
Romi akhirnya kembali ke perusahaan setelah 1 tahun dirawat dan 2 tahun beristirahat.
Anita, yang tengah hamil muda sangat berat melepas kepergian suaminya karena selama ini mereka selalu bersama.
"My Hobi, aku pasti akan kesepian. Karena biasanya seharian kita selalu sama-sama," Anita memeluk Romi dengan erat tak rela melepaskan suaminya bekerja.
"My Waifai, Mas juga gak tahu harus berbuat apa tanpa kamu." Memeluk Anita dengan erat dan menciumi kepalanya.
"Aku senang bau rambutmu yang baru keramas."
Anita juga sangat senang mencuci rambutnya karena reaksi suaminya yang juga senang mencium rambutnya setelah dia keramas.
"Tuan Romi, sudah saatnya anda berangkat. Karena pukul 9 akan ada pertemuan dengan para eksekutif perusahaan." Ucap asisten baru Romi yang bernama Adi.
Adi adalah asisten yang dipilihkan Pak Didi. Dia adalah seorang yang berprestasi, penerima beasiswa dari Keluarga Rahadi sejak SMP.
Ia memperkenalkan dirinya sejak seminggu yang lalu.
Keahlian dan keuletannya sebagai asisten tidak usah ditanya lagi. Dia juga kompeten dalam pekerjaannya.
Romi kemudian mencium perut Anita.
"Papa berangkat dulu yah, hati-hati sama mama di rumah yah?"
Agak lama dia menatap Anita, ragu meninggalkannya sendirian.
"Kenapa kamu gak ke rumah Mama aja?"
"Hemm, entar aja. Nanti kalau aku kesepian, Aku bakalan minta supir mengantarku ke rumah mama."
"Okelah kalau begitu, bay my Waifai," mencium kening Anita.
"Bay my Hobi." Melambaikan tangannya atas kepergian suaminya.
Dia merasakan sepertinya hari ini akan jadi hari yang panjang untuknya. Selama hampir 3 tahun, mereka selalu bersama setiap hari.
Gila memang, jangan tanyakan.
Karena mereka sedang gila dengan cinta mereka. Apalagi sekarang, Anita sedang hamil, membuat Romi semakin gila.
Setibanya di perusahaan, Romi di sambut oleh Pak Didi dan Eksekutif perusahaan.
Sedikit yang tahu kejadian yang sebenarnya terjadi di dalam keluarga Rahadi. Sehingga ia bisa bekerja dengan normal kembali.
Wanita-wanita yang menyukai Romi karena sikap dinginnya malah lebih menyukainya karena sikap hangatnya yang tersenyum pada setiap pegawai yang ia temui.
Setelah tiba dalam ruangannya, "Adi, aku ingin kamu mencari wanita ini, dan bawa ia secepatnya ke hadapanku. Mungkin Pak Didi tahu di mana wanita itu. Pak Didi cara tercepat kamu membawanya. Dan kalau Pak Didi menanyakannya katakan saja ingin menawarkannya pekerjaan."
Meletakkan map di atas meja yang berisikan data seorang wanita bernama Silvi.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Apa ada yang lain lagi? Untuk jadwal Tuan hari ini, akan ada pertemuan di kota XX untuk pembaharuan kerja sama."
"Apa? hari ini ada kegiatan keluar kota? Ini hari pertamaku. Kenapa kamu tak minta Pak Didi yang mewakili? Aku bahkan tak bilang pada istriku akan keluar kota.
Batalkan kegiatan itu, atau cari siapa saja yang bisa mewakiliku."
"Tapi Tuan, ini sangat penting. Karena itu sa...."
Belum selesei Adi bicara, "Istriku lebih penting. Aku harus menanyakan istriku terlebih dahulu. Lain kali, kalau ingin mengatur jadwalku tanyakan padaku terlebih dahulu. Bagaiman kalaubistrikubtiba-tiba mwmeelukanku. Apalagi sekarang dia tengah hamil," ucapnya kesal.
"Tuan sama sekali berbeda dengan yang saya dengar. Katanya akan mengikuti semua jadwal." Gumam Adi dalam hati.
"Baiklah tuan, saya akan mengatur jadwal Tuan ulang."
"Ahh, satu lagi. Berikan waktu kosong 30 menit di setiap jam agar aku bisa menelepon istriku." Romi langsung mengeluarkan hp nya dan menelepon Anita. Padahal belum 3 jam mereka berpisah.
"Halo My hobi? Apa kamu sudah tiba di kantor?"
"Iya, apa kamu kangen sama aku?"
