lega, Ghava seperti mengabaikan keberadaan ayahnya.
"Sayang, nanti kalau sudah keluar sekolah. Tunggu Mama ya,"
"Iya kek," sahut Ghava tersenyum. Namun jauh dia hatinya ia merasa panas. "Ghava sudah kenyang Kek, Mam ayo berangkat." Ajak Ghava.
"Iya sayang, Mama ambil kotak bekalnya dulu." Kayla mengambil kotak bekal yang telah di siapkan oleh Bibi Mira.
"Kita berangkat yah."
Hazel tersenyum melihat wanita dan putranya yang keluar dan memasuki mobilnya. Gerbang pun di buka lebar, Hazel masih mematung menunggu kedatangan putranya. Namun seriby sayang, putranya seakan tak menoleh dan mobil hitam itu melewatinya.
"Ghav, kau ingin bertemu dengannya."
Sejak tadi Ghava menunduk dan berpura-pura memakan snadwich yang tadi ibunya siapkan, seperti biasa sang ibu bukan hanya menyiapkan bekalnya tapi juga bekal selama berada di perjalanan.
"Sayang, kau ingin menemui Papa mu?"
Rio melirik ibu dan anak itu dari kaca mobilnya. "Jangan memaskanya kalau Ghava tidak mau," ucapnya.
Jangan biarkan Ghava dan Kayla menemui Hazel, halangi Hazel, lindungi mereka dengan nyawa mu.
__ADS_1
Kayla kurang setuju dengan pendapat Rio, sebagai seorang ibu, Ghava pasti merindukan sosok figur seorang ayah. Sekalipun anaknya membencinya, tapi jauh dalam lubuk hatinya, anaknya pasti menginginkan kehangatan tangan Hazel.
"Rio, aku tau apa yang anak ku inginkan."
"Mama, aku tidak menginginkannya. Tetaplah berbohong seperti mengatakan ayah ku telah pergi." Ghava menyanggah ucapan Kayla dengan cepat. "Ghava akan melindungi Mama."
Mobil pun telah berhenti tepat di depan gerbang sekolah Ghava. Wanita itu turun kemudian Ghava dan Rio.
"Ghava." Sapa seorang pria.
Rio menghadang tubuh Hazel yang ingin mendekat ke arah Ghava dan Kayla.
"Kau siapa? aku ingin bertemu dengan anak ku dan istri ku." Sentak Hazel sambil mendorong tubuh Rio.
"Aku adalah pelindung mereka, seorang ayah dan suami jahat seperti mu tidak pantas untuk mereka."
Kayla berjongkon, Ghava mencium sebelah pipi Kayla dan masuk ke area taman, ia pun melambaikan tangannya pada Kayla dan berlari menuji kelasnya.
"Rio, ayo kita pergi. Ghava sudah masuk ke dalam." Sejenak melirik Hazel. Kakinya pun hendak masuk ke dalam mobil, namun pergelangan tangannya di cegah oleh Hazel.
"Tunggu, aku ingin kita bicara."
Kayla mengangguk, ia tak mungkin terus lari dari Hazel. "Baik, aku tunggu di Restaurant Xxx."
Hazel melepaskan tangannya, ia senang. Setidaknya Kayla mau berbicara dengannya.
__ADS_1
"Tapi Kay,"
Hazel melotot tajam, ia tidak suka ada seorang pria yang mendekati Kayla, sekalipun pria di sampingnya menjaga Kayla dan Ghava. Ingin sekali ia menyembunyikan Kayla dalam pelukannya.
"Memangnya kau siapa melarang ku untuk bertemu dengan mereka."
"Hazel, aku tidak memiliki waktu banyak,"
Hazel berbalik, ekspresi wajahnya sangat meremehkan Rio. Ia tidak suka pada pria di depannya yang menghalanginya.
....
"30 menit, aku beri waktu 30 menit," ucap Kayla. Sejujurnya dadanya bergetar ketika duduk bersama dengan Hazel, ia masih teringat masa lalu yang menyakitinya. "Sepertinya kau memang membuang waktu ku," Kayla hendak beranjak, namun lengannya di tahan oleh Hazel.
"Aku minta maaf atas semua kesalahan ku,"
"Aku memaafkan mu, tapi tidak untuk ibu ku yang kau permainkan. Satu lagi, aku tidak suka kau muncul di dekat Ghava."
"Maksud mu apa? Mempermainkan siapa? Aku mohon jangan menjauhkan aku dari Ghava, dia putra ku."
"Benar dia putra mu, tapi semenjak kau tidak mengakuinya, dia bukan putra mu."
Hazel segera duduk di lantai dan menunduk, menekan kedua lututnya ke lantai. "Hazel, apa yang kamu lakukan?"
"Aku tidak akan berdiri sebelum kamu memafkan aku Kay,"
__ADS_1
Kayla tersenyum remeh, ia tidak memiliki hati untuk memaafkan pria di depannya. Ia pun mrngambil tasnya dan berlalu meninggalkan Hazel