Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Move On


__ADS_3

"Pada satu titik kamu harus mengerti, bahwa beberapa orang akan tinggal di hatimu


tapi tidak di hidupmu."


Romi dan Cempaka, berdiri berdampingan di taman rumah sakit dan melihat ke kejauhan.


"Cem, terima kasih," ucap Romi yang masih melihat jauh ke depan.


"Aku lihat Kak Romi menikmati waktu bersama Mbak Anita." Ucap Cem mebalas.


Romi melihat ke arah Cem.


"Kak Romi hanya kelihatan berbeda. Lebih bahagia." lanjut Cem


"Iya, sepertinya aku bahagia. Tidak, aku bahagia. Bukan hanya 'sepertinya'. Anita gadis yang baik." Romi tersenyum mengingat apa saja yang dilakukan Anita untuk mereka.


Cem yang melihat Romi tersenyum merasa lega.


"Kamu adalah gadis pertama yang membuat kak Romi merasakan hangatnya sebuah perhatian.


Sehingga Kak Romi begitu serakah ingin memilikinya.


Karena selama ini Kak Romi tidak pernah memiliki apa yang kakak mau." Romi hanya menghela nafasnya.


"Cem, apa kamu masih takut kepada kak Romi?" tanya Romi


Cem menggeleng


"Hari di mana kak Romi bawa aku pergi, aku janji sama Mama untuk bawa kak Romi pulang.


Tapi aku terlalu egois untuk memikirkan perasaan Mama dan menepati janjiku.


Aku ketakutan memikirkan hidupku tanpa Mas Reza, itu yang membuatku takut dan berlari keluar.


Kakak tahu, kadang perbuatan yang kita lakukan saat marah, bukanlah perbutan yang ingin kita lakukan pada orang lain.


Dan aku tak ingin Kak Romi melakukannya."


"Jika dapat mengulang kembali. Kakak tetap akan menyukai Cem, meskipun Cem tidak pernah menyukai kakak.


Hanya saja kakak akan melakukannya dengan berbeda.


Cem, akan menjadi badai yang menyapu semua keraguan hati kak Romi, sehingga setelah itu kak Romi bisa melihat dengan jelas cinta yang akan datang ke arah Kakak."


Cem tersenyum. "Dan sekarang cinta itu ada di belakang kita yang sedang khawatir apa yang akan dilakukan oleh kekasihnya. hehhehehee."


Romi berbalik melihat Anita yang duduk agak jauh di belakang mereka. Anita melambai ketika melihat Romi melihatnya.


"Dia memang selalu khawatir," ucap Romi


"Aku bersyukur ada orang yang mengkhawatirkan Kak Romi. Meski kita semua memang mengkhawatirkan Kak Romi dengan cara yang berbeda.


Aku harap, kakak segera baikan dan kita bisa kumpul bareng keluarga." Cem tersenyum kemudian menepuk punggung Romi.


"Ayo kita kembali!" Cem berjalan kembali lebih dulu.

__ADS_1


Romi masih menatap kejauhan ketika Anita datang berdiri di sampingnya.


"Terima kasih, karena mencintaiku, terima kasih karena bersedia tinggal disisiku. Terima kasih karena sudah melamarku.


Mungkin dan mungkin saja apa yang terjadi adalah hal yang memang harusnya terjadi."


Romi kemudian berbalik menatap Anita.


Anita hanya melihatnya bingung setelah mendengar ucapan Romi.


Romi memeluk Anita dengan erat.


Anita merasa sangat senang, karena ini adalah pertama kalinya Romi yang melakukan kontak fisik terlebih dahulu.


Anita balas memeluk Romi dengan erat. Setelah agak lama mereka memutuskan kembali ke ruangan Dini.


Sementara itu.


"Bi!" ucap Cem lirih pada bibinya yang masih menangis.


"Kenapa bibi tidak ikut denganku dan Mas Reza? Kami bahkan sudah menyiapkan kamar untuk Bibi.


Mama sama Papa juga setuju.


Karena kata Mama wanita itu kalau hamil dan melahirkan ingin keluarganya ada di sampingnya," bujuk Cem agar bibinya mau ikut dengannya. Karena bibinya sudah tak punya siapa-siapa dan apa-apa lagi.


"Bibi, mana punya hak untuk jadi keluarga Cem. Setelah membawa lari uang yang harusnya bibi gunakan membesarkan Cem. Bibi sudah kehilangan hak itu," ucap bibinya.


