
Bulan kelima, Romi di rawat di tempat rehabilitasi di temani Anita. Ia mengalami kemajuan sangat pesat.
Tapi, dia masih belum diperkenankan melihat Cem secara langsung. Hanya gambar wajah Cem di setiap sesi terapi.
Tetapi perlahan ia sudah mulai sadar, bahwa apa yang dilakukan Cem adalah hal normal yang juga akan dilakukan orang lain pada orang yang disayangi.
Hari itu, Romi memutuskan menemui Dini dan ibunya. Ditemani Anita. Mereka hanya diizinkan keluar untuk satu hari.
Romi mengetuk pintu kamar Dini. Dia merasa sangat gugup.
"aku harus bisa mengatasi ini. Ini adalah salahku dan aku yang harus bertanggung jawab." batin Romi.
Sementara Anita, di sampingnya.
Meraih tangan kiri Romi yang sejak tadi gemetar.
Dia meremasnya pelan. "Aku akan menemani kamu. Aku tahu kamu pasti bisa." bisik Anita kemudian mengecup pipi Romi.
Romi membelalakkan matanya. Anita hanya tersenyum malu.
Lalu ibunya Dini membukakan pintu. Ia kaget melihat Romi berdiri di depan pintu. Tapi langsung mempersilahkannya masuk.
"Masuklah!" ucapnya.
Romi dan Anita kemudian masuk.
Romi memang mendengar keadaan Dini yang semakin kritis dan pernah melihatnya. Tapi dia berubah drastis dari apa yang dilihat Romi terakhir kali.
"Romi," ucap Dini dengan senyum lemah.
"Dini" jawab Romi. Ia berjalan mendekati Dini yang tengah terbaring lemah.
"Sepertinya waktuku sudah dekat, ehemm. orang yang pernah paling aku benci akhirnya datang. hemm," ucap Dini dengan sela nafas yang sangat lemah dan tersenyum.
"Dini, aku benar-benar minta maaf. Aku...." tidak dapat berkata-kata. Karena Romi tahu tidak ada kata yang mewakili kata maafnya.
Dini tersenyum. "Sudahlah, aku yakin kamu tidak pernah mengucapkan permintaan maaf sebelumnya. Tapi aku faham," ucap Dini dengan lemah.
Hati manusia itu rumit, tapi hati manusia juga bisa jadi hal paling mudah dimengerti.
Saat kamu mengerti, hati yang dulu membenci sudah tidak ada gunanya, dengan sendirinya kadang kamu mengikhlaskannya atau melupakannya.
Tidak sedikitpun Dini membayangkan bahwa Romi akan datang meminta maaf padanya.
Semenjak kedatangan Reza dia sudah memutuskan untuk melupakan semuanya.
__ADS_1
Tapi kini di hadapannya berdiri laki-laki yang berhasil mengubah isi kepala dan pendiriannya saat itu. Orang yang berhasil mengusik rasa percaya dirinya.
Ibunya hanya diam melihat anak-anak itu.
Meski terbesit sakit hati di hatinya. Ia juga tahu bahwa setiap orang punya andilnya masing-masing.
Lagipula ia juga bukan orang suci yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Romi tiba-tiba berlutut
"Bibi, maafkan aku. Tidak ada kata yang pantas aku ucapakan. Bahkan aku mungkin tidak mempunyai hak untuk meminta maaf. Aku sudah banyak melakukan kesalahan dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas aku ucapakan." Romi menangis dan berlutut.
Anita yang melihat laki-laki yang dicintai dengan sisi rapuhnya itu, ikut menangis dalam diam. Seolah mengerti penderitaan dan beban yang ia tanam dalam hatinya.
"Romi, berdirilah. Aku juga bukan manusia yang tidak bersalah. Aku juga sudah menyakiti orang lain. Mari kita maafkan semua kealahan masa lalu." ucap ibunya Dini dan menepuk punggung Romi.
Mereka terdiam sesaat.
Meminta maaf dan memaafkan.
Mereka pun meninggalkan Dini dan ibunya kemudian kembali ke tempat rehabilitasi.
Sementara Romi dan Anita sibuk dengan rehabilitasi dan perawatan mereka.
