
Romi sudah menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk perusahaannya. Belajar dan terus belajar.
Mengambil keputusan hanya demi keluarga Rahadi. Itu yang Pak Didi ajarkan padanya, tanggung jawabnya sebagai penerus Rahadi.
Dan orang yang mendampingi dia melewati semua kesepian itu adalah Windi.
Ketika Romi sedang serius belajar, Windi akan selalu menemaninya.
Sebelum Gun datang, Windi adalah satu-satunya orang yang menemaninya.
Windi yang merupakan salah satu anak pelayan di rumah Rahadi. Ia keluar dari rumah itu ketika dia berusia 20 tahun karena ibunya meninggal dan Romi 18 tahun. Tapi mereka tetap saling berhubungan.
Windi sudah menyukai Romi sejak mereka masih kecil. Anak laki-laki yang tidak pecicilan seperti anak laki-laki lain.
Sehingga apapun yang Romi katakan, Windi akan selalu mengikuti dan menyetujuinya.
Meskipun Romi tidak pernah menganggap Windi lebih dari sekedar teman.
Sementara Reza yang bisa bermain dengan anak-anak lain. Menurut Windi adalah sesuatu yang tidak adil untuk Romi.
Tapi Romi sendiri juga mengatakannya semua untuk kepentingan dirinya sendiri. Karena dia adalah penerus keluarga Rahadi.
Untuk Romi, perusahaan adalah nomor satu dalam hidupnya, dia sangat terobsesi dengan perusahaan. Dia akan melakukan apapun untuk memajukan dan melindungi perusahaan Keluarga Rahadi.
Meskipun Windi sering melihat Romi menjadi sensitif dan stress berlebihan karena rencana atau apa yang ia lakukan tidak sesuai keinginannya. Tapi Windi tak pernah melihat sekalipun Romi menyakiti orang lain.
Sampai suatu hari, dia mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada Cempaka, semua fokusnya hilang, meskipun dia masih memikirkan perusahaan, apa yang difikirkannya adalah jalan kembali untuk bertemu dengan Cempaka.
Apapun tentang Cempaka. Dia bahkan menyimpan foto Cempaka di hampir semua barang miliknya.
Bahkan ketika Cempaka menolaknya, ia hanya berfikir kalau Cempaka memang masih terlalu muda, sehingga ia akan menunggu Cempaka ketika Cempaka sudah di usia untuk memikirkan pernikahan.
Sementara perasaan Cempaka sendiri, tidak pernah menganggap Romi lebih dari keluarga yang ia sayangi.
Tapi, kedatangan Anita membuatnya semakin kacau. Anita yang menghancurkan harga diri Romi, membuatnya marah. Tapi, ia tetap memikirkan keuntungan perusahaan.
Sebagai penerus dan pemimpin keluarga Rahadi. Romi sangat benci ketika seseorang merendahkannya dan meninggikan suara di hadapannya seperti yang dilakukan Anita.
Di situlah pertama kali Windi mengetahui Romi melakukan kekerasan fisik pada seseorang.
Meskipun secara fisik, bukan Romi yang melakukannya.
Dan Windi yang terluka karena pernikahan Romi, terlepas dari alasan kedua orang tersebut menikah. Windi melakukan sebuah kesalahan fatal dalam hidupnya.
Menyerahkan tubuhnya pada laki-laki yang baru ia kenal. Setelah mengetahui dirinya hamil, ia meminta Romi untuk menikahinya dengan alasan, Ia tak mau anaknya mendapat hinaan.
Romi tentu saja menyetujui permintaan Windi.
Karena Windi adalah teman pertama yang ia punya. Dan Romi tidak terlalu memikirkan resikonya.
Setelah semua itu, semuanya jadi baik-baik saja. Hubungan pernikahan Romi dan Anita menguntungkan kedua belah pihak.
__ADS_1
Pernikahan Romi dan Windi yang meskipun tak diungkap ke publik, meski tak menguntungkan ia tetap melakukannya demi Windi dan putrinya.
Tapi Romi yakin, sejauh apapun dia pergi melangkah, Cempaka akan menerima dia kembali.
Dan hal yang tak terduga pun terjadi, pernikahan Reza dan Cempaka, adalah sesuatu yang tidak direncanakan Romi.
Semenjak berita itu keluar, Romi menjadi lebih pemarah dan cemas. Dia lebih gampang marah dari sebelumnya.
Entah seberapa banyak dia menahan diri di hadapan orang tuanya ketika mengunjungi keluarganya. Begitu ia kembali tubuhnya gemetar menahan amarah.
Iya, tidak boleh ada yang tahu bahwa penerus keluarga Rahadi mengidap penyakit mental.
Dokter menyebutnya OCD (obsessif- compulsif-disorder). Obsesinya terhadap Cempaka dan perusahaannya. Yang membantunya menyembunyikan gejala OCD adalah Gun dan Windi.
Karena Romi tidak ingin di rawat, dokter hanya memberikannya anti-depresan.