"Bi, kalau bibi gak ninggalin Cem di panti. mungkin Cem gak akan ketemu sama Mama dan keluarga Cem yang sekarang. Jadi Cem juga berterima kasih sama bibi."


Beberapa bulan kemudian. Waktunya Cem melahirkan.


Orang sudah kalang kabut di rumah itu menyiapkan persalinan Cempaka.


"Aku kan sudah bilang dari kemarin suruh mas siaga. aaaahhhhh," ucap Cem yang marah-marah karena perlengkapan yang belum siap.


"Kok kamuu malah nyalahin Mas, ini kan 2 minggu lebih awal dari prediksi dokter."


Reza kemudian mengambil posisi menggendong Cempaka, kemudian membawanya ke mobil.


Setelah di mobil, Cempaka mengalami kontraksi lagi. Seperti di film-film Reza menawarkan tangannya supaya istrinya bisa kuat bertahan.


"aaaaaahhhhhhh..mAaaassss," ucap Cem meremas tangan Reza tadi.


wajahnya berubah masam.


"aku benar-benar harus berhenti nonton film romantis. Di film laki-lakinya begitu kuat menahan remasan istrinya. Tapi ini sakit sekali," batin Reza.


Ketika sampai rumah sakit, Reza yang ikut ke ruang bersalin karena diminta Cem, pingsan setelah melihat bayinya keluar dari tubuh Cem, dia bahagia tapi tidak bisa menahan rasa gelap di matanya.


Setelah semuanya selesei, Cem dan bayinya dipindahkan ke ruang rawat. Reza yang pingsan juga ada di atas tempat tidur rumah sakit di kamar yang sama dengan Cem dan bayinya.


Setelah mendengar suara tawa, akhirnya Reza terbangun.


Seluruh keluarganya sudah ada dalam ruangan kecuali Romi dan Anita.

__ADS_1


Mereka tidak diizinkan keluar karena sebelumnya sudah sering meminta izin.


Jadi mereka hanya menggunakan video call untuk bicara bersama.


Wajah Reza sudah dipenuhi coretan atas ide Cempaka.


Reza yang sudah terbangun itu langsung melakukan video call dengan Romi. Ia ingin pamer ke kakaknya tentang anaknya.


Sementara Romi dan Anita malah tertawa melihat wajah Reza di layar hp mereka.


Reza tidak memperhatikan wajahnya.


"Kak lihat putriku dia cantikkan?" Reza mendekatkan kameranya ke wajah putrinya.


"aaahh..aku sangat ingin menggendongnya," ucap Anita agak merengek.


Sementara keluarga lain yang memperhatikan Reza menahan tawa mereka.


Cem masih tertidur setelah memberi ide untuk menjahili suaminya, dia tertidur karena lelah.


Reza tidak memperhatikan wajahnya di layar.


"Mas Reza?" Cem terbangun.


"Sayang, sudah bangun? kamu sudah kasi tau nama bayi kita?" Reza berjalan mendekati Cem ingin mencium keningnya.


Cem yang berusaha menahan tawa mendorong tubuh Reza pelan.


"Kenapa?" tanyanya heran.


"hahahahha, Mas tolong deh," belum selesei bicara, beberapa perawat dan seorang dokter masuk ke ruangan Cem.


Mereka pun melihat wajah Reza.


"Deja Vu lagi" fikir Reza.


Reza masuk ke kamar mandi dan melihat dirinya di cermin.


"Ceeeem!!" di keningnya tertulis "baru jadi ayah"


matanya di pasangkan eye shadow, bibirnya di pasangkan lipstik yang berantakan.


Sementara orang di dalam ruangan lain hanya cekikikan menahan tawa. Reza keluar dari kamar mandi tanpa menghapus riasannya.


Setelah dokter menanyakan keadaan Cem dan memeriksa bayinya. Mereka pun keluar meninggalkan ruangan Cem.


Reza berjalan ke arah Cempaka.


Mencium seluruh wajahnya "terima kasih sudah melahirkan anakku, terima kasih sudah mencintaiku. Terima kasih atas kebahagiaan yang kamu bawa ke dalam keluargaku." Reza mengecup istrinya di setiap kalimat yang ia ucapkan.


Mata Cem sudah berkaca-kaca tapi ia tidak bisa serius mendengar suaminya mengucapkan itu semua dengan wajah seperti itu.


Mereka pun memperkenalkan putrinya yang diberi nama Rezka, gabungan nama Reza dan Cempaka.


*bersambung....

__ADS_1


__ADS_2