Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Melepaskan Masa Lalu


__ADS_3

Keesokan harinya, Cem membantu Reza siap-siap bekerja.


"Sayang kamu beneran gak kesal?" tanya Reza memastikan.


"Mas, aku tuh tau. Mas kerja diam-diam di belakang Aku. Justru aku merasa khawatir. Hanya karena Mas Reza berusaha hibur aku, mas sampai minta libur." Cem tersenyum, sambil merapikan dasi Reza.


"Terus kamu rencana hari ini apa saja?"


"Paling keluar bentar, terus balik lagi"


"ke mana?"


"Pak Didi sudah datang belum yah?" Cem mengalihkan pembicaraan.


"Kamu gak akan macam-macam diluar sana kan?"


"iihhh apaan sih? Mau macam-macam apa coba? Aku tunggu di bawah yah?" Cem turun ke lantai bawah menghindari pertanyaan Reza.


Reza akhirnya tak mau mempertanyakan istrinya. Lagipula Cem tidak pernah macam-macam bahkan sebelum menikah, Ia hajya akan mempercayai Cempaka, fikirnya.


Setelah melepas kepergian Reza. Cem langsung menemui Pak Didi. Dan meminta alamat rumah sakit tempat Dini di rawat.


"Apa yang akan nona lakukan di sana?"


Cem mengangkat bahunya, "entahlah, aku akan tahu setelah aku di sana," jawabnya singkat.


"Jika Nona mendengar jawaban menyedihkan jangan terlalu kaget. Fokus saja dengan tujuan utama Nona," ucap pak Didi.


Cem mengangguk dan meninggalkan pak Didi dan bersiap menuju Rumah sakit tempat Dini di rawat.


Sepanjang perjalanan, ia memikirkan apa yang harus ia katakan atau lakukan setelah bertemu bibi dan sepupunya itu.


Kurang lebih satu setengah jam Cem tiba di sebuah alamat yang diberikan Pak Didi. Tempat itu bukan rumah sakit, tetapi lebih terlihat seperti rumah rehabilitasi.


Sama sekali tidak ada nuansa rumah sakit ataupun nuansa bahwa ini tempat orang gangguan mental berada.


Setelah mendapatkan nomor ruangan Dini, Cem berjalan mencari. Di depan ruangan yang ia cari, seorang wanita yang berpenampilan lusuh dan terlihat sangat lelah sedang duduk menangis.


Cem mengintip lewat kaca bening di pintu. Tapi wanita itu berdiri dan menghapus air matanya "Cari siapa, mbak?"


"apa betul ini ruangan Dini?"


"Ya, benar. Tapi anda siapa?" lama saling memperhatikan wanita itu tiba-tiba terduduk di bangku tadi.


Cem pun yang sudah memperhatikan wanita itu akhirnya mengenali wajah bibinya, yang sudah bertambah tua, termakan usia dan kesedihan.


Cem menatap bibinya tak mampu berkata-kata. Ia ingin marah ataukah bersedih.


Lama mereka berdua hanya terdiam.


"Bibi melihat berita pernikahanmu. Kamu terlihat sangat cantik" bibinya memulai peecakapan. Mata Cem berkaca-kaca, ia tak sedih tapi merasa iba.


Orang di hadapannnya ini adalah keluarganya. Kakak dari bundanya, tapi meninggalkan Cem di panti dan pergi membawa harta orang tuanya.

__ADS_1


Tapi melihat keadaannya saat ini ia hanya tak bisa mempercayainya.


"Maafkan bibi, Cem. Mungkin Tuhan sedang memberikan hukumannya pada Bibi."


"Kenapa kemarin menelpon Mas Reza?" entah kenapa Cem tidak bisa menemukan keterikatan batin antara dia dan bibinya.


Jadi ia hanya langsung pada tujuan utamanya.


"Bibi, cuma minta dia datang melihat Dini. Dini terkena kanker usus, sudah stadium akhir. Belakangan ini kesadarannya sering kembali dan mencari Reza."


"Apa bibi fikir, bibi pantas memintanya datang kemari demi ketenangan anak bibi?"


"Apa maksud Cem?"


"Apa bibi tahu, bagaimana Mas Reza menjalani hidupnya?


Bukankah Bibi selalu menyalahkannya atas kejadian yang Kak Dini alami kan? padahal bibi juga tahu dengan baik, kalau ini bukan salah mas Reza.


Dia selalu menyalahkan dirinya sendiri.


Dan sekarang, dengan santainya Bibi meminta Mas Reza memberikan Kak Dini kematian yang damai?"


"itu memang kesalahannya, kesalahan keluarganya. Bibi fikir, hidup Dini akan jadi lebih baik setelah dapat beasiswa.


Walaupun Reza anak yang baik, tapi tidak dengan Tuan Romi dan teman-temannya.


