Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Malam Pertama (part 1)


__ADS_3

Setelah mandi, sesuai kebiasaan Cempaka selalu mengeringkan tubunya di ruangan kamar.


Dia keluar hanya memakai handuk yang hanya pas melindungi dada sampai atas pahanya saja.


"aaaaahhhh...ibuuu...." Cempaka kaget karena Reza masih ada di kamarnya.


Reza yang juga kaget karena teriakan Cem, melihat ke arah perempuan itu dan pipinya memerah, tapi dia berusaha bersikap biasa saja.


"Anak kecil, kenapa sih heboh sekali?"


bertanya, tapi matanya tanpa terkendali sesekali melirik bagian tubuh istrinya yang tak tertutup handuk .


"kenapa masih disini?" berusaha mencari sesuatu untuk menutup tubuhnya yang sebagian besar terlihat.


"duh, anak kecil. Gak usah heboh. Lagian aku gak bakalan lakuin apa-apa juga. Aku nungguin kamu biar ke bawah sama-sama," jawab Reza sok santai, padahal jantungnya berdegup kencang.


"Gak usah dan juga kan nunggunya bisa d ruang santai kenapa harus di kamar sih?"


"iya, iya aku keluar," Reza beranjak keluar kamar dan ke ruang santai di lantai 2.


Diluar kamar, bersandar di pintu menenangkan jantungnya.


"jangan mesum Reza jangan mesum!!"


tiba-tiba dia terbangun dari khayalannya.


"Ja" suara Anita memanggil Reza.


"Nit, ngapain d sini? bukannya minum teh sama Mama dan papa. Bentar lagi aku dan Cem nyusul."


Reza berjalan ke ruang santai yang ada di lantai 2. Kamarnya dan kamar Cempaka berada di lantai 2 juga.


Jadi sementara mereka bulan madu besok lantai 2 bakalan di renovasi menjadi lantai khusus untuk Cem dan Reza.


"Udah, kamu duluan aja. aku lagi nungguin Cem." berjalan menuju sofa sambil fokus dengan hp nya dan tidak perduli dengan kehadiran Anita.


Anita memeluk pinggang Reza dengan tiba-tiba. Reza menggeliat melepaskan diri, tapi pelukannya makin kuat.


"Nit, kamu apa-apaan sih. Udah gila? lepasin sekarang juga."


"aku belum rela ngelepasin kamu Ja, aku tau kamu nikah sama Cempaka bukan karena cinta dan suatu saat kamu bakalan ninggalin dia kan? aku bakalan lepasin Romi dan balik sama kamu Ja," tutur Anita sambil memeluk Reza semakin erat.

__ADS_1


Sementara di dekat situ, Cem yang melihat dan mendengar adegan itu merasa marah, marah karena Anita menghianati Kak Romi. Dia sangat ingin melabrak wanita itu.


Tapi ketika melihat bahwa laki-laki yang, dipeluk itu adalah suaminya, hadir begitu banyak pertanyaan di kepala Cem.


"Dia memang suamiku, tapi aku punya hak untuk marah? kita tak saling mencintai, tapi kita benar-benar menikah. Aku benar punya hak kan?"


Ketika Cem akan maju melabrak Anita, tiba-tiba Reza berteriak dan melepaskan pelukan Anita dengan kasar.


"aku kan sudah bilang, aku gak mau kasar sama perempuan.


Tapi kata-katamu benar-benar gila. Yang meninggalkan hubungan kita untuk menikah dengan laki-laki lain itu, kamu.


Memang aku yang minta kita putus, tapi kamu tanpa sabar justru pergi memilih menikah dengan Kak Romi supaya aku buat keputusan dengan cepat.


Dan kalau sekali lagi kamu gak ngehargai Kak Romi seperti ini, aku tidak akan segan-segan membuat kamu terusir dari daftar keluarga Rahadi."


Reza berjalan ke arah tangga, kemudian melihat Cem lagi-lagi bengong di depan kamarnya.


"kenapa...kenapa???kenapa timingku selalu begini? seolah aku selalu nguping, padahal sebenarnya aku ingin melabrak perempuan itu."


Reza menggenggam tangan Cempaka dan menariknya ke ruang santai lantai bawah. Tapi tatapan Cem masih menatap wanita yang sekarang sudah menangis karena di tolak cintanya.


Cem langsung berjalan ke lantai 2 , perempuan tak tau malu itu, masih menangis di tempat terakhir kali Cempaka melihatnya.


"Cepat perbaikin kondisi kamu, kak Romi nyariin kamu," dengan nada agak marah dan menyinggung.


