Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku

Ku Sewakan Rahim Ku Pada Kakak Tiri Ku
#part12


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Hati Kayla merasa sedih, hati yang terluka perih dan teriris itu belum juga sembuh, bahkan perkataan Dion tadi pagi yang mengundangnya ke pesta pernikahan seakan menarik seluruh nafasnya, urat-uratnya terasa patah.


Dia meremas undangan di tangannya, ia tak sanggup. Ia ingin berlari dan berteriak. Dadanya begitu terhimpit oleh benda tajam, sayangnya tidak berdarah, namun lukanya seakan memerintahkannya untuk mati.


Kayla mengacak-acak rambutnya, ia kira pertemuan tadi memperbaiki hubungannya, tetapi ia salah. Hubungannya dengan Dion telah hancur, ia tidak memiliki harapan lagi.


"Dion ..."


Dadanya naik turun, dia mengambil vas bunga yang pernah Dion berikan untuknya, ia pun melemparkannya ke cermin rias di depannya. Sebuah kenangan terukir indah di tangannya, ia pun melemparkannya ke lantai. Pecahan kaca figura itu berserakah di lantai. Dia pun menginjak kenangan terindah dirinya. Bahkan luka di telapak kakinya pun tak terasa sakitnya. Darah yang mengalir iti tak sebanding dengan luka di hatinya.


Tubuhnya lemas tak berdaya, perlahan tubuh itu merosot ke lantai. Dia mengacak-acak pecahan figura.


"Argh ...!!"


Aku akan bertunangan dengan orang lain, wanita pilihan Daddy. Aku harap kau datang.


....


Pada malam harinya.

__ADS_1


Hazel merasa aneh, ia tak mendapati Kayla yang menyambutnya. Biasanya wanita itu setiap pagi dan siang menyiapkan semua keperluannya yang biasanya di ambil oleh Bibi Lin. Kini semua tanggung jawab Bibi Lin telah berpindah ke tangan Kayla.


Hazel menatap Bibi Lin seakan ingin menanyakan keberadaan Kayla. Dia pun melonggarkan dasinya. Ada sesuatu yang aneh, wanita itu terlihat murung dan wajahnya terasa sembab, tapi ia tidak pernah bertanya namun rasa penasaran malam ini membuat gelenjar aneh di Dadanya.


"Sayang kau sudah pulang." Hazel menatap istrinya yang sedang membaca sebuah buku di sofa pojok kanan. Adel menaruh buku itu ke atas mejanya dan menghampiri Hazel. Dia mengecup bibir sang suami dan mengalungkan lengannya.


"Bagaimana pekerjaan mu? Lancar?"


"Iya lancar," ucap Hazel. Bagaimana ia tidak senang melihat istri yang selalu tersenyum padanya, menyambutnya dengan kecupan tapi ada yang aneh, ia merasa aneh dengan hatinya ada rasa sakit yang tak ia tau penyebabnya.


2 tahun lamanya dia menjalin hubungan dengan Adel dan hingga terjalin pernikahan. Namun sayangnya karena sifat Adel yang nakal dulunya dan membuat rahimnya bermasalah sehingga ia tidak bisa mengandung.


"Ya sudah, aku tinggal menunggu mu. Kita turun ke bawah bersama-sama."


Hazel mengusap pucuk kepala Adel dan menciumnya. "Iya sayang, tunggu aku."


Hazel bergegas ke kamar mandi, ia menutup pintunya dengan rapat. Entah apa yang di pikirkannya, ia melakukan ritual mandinya dengan cepat.


...


Hazel menatap Bibi Lin, lagi-lagi ia tidak melihat sosok wanita yang menyambutnya, bahkan di ruang makan pun hanya Bibi Lin yang berdiri.

__ADS_1


Seperti biasa Hazel menarik sebuah kursi untuk Adel. Lalu dirinya yang duduk di ujung meja bundar itu.


"Sayang kau mau makan apa? Biar aku yang melakukannya," ucap Adel.


"Kepeting,"


"Aku akan mengupas kulitnya," ucap Adel.


Hazel kembali merasa yang kurang, namun pandangannya tidak pernah terlepas dari tangan istrinya yang telaten mengupas kulit udang untuknya.


Hazel memakan udang itu, namun seketika dia memuntahkan udang di mulutnya, rasanya aneh dan beda.


"Siapa yang memasak ini?" tanya Hazel menatap tajam padw Bibi Lin.


"Saya tuan," jawab Bibi Lin. Tidak biasanya Hazel menolak masakannya, biasanya Hazel akan memuji masakannya, tapi malam ini majikannya terasa aneh. "Apa masakannya tidak enak atau perlu saya menggantinya tuan?" tanya Bibi Lin.


Hazel meneguk satu gelas air putih itu.


"Sayang apa ada masalah?" Adel berpindah menatap tajam pada Bibi Lin. "Apa kau sengaja menghidangkan makanan tidak enak? Apa kau sengaja ingin meracuni suami ku."


"Tunggu Adel." Hazel menoleh kembali pada Bibi Lin. "Kemana Kayla?"

__ADS_1


__ADS_2