
"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Romi
"Sudah Tuan," jawab Gun.
"Rom, aku mohon. Fikirkan baik-baik. Gun! bilang ke Tuan Mudamu!" Ucap Windi yang mencoba membuat Romi merubah keputusannya.
"Kamu akan membawa kita ke mana?" tanya Windi berusaha mendapatkan lokasi yang akan mereka tuju.
"Bukannya sudah ku katakan ini adalah kejutan? Cempaka akan sangat menyukainya."
"Aku akan menyerahkan semuanya demi Cempaka. Aku tahu dia sangat mencintaiku" Ucap Romi tersenyum.
"tidak, dia tidak pernah mencintaimu. Itu hanya ilusi yang kamu letakkan di kepalamu" ucap Windi dalam hati.
"Aku tidak perduli jika perusahaan jatuh ke tangan Reza. Toh dia juga anak Papa dan semua orang juga sangat menyukainya. Aku yakin dia kan menjaga perusahaan dengan baik."
Windi diam-diam menyalakan hpnya.
"Jangan lakukan apapun yang membuatku menyesal membawa Kamu dan Aleka." Ucap Romi melihat Windi.
"Kamu adalah sahabatku, tapi kalau sampai kamu menghanncurkan rencanaku, aku akan menghancurkanmu juga," tambah Romi.
"Kamu harus diobati Rom, maafkan aku. Aku akan melakukan yang terbaik yang menurutku benar"
Seolah mengerti isi kepala Windi, Romi menyuruh Gun menghentikan mobilnya. Romi mengulurkan tangannya ke arah Windi.
Windi menyerahkan handphonenya ke tangan Romi.
"Aku akan bertanya untuk terakhir kalinya, apa kamu benar-benar ingin ikut denganku?"
Lama Windi berfikir, "kalau aku ikut, aku akan bisa membantu menyelamatkan Cem, tapi anakku juga ada disini. Dia sekarang sangat berbahaya. Aku akan menyelamatkan anakku lebuh dulu." Windi akhirnya menggeleng.
"Hentika mobilnya Gun, jadi aku kira sampai di sini hubungan kita. Terima kasih karena sudah menjadi sahabatku Windi"
"Dia tidak pernah mencintaimu. Itu semua hanya ilusimu" ucap Windi pada Romi tiba-tiba.
Romi hanya tersenyum.
"Kamu tidak pernah melihat cinta yang ada antara aku dan Cem. Turunlah bawa Aleka. Kamu akan mudah menemukan taksi di sekitar sini." Windi turun dari mobil sambil menggendong Aleka yang tertidur, tapi Romi keluar lalu menghancurkan hp Windi.
Romi pun berlalu pergi untuk menjemput Cempaka di rumahnya.
Romi tersenyum dan menutup mata mengingat pertemuannya dengan Cem.
Saat itu, makan malam keluarga. Mama memperkenalkan Cem pada seluruh isi rumah.
Sebelum memperkenalkannya, mama sudah sering membicarakan Cempaka, betapa besar Mama ingin mengadopsinya dan menjadikan Cem putrinya.
Tapi Romi bersyukur dia menolaknya.
Dia tersenyum padaku aku sudah tahu dari senyumnya dia sangat menyukaiku.
"Selamat datang, Cempaka," sapa Romi.
"Iya Tuan Muda, terima kasih," jawab Cem.
"Jangan panggil aku Tuan Muda panggil saja aku dengan panggilan lain"
"Apa Kak Romi boleh?" tanyanya malu-malu.
"Kadang ketika dia mengobrol dia selalu melihat ke arahku dan melambai padaku. Aku tahu dia menyukaiku."
__ADS_1
"Kak Romi, ini buah. Tadi Cem potongin. Katanya bi Wati Kak Romi suka sekali buah ini." Cem membawa potongan buah yang kebetulan ia beli. Tanpa tahu kalau itu buah kesukaan Romi.
"Iya aku tahu, kamu bahkan sudah mengetahui buah kesukaanku", ucap Romi dalam hati.
"Kak, aku bawakan makanan kesukaan kakak. Mama bilang, waktu kecil kak Romi sering minta dimasakin," membawakan bungkusan yang kebetulan dia lewat membelinya.
"kamu sangat perhatian padaku." Romi tersenyum.
"Kak Romi jangan terlalu sibuk kerja. Istirahat sebentar," menarik tangan Romi untuk duduk di ayunan taman belakang.
"aku tahu kamu sangat ingin menghabiskan waktu berdua denganku. Meski aku sangat sibuk aku akan meluangkan waktuku untukmu."
Hari itu Romi dan Cem duduk berdua di ayunan itu. Cem tanpa sadar tertidur di pundak Romi. Romi merasa sangat bahagia.
Setiap hari Cem membawakan Romi buah, karena diminta oleh pelayan.
Meski kadang ia yang menawarkan diri. Mengantar cemilan dan buah bukanlah pekerjaan yang sulit.
Terkadang Nyonya besar juga membantu agar Cem bisa dekat Romi. Tapi dia tidak menyadari bahwa putranya sudah terobsesi dengan Cem.
Semua yang dilakukan Cem dia fikir dilakukan untuknya. Bagi Romi, Cem adalah cahaya baru dalam hidupnya. Gadis yang cerdas, cantik, pintar, baik dan selalu mengeluarkan expresi yang bermacam-macam.