"Cem, Mas udah gak kuat nih." ucap Reza memohon pada Cem.
"Gak mau, Mas harus habisin. Melihat Mas Reza makan itu kan dede bayinya bahagia." Ucap Cem yang memaksa Reza memakan buah petai yang sangat dibenci Reza.
Mata Reza sudah mengeluarkan air mata karena memaksakan diri untuk memakannya, meski belum habis satu bijipun.
"Maafkan mama yah, karena memanfaatkan kamu demi ngerjain Papa." Cem mengelus perutnya dan berbisik cekikikan.
Iya, ini adalah pembalasan dendam Cempaka karena dikerjai Reza sehari sebelumnya yang mengambil gambar saat dia tidur seperti paus dan menganga, setelah itu ia menunjukannya pada pelayan dan orang tuanya. Habis hari itu dia ditertawakan oleh seisi rumah.
Menurut Reza ia sangat imut di foto itu. Tapi tentu saja bebeda dengan Cem, wanita mana yang ingin dilihat dalam keadaan memalukan seperti itu.
Karena kasihan melihat suaminya yang sudah menangis. Ia pun meninggalkan suaminya di dapur.
"Sah..yang?mau ke mana? aku gak perlu makan ini lagi kan? uugghh.." ucap Reza yang merasa mual setelah satu gigitan dan kunyahan petai.
"Iya, gak usah. Aku mau tidur dulu," ucap Cem kembali ke kamar.
Mereka menghabiskan waktu dengan mengerjai satu sama lain. Menjengkelkan sekaligus menghibur.
Usia kandungan Cempaka sudah menginjak 7 bulan. Karena itu untuk sementara kamar Cem dan Reza berpindah ke lantai bawah.
__ADS_1
Dan meski mengalami dan melewati keadaan stress ia sangat bersyukur bayinya sangat kuat.
Beberapa minggu kemudian, Cem mendapatkan telepon dari bibinya yang mengabarkan tentang kematian Dini.
Cem merasa sangat sedih, tapi juga ia bersyukur karena Dini tidak perlu menderita lebih lama lagi.
Karena apa yang dirasakannya hanya menahan sakit sementara dokter pun sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Reza juga ikut bersedih.
Di sisi lain juga merasa sedih dan bahagia untuk Dini.
Sementara, di dalam ruangan itu, wanita yang sedang menangis seorang diri.
Dia berusaha tak meratapi kepergian putrinya.
Wanita yang sudah berusaha keras untuk melawan penyakit anaknya hanya bisa menangisi dan berdoa untuk anaknya.
"Bibi!" Cem menyentuh bahu bibinya. Begitu mendapatkan kabar, dia dan Reza langsung ke tempat Dini di rawat.
Karena dia tahu, bibi dan sepupunya itu tidak mempunyai rumah sejak 10 tahun yang lalu. Sehingga besar kemungkinan Ia akan dimakamkan di lokasi tempat Dini dirawat..
"Cem!" bibinya menangis memeluk Cem. Terasa berbeda ketika menangis sendiri dan ada orang yang memelukmu dan menemanimu ketika kau bersedih.
Mereka beedua akhirnya menangis. Reza yang melihat mereka matanya ikut berkaca-kaca.
Tidak berselang lama kemudian, Romi dan Anita datang.
Reza dan Cem sangat terkejut dengan kedatangan mereka.
"Reza, Cem!" tegur Romi.
"Kak Romi!" tegur Cem kembali.
Mereka lalu masuk menyampaikan rasa bela sungkawa pada Ibunya Dini.
Sebelum mereka pulang, Romi meminta izin untu bicara dengan Cem.
"Tapi, Rom. Kata dokter. Bagaimana nanti kalau kamu..." ucap Anita ragu.
"Nit, aku gak tau kapan lagi aku akan bertemu Cem secara kebetulan. Hari ini aku sudah mengumpulkan keberanianku untuk menghadapinya. Kalian boleh menemani kami."
"Aku akan menemani bibi di sini," Ucap Reza setelah melihat ekspresi Cem yang yakin.
Anita yang masih menyimpan khawatir, memilih mengikuti Cem dan Romi dari jarak yang agak jauh.
*bersambung......
__ADS_1