Sebenarnya bibi tidak ingin menyalahkan Reza, tapi Tuan Romi menawarkan lebih banyak uang.


Dan bibi sangat membutuhkannya demi Dini"


"Apa maksud bibi Kak Romi dan teman-temannya bukan orang baik? apa juga dengan menawarkan uang? Kenapa menyalahkan Mas Reza ada hubungannya dengan Kak Romi?" tanya Cem sambil mengayunkan tubuh bibinya


"Tuan Romi, yang selalu menghina Dini, merendahkan kepercayaan diri dan menghasut Dini untuk membuat dirinya lebih baik.


Pada dasarnya Dini selalu merasa rendah diri karena tak punya ayah yang menjaganya.


Rasa sukanya pada Reza yang baik hati, tampan dan kayak raya, membuat ia semakin terlihat rendah.


Dan Tuan Romi memastikan Dini selalu mengingatnya," jelas bibi panjang lebar.


"semuanya di ceritakan Dini, ketika kadang-kadang kesadarannya kembali.


Dan bibi merasa bersalah pada Reza.


Tuan Romi ingin bibi selalu menelpon Reza mengingatkannya tentang Dini.


Cem, bibi harusnya tidak menceritakan ini semua.


Tapi bibi tak mau perduli lagi.


Dini bakalan mati dan bibi ingin dia pergi dengan damai."


Setelah mendengar semua cerita bibi. Cempaka masih diam membatu.

__ADS_1


Meski tak percaya dengan apa yang sudah dilakukan Romi, yang terbesit di kepalanya adalah.


"Jadi, demi mandapatkan uang dari Kak Romi, bibi menyalahkan Mas Reza selama sembilan tahun lebih? bibi membuat orang yang sudah merasa bersalah semakin merasa bersalah?" nada bicaranya meninggi.


"Cem, bibi gak perduli kamu mau memandang bibi hina. Waktu Dini tidak banyak. Bawa Reza menemui Dini. cem , bibi mohon?" sambil memegang kedua tangan Cem dan memohon.


Cem menarik tangannya dengan kasar.


"aku pamit pulang dulu."


Tapi ia berbalik lagi.


"Kalau benar-benar ingin minta maaf ini bisa jadi kesempatan untuk Mas Reza bisa move on tanpa merasa bersalah tapi aku juga ingin dia belum boleh tau masalah Kak Romi"


Lama berfikir "baiklah, aku akan membawa Mas Reza menemui kak Dini. Tapi, perihal Kak Romi bibi masih harus merahasiakannya. "


"Baiklah, bibi mengerti Cem. Terima kasih Cem. Maafkan bibi soal harta orang tuamu. bibi saat itu tidak bisa memikirkan apa-apa dengan keadaan Dini" Memeluk Cem tiba-tiba.


"Dan jangan pernah membahas masalah uang itu lagi," ucap Cem pada bibinya dan bernjak pergi.


Mereka bilang, darah itu kebih kental daripada air. Tapi setelah bertemu Bibi, aku semakin tak mengerti.


Aku, tak merasakan aura kasih sayang seperti yang diberikan keluarga Rahadi padaku.


Iba, aku hanya merasa iba pada bibi.


Justru aku berharap segera menyelesaikan masalah ini dan tak perlu bertemu dengannya lagi.


Tapi, dia kan keluargaku.


Keluarga? apakah keluarga hanya hubungan antara orang dengan hubungan darah?


Tapi bagiku, KELUARGA BUKANLAH HANYA SEKEDAR HUBUNGAN DARAH TAPI JUGA KETERIKATAN HATI.


Dan bagaimana hubungan keluarga antara Romi dan Reza? Apa yang membuat Romi melakukan hal yang membuat jiwa dan batin adiknya merasa tersiksa? Cem berusaha memikirkan segala kemungkinan.


Jika ia menyukai Dini, dia tak perlu membuat Dini melakukan hal-hal yang tidak baik dan membuatnya menjadi wanita gila.


Jika dia membenci Reza, apa alasannya.


Mengingat karakter Romi yang dia kenal tidak ada yang masuk akal.


Setelah tiba di rumah, Cem langsung terduduk di atas tempat tidur.


Entah, sudah berapa lama ia termenung. Sampai ia tak menyadari kalau suaminya memperhatikannya sejak beberapa menit yang lalu.


"ehemmm" Reza tumben membuat suara.


"Mas udah pulang?" Cem berjalan ke arah suaminya dan langsung memeluknya dengan posisi favoritnya, mendengarkan detak jantung suaminya. Rasanya hari ini sangat panjang dan melelahkan untuk Cem.


Reza menunggu istrinya untuk bicara lebih dulu.


"Aku tadi ke tempat bibi dan Kak Dini"

__ADS_1


Pelukan Reza sempat menegang, detak jantungnya menjadi lebih cepat.


*bersambung......


__ADS_2