"untuk apa aku masih menghargai wanita ini? meskipun dia istrinya kak Romi, berani sekali mengaku cinta kepada laki-laki beristri. Terlebih kepada suamiku dan adik dari suaminya."


Menangkap nada kurang sopan dari Cem, Anita mulai merapikan dirinya dan berusha terlihat elegan kembali.


Tapi tak terlihat berubah di mata Cem yang sudah menganggap wanita di depannya ini wanita tak tau malu.


Cem yang sedari tadi emosi menangkap lengan Anita.


"aku mau kamu berhenti ngelakuin hal itu. apa kamu pengen ngehancurin keluarga ini? apa yang barusan kamu lakuin? menggoda laki-lkai beristri, ditambah laki-laki itu adalah adik iparmu sendiri," Anita yang malah merasa kesal


"Kamu pikir berapa lama Reza bakalan betah main rumah-rumahan sama kamu? Setahun, sebulan, mungkin tidak sampai sebulan. Kamu, tipe perempuan yang paling dibenci Reza, tipe yang pura-pura polos dan baik tapi akhirnya jadi linta yang gak bisa lepas."


"main rumah-rumahan? kamu fikir arti menikah segampang itu?" bela Cempaka.


"Tapi, aku gak perlu khawatir. Nanti juga kamu mundur sendiri, kalo lihat linta yang ada dalam hidup Reza. Dia gak akan pernah bisa lari dari perempuan itu," tambah Anita.

__ADS_1


"Secinta apapun Reza sama kamu kelak, wanita itu akan tetap ada antara kamu dan Reza," hardik Anita lagi.


"wanita?wanita siapa? terakhir kalian membicarakan Kak Dini. Apa iya Kak Dini? bukannya mereka sudah lama berpisah? aku tau mas Reza masih marah terhadap Kak Dini, tapi aku tak tau sebabnya apa?"


"Mungkin, mas Reza hanya membutuhkan wanita yang lebih, untuk wanita extranya," bela Cem mencoba percaya diri.


Karena ia sama sekali tak tau, apakah kelak laki-laki yang jadi suaminya saat ini bisa mencintainya.


"Anak kecil sepertimu mana mengerti, betapa mengerikannya perasaan dicintai tapi masih dinomor duakan rasa tanggung jawab," cemooh Anita pada Cem.


Ketika Reza yang mengucapkan kata 'anak kecil', tak pernah terdengar merendahkan, tapi begitu Anita mengucapkannya, Cempaka rasanya seperti ingin mengorek wajah perempuan yang ada di depannya ini.


"Hah, anak kecil? tapi siapa yang bersikap kekanakan? kamu seperti anak kecil yang sudah kehilangan sesuatu tapi merengek memintanya kembali.


Aahhh dan asal kamu tau, aku mempunyai daya tahan hidup tinggi, jadi tak usah khawatir dengan perasaanku.


Dan lebih baik, kamu cepat kembali pada suamimu dan kalau sekali lagi aku melihat kamu melakukan hal-hal yang menganggu keluarga ini, aku tidak tau apa yang akan aku lakukan. Karena aku, tidak sepolos dan sebaik yang kamu fikirkan," ancam Cempaka.


Kemudian Cempaka kembali bergabung dengan keluarganya di ruang santai. Anita yang mengikuti tak jauh di belakang.


"Bagaimana persiapan bulan madumu," tanya Nyonya pada Reza.


"Tinggal berangkat besok Ma, semuanya udah siap," jawab Reza.


"Mama itu pengennya punya cucu cepat-cepat, tapi Romi katanya masih mau menikmati waktu berdua dulu, padahal sudah hampir 3 tahun berdua terus," ucap Nyonya sambil agak merengek.


Cempaka yang mendengar ini, memerah ketika Nyonya besar membahas cucu, tetapi merasa marah karena dengan alasan Romi belum ingin punya keturunan.


Mengingat tingkah Anita tadi, pasti itu idenya.


Kemudian Reza melingkarkan tangan ke pinggang istrinya.


"Tenang aja Ma, sayang kamu bakalan pengen punya anak berapa?"


Semakin sumringah saja wajah Nyonya besar yang melihat tingkah anaknya, Romi dan Tuan Besar hanya bisa tersenyum geleng-geleng sedangkan Anita mengutuk dalam hatinya.


Sementara Cempaka, wajah dan kupingnya sudah memerah karena malu. Terasa semua darah mengalir ke wajahnya.


Mereka mengobrol dengan santai, kecuali sesekali Cem melihat ke arah Anita dengan jengkel, begitu juga Anita melihat ke arah Cem tanpa tahu malu.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2