Cem, selalu menyemangatinya.
Ketika ia sakit, Cem yang akan merawatnya. Cem bahkan rela tidur di sofa dalam kamar Romi, hanya demi merawat Romi.
Perhatian Cem yang berlebihan, membuat Romi salah faham.
Ketika Cem menolak lamarannya, dia membuat asumsinya sendiri bahwa Cem akan bersedia 3 tahun ke depan atau kapanpun ia siap.
Setelah Romi menikah dengan Anita, Romi berfikir akan kembali pada Cem. Karena itu ia menjaga kesuciannya demi Cempaka dan tak pernah menyentuh Anita.
Semuanya baik-baik saja, Ia bisa mengendalikan keinginannya.
Romi, masih melihat cinta Cem untuknya. Bahkan setelah menikahi Reza dan dilarang memeluk Romi, Cem masih saja memeluk Romi.
Sebentar lagi, ia akan bersama Cem fikirnya.
"Tuan, semua orang sudah tertidur. Kecuali Pak Didi yang di rumah sakit dan Tuan Reza yang berada di luar rumah. Dan Nyonya dan Nona Cem yang tidak menyentuh makan malamnya." Ucap Gun melapor pada Romi.
"Reza sedang di mana?"
"Tuan Reza sedang di XX, saya fikir akan memakan waktu untuknya kembali ke rumah." Jawab Gun.
Akhirnya mereka tiba di rumah.
"Di mana Cem?" tanya Romi.
"Ada di kamarnya Tuan."
"Kerja bagus Silvi, aku akan mengirimkan uang seperti yang ku janjikan"
"Terima kasih Tuan," ucap Silvi.
Romi pun segera menuju ke kamar cem.
Cem yang terduduk di kamarnya menunggu kepulangan Reza.
Setelah pelayan memberitahu kalau Reza pergi mencari es potong untuknya baru dia bisa tenang dan lega setelah meminum teh jahe.
Dia mendengar pintu kamarnya terbuka, dia langsung bediri dan berbalik dengan senyum sumringah.
__ADS_1
"Dia tersenyum padaku, dia pasti sudah menunggu kedatanganku," batin Romi.
Cem yang kaget melihat siapa yang datang, kakinya reflek mundur dan senyuman hilang dari wajahnya.
"Kak Romi?" dia memaksa tersenyum.
Romi berjalan ke arah Cempaka kemudian memeluknya.
"bagaimana, bagaimana bisa dia masuk ke sini?" batin Cem sambil mencari lokasi hpnya. Aku harus menelpon seseorang.
"Ayo kita pergi!"
"Ah? ke mana kak?" dengan sigap ia menjawab.
Karena meskipun tahu dari pak Didi kalau Romi punya obsesi terhadapnya. Tetap saja dia kaget dan takut.
"Aku ingin menunjukkan Cem sesuatu. Pasti Cem akan suka."
"Kak, apa kita tidak menunggu Mas Reza? maksudku, aku akan minta izin padanya."
"Kamu sudah tahu yah?"
"apa maksud kak Romi?"
"kamu juga pasti berfikir aku gila kan? apa aku salah menilai, kalau kamu cinta sama aku? Windi bilang, kamu sama sekali tak pernah mencintaiku." Romi duduk di atas tempat tidur dan menarik pergelangan tangan Cem dengan erat.
Cem hanya bisa meringis sambil pura-pura tersenyum.
"Aku harus menjawab apa? aku sama sekali tak tahu cara menghadapi orang terkena penyakit ini. Tolong, siapa saja selamatkan aku." pinta Cem dalam hati.
"Tuan, kita harus segera pergi," ucap Gun. Lalu Romi menarik tangan Cem menuju pintu.
"Tunggu Kak, aku harus ganti baju dulu. Gak mungkin aku keluar begini. Aku ganti baju dulu." ucap Cem yang mengenakan baju tidur.
Cepat Cem masuk ruang ganti, sengaja melewati tempat tidur dan mengambil hp nya.
Di ruang ganti, cepat ia menelpon Reza. Tapi tak di angkat. Menelpon Pak Didi tak diangkat.
"kenapa kedua orang ini tak mengangkat teleponnya di saat genting? batin Cem kesal.
Karena takut Romi kesal karena terlalu lama. Cem mengambil baju hangat dan memasukkan perekam dalam kantongnya.
Setelah keluar Romi mengulurkan tangannya "hp mu mana?"
Dengan terpaksa Cem memberikannya pada Romi. Lalu di lempar ke lantai dan menghancurkannya. Cem menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Romi kemudian memegang tangan Cem dan mengajaknya keluar.
Cem melihat seluruh rumah terlalu sepi. Tidak ada siapapun "kemana?kemana semua orang"
"Romi!" suara lemah Nyonya memanggil Romi.
"Silviiiiiii!!!" teriak Romi.
"Silvi ?" batin Cem.
"Bawa mama kembali tidur"
Mamanya hanya membelalakkan matanya. dan Cem kaget melihat Silvi membantu Romi.
"Apa yang terjadi? Kenapa mbak Silvi bisa melakukan ini?" batin Cem.
__ADS_1
*bersambung*