"Iya, aku kangen sama kamu. Tapi kamu kan baru pergi belum 3 jam yang lalu."
"Itu waktu terlama aku tidak mendengar suaramu."
Lama mereka berbicara hampir satu jam.Tidak tahu apa saja yang dibicarakan. Sementara itu, Adi masih berdiri di dalam ruangan.
"Kenapa kamu masih di sini?" tanyanya setelah menutup telepon.
"Kenapa?"
"Tuan, setiap meeting akan memakan waktu minimal 1 sampai 2 jam. Bagaimana saya akan..."
"Baiklah, setiap 2 jam?"
"Tuan?"
"Oke, terakhir, 3 jam? Bagaimana?"
Adi menghela nafas pelan "Baiklah Tuan, akan saya coba mengaturnya."
Adi lalu keluar. Di mejanya ia meletakkan map yang diberikan Romi. Ia bahkan hampir lupa dengan tugas awal yang diberikan Romi.
"Ahh, kata Pak Didi Tuan Romi ajan bekerja maksimal. Tapi, apa ini? Ia bahkan bernegosiasi denganku agar dapat menelepon istrinya. Sepertinya hariku akan melelahkan."
Sementara itu. Anita yang menyibukkan diri dengan cuci mata melihat perlengkapan bayi dari tadi belum bosan.
"Ternyata menyenangkan juga, aku sudah lama tidak belanja online."
Setiap 3 jam Romi menelpon menganggu keasyikannya yang sedang menjelajahi toko-toko online.
__ADS_1
Sampai dia tak sadar, sudah berapa banyak barang yang ia pesan.
Ia hanya istirahat untuk makan dan masuk kamar mandi. Paket terus berdatangan.
"Nona? Apa anda yakin dengan semua ini?"
Akhirnya ia mengangkat kepalanya, dan melihat barang-barang yang sudah dia beli.
"Haah? Apa aku yang pesan semua ini?" Kaget ia melihat paket yang sudah ia pesan.
Dia langsung melepas hp nya.
"Tunggu, panggil supir supaya membawanya ke mobil. Aku akan membukanya bersama Cem." Ia pun lalu menelepon Romi, memberitahu akan pergi ke rumah mama mertuanya.
"Rezkaaaaaa!!! Tante datang!!" Dia memperlihatkan cheesecake kesukaan Rezka.
"Tante Ta," gadis kecil itu berlari memeluk Anita, lalu mengambil kue yang ada di tangannya, mengucapkan terimabkasih lalu pergi ke dapur.
"Hahahahahahhaha," Cem hanya menertawakan ekspresi Anita yang bengong melihat tingkah Rezka.
"Cem, kamu ajarin apa anakmu? Memeluk orang demi mengambil kue dari tanganku." Cem hanya membalasnya tersenyum.
Matanya melotot ketika beberapa orang membawa masuk sekitar seratus paket lebih ke dalam rumah.
"Apa ini mbak?"
"Hehe, karena kesepian aku tadi buka online shop. Gak sadar ternyata aku sudah belanja sebanyak ini," dia mengangkat bahunya dan langsung masuk ke ruang keluarga.
"Mbak tahu gak, mama juga bakalan beli segudang, padahal barang Rezka masih bisa dipakai sama adiknya." Cem menggeleng.
Akhirnya mereka mebuka paket-paket itu di ruang keluarga. Mereka bercengkrama dan melihat kelucuan Rezka yang penasaran dengan isi setiap paket.
Bahkan, Anita ternyata membelikan Rezka beberapa pakaian dan mainan. Dan juga membeli sepasang setiap barang untuknya dan untuk Cem.
Cem merasa terharu, ternyata istri iparnya ini sangat baik.
Iya, kalau diingat hubungan mereka. Tidak akan ada yang menyangka mereka bisa seakrab ini.
Mereka sangat asyik membuka barang sehingga mereka tidak menghiraukan yang lain.
Sementara itu, Romi marah karena Anita tidak menjawab teleponnya. Begitu juga dengan Cempaka. "Kenapa tidak ada yang menjawab teleponku? Apa mereka baik-baik saja?"
Begitu dia akan beranjak pulang, "Tuan, saya sudah menemukan tempat Silvi bekerja."
"Emmm..Baiklah, bawa dia ke sini besok!"
Dia pun berlalu pulang dan pergi ke rumah mamanya.
Begitu tiba disana ia hampir emosi, tapi begitu melihat istrinya yang bersantai dan terlihat bahahia, ia tidak jadi marah.
__ADS_1
Romi pun mengajak Anita pulang.
*bersambung......