Romi sudah lama meminumnya, tapi ia harus menaikkan dosis karena obsesinya pada Cempaka lebih besar dibanding pada perusahaannya.
Bahkan belakangan ini, pujian terhadap kemampuan Reza di perusahaan menambah kemarahan Romi.
Pernikahan Reza dan Cempaka, bahkan Cempaka yang sudah tidur dengan Reza membuat Romi semakin menggila.
Padahal, ia tak pernah menyentuh Anita dan apa yang dilakukan Cempaka adalah penghianatan di mata Romi.
Tapi tentu saja ia tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan Cempaka tidak perduli seberapa marah Romi. Fikir Windi.
.......
"Iya, memang aku tak tahu apa yang sudah Kak Romi lalui. Karena itu aku berusaha keras tidak menilai atau menghakiminya," bela Cem
"Hah, tapi kamu tetap melakukannya kan? menilai dan menghakiminya. Aku sangat kecewa. Apa kamu tahu Romi mencintaimu?"
"Iya, aku melakukannya. Karena itu aku merasa bersalah pada Kak Romi. Untuk perasaan Kak Romi, aku tidak merasa bertanggung jawab. Perasaan Kak Romi, adalah miliknya sendiri. Kalau sudah selesei bicara, aku permisi." Cem langsung meninggalkan Windi.
Sesampainya di rumah. Cem langsung masuk ke dapur.
"Bi Wati, bisa masakin Cem sup kerang? kayaknya enak deh. Daging empuknya. emmm.. Tapi kerang ada kan?"
Bi Wati yang melihat wajah Nona Mudanya sepertinya mengerti. "Iya Cem, Akan bibi masakkan."
Padahal, tidak ada kerang. Tapi Bi Wati langsung menyuruh seorang pelayan lain pergi membelinya.
Setelah masak, Cem hanya memakannya sesendok dan langsung kembali ke kamarnya.
Cem yang dari tadi, melihat handphone nya belum menerima balasan dari suaminya maupun Pak Didi. Memikirkan mereka sedang sibuk, Cem merasa sedih.
Tapi teringat ucapan Reza kalau Romi sering minta izin. Diapun memutuskan menelpon Romi untuk menanyakan kabarnya.
"Kak Romi?"
"Cem?" suara Romi terdengar sangat semangat.
__ADS_1
"Kakak baik-baik aja kan? Aku dengar kakak lagi gak enak badan," tanya Cem khawatir.
"Gak, Kak Romi sudah baik sekarang"
"Ya sudah, kakak jaga kesehatan baik-baik!"
Terlepas dari apa yang dilakukan Romi terhadap Anita ataupun Dini, ia sangat perduli pada Romi, karena dia juga yang menyambut Cem dengan hangat ke dalam rumah ini ketika pertama kali datang.
Karena ngantuk Cem pun akhirnya tertidur.
......
"aaaaahh siaaalll" Windi menggerutu setelah menghempaskan dirinya di atas sofa.
"Kenapa?" tanya Romi yang kelihatan senang dan lebih baik.
"Aku lupa jemput Aleka," kata Windi menegakkan posisi duduknya.
"Biarkan Gun yang menjemputnya!"
"Kamu kenapa kelihatan senang?"
"Cem meneleponku, dia menanyakan kabarku. Dan dia pasti masih percaya padaku."
"Tidak, dia tidak mempercayaimu. Dia hanya menanyakanmu karena khawatir."
"Apa maksudmu?"
"Sudah sebulan lebih, Rom. Kamu menunggunya menanyakan tentang Anita. Tapi setelah sebulan lebih pun dia hanya menanyakan kabarmu. Dan kamu tau yang lebih mengecawakan apa? Dia merekam pembicaraan kita terang-terangan seperti Pak Didi lakukan."
"Mengingat karakter Cem, yang kamu bilang. Harusnya dia sudah menelponmu hari itu juga. Tapi mungkin Pak Didi mempengaruhinya?" tambah Windi sambil mengangkat bahunya.
Entah kenapa, Windi hanya ingin menyadarkan Romi, bahwa tidak ada harapan antara dia dan Cem.
Agar dia membenci dan melupakan Cem yang tidak percaya padanya. Padahal ia sendiri tahu, seberapa besar obsesinya terhadap Cem.
Dan juga dia mendapat informasi dari perusahaan kalau Reza yang memimpin meeting hari ini berhasil mendapatkan proyek besar untuk perusahaan.
Dan semua orang memujinya.
Romi sudah bekerja di perusahaan selama lebih dari 7 tahun, 3 tahun pengalihan kekuasaan. Tapi apa yang di raih Reza jauh lebih besar, setelah 3 tahun Romi menduduki jabatan sebagai Presdir.
Windi memberitahu Romi informasi yang dia dapat.
Romi yang mendengar berita itu tentu saja langsung naik pitam.
"Jangan-jangan, Pak tua itu lagi?" Romi kemudian bangun dan mengambil kunci mobil Windi.
"Rom? Romiiii!" Romi sudah melaju kencang.
*bersambung......
__ADS_1