Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Maaf, lagi-lagi Maaf


__ADS_3

Ketika kamu melakukan banyak kesalahan, tentu saja hal yang bisa kamu lakukan minta maaf dan berusaha memperbaikinya.


Bahkan kadang seribu kali maaf untuk satu kesalahan tidak akan pernah cukup untuk menebusnya.


Tapi Tuhan memberkati hati kita dengan banyak emosi.


Tidak perduli sedalam apa lukamu, kamu masih bisa mencintai.


Tidak perduli, seburuk apa kenanganmu dengan seseorang, akan tergantikan dengan kenangan baru dan ingatan baru.


Tidak perduli semarah apa dirimu, kamu masih bisa memaafkan.


____________________________________


Hari ini Romi memutuskan untuk mengunjungi Silvi untuk meminta maaf dan Dia mengajak Anita bersamanya.


Di atas mobil, Romi sudah merasa gugup.


Karena ia tahu, akibat perbuatannya wanita itu kehilanagan pekerjaannya, dan kesusahan membiayai putrinya.


Akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit di mana anak Silvi di rawat.


Romi masih berdiri di depan ruangan, Anita berdiri di sampingnya dan menggenggam tangan suaminya.


Akhirnya dia memberanikan diri mengetuk pintu.


"Ya, masuk."


Romi dan Anita masuk, tapi bukan Silvi melainkan bibi Silvi yang menyambut mereka.


"Anda ingin cari siapa?" Bibinya melihat kedua orang itu sambil tersenyum.


"Silvi ada?" Romi bertanya matanya langsung tertuju pada Putri Silvi yang terbaring di atas tempat tidur. Matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis.


Vivi lalu menatap kedua orang itu dengan mata lelahnya sambil tersenyum tipis. Tanpa di sadari Romi meraih tangan gadis kecil itu.


"Maafkan aku! Kamu adalah gadis yang kuat."


Romi membayangkan, betapa menyakitkan berada di rumah sakit sepanjang waktu, sementara sedikit mendapatkan kasih sayang ibunya karena sibuk bekerja demi membiayai putrinya.


Air mata Romi mulai mengalir deras.


Bibi Silvi yang sejak tadi melihat, tidak bisa mengatakan apa-apa.


Anita ikut menitikkan air mata.


"Bi, maaf. Aku telat lagi." Ucap Silvi yang masuk buru-buru dan melepaskan jaketnya.

__ADS_1


Langkahnya seketika terhenti ketika melihat Romi.


Matanya bergetar, dia sama sekali tidak menyangka bahwa akan bertemu Romi di rumah sakit.


Sementara Romi yang melihat Silvi masuk, langsung melepas tangan Vivi, tak mau Silvi merasa marah.


"Tuan Romi, Nona Anita. Ada apa anda berdua di sini?" Silvi menggeleng. Dia kembali memakai jaketnya.


"Lebih baik kita bicara di kafe bawah saja. Bi, bisa kan tunggu sebentar?." Bibinya mengangguk dan tersenyum.


Kedua orang itu hanya mengikuti Silvi. Mereka berjalan berdampingan sambil bergandengan , karena Romi merasa gugup.


Silvi mengelap kursi dan dengan tisyu yang dia bawa. "Silahkan duduk. Anda berdua mau minum apa?" Sebenarnya Silvi lebih merasa gugup karena tak tahu apa alasan Romi mencarinya hingga ke rumah sakit.


Mereka berdua menggelengkan kepalanya.


"Silvi," Romi memanggil Silvi.


"Kamu bisa duduk." Silvi pun akhirnya duduk beehadapan dengan Romi dan Anita.


"Aku ingin minta maaf, Aku benar benar ingin minta maaf padamu." Ucap Romi.


"Tuan Romi!" ucap Silvi pelan.


"Melihat putrimu, aku benar-benar sadar atas apa yang aku lakukan padamu. Maafkan aku." air mata Romi mulai keluar, membayangkan seandainya Anita adalah wanita yang berjuang bersama putri mereka.


Silvi menjadi lebih kaget. Bagaimana bisa ia melihat Romi menangis sesegukan seperti itu. Karena gambaran terakhir tentang Romi sangat berbeda dengan saat ini.


Ia menunggu sampai Romi menjadi tenang.


"Itu semua salah saya, kita tidak bisa menyalahkan kelemahan kita sebagai akibat perbuatan orang lain." Silvi tersenyum.


"Entah kenapa, saya tidak marah pada Tuan.


Saya hanya sedih karena saya sudah sangat mengecewakan Pak Didi." Silvi menghela nafasnya.


"Mungkin bagi Pak Didi saya hanyalah 1 dari pegawai keluarga Rahadi yang ia bantu.


Tapi bagi saya beliau adalah cahaya di hari saya yang lelah.


Karena itu saya sangat malu dan tidak bisa memaafkan kesalahan saya." Mata Silvi berkaca-kaca mengingat cintanya yang bertepuk sebelah tangan dan tak akan pernah terbalaskan.


Romi dan Anita menatap satu sama lain. Seolah berfikiran sama mereka tak mengatakan apapun.


"Emm, Silvi, sebenarnya aku ingin meminta bekerja padaku. Untuk menjadi asisten pribadi Anita. Karena dia hamil, dan aku akan mulai sibuk."


Silvi langsung menggeleng cepat. "Tidak Tuan Romi, saya mohon maaf sebelumnya. Saya tidak bisa berhadapan langsung dengan Pak Didi atau dengan siapapun dalam keluarga Tuan."

__ADS_1


"Kalau kamu memikirkan hal itu, aku adalah orang yang tidak berhak sama sekali untuk kembali. Setelah membuat banyak orang menderita.


Bahkan meskipun begitu, kamu masih mau bicara padaku. Dan keluargaku, jangan kamu tanya, mereka sudah memaafkanmu."


"iya, Silvi. Aku juga tidak kalah bersalahnya. Dan sekarang kami sedang menanti anak kami. Setelah melihat putrimu. Kami tau kesalahan besar apa yang sudah kami perbuat.


Emm, dan juga selama kamu bekerja untuk kami bukankah kamu bisa bertemu dengan Pak Didi?" ucap Anita sedikit menggoda Silvi.


Silvi merasa wajahnya akan meledak sebentar lagi. "Emmm, apa yang sedang anda bicarakan?"


Anita menghela nafasnya. "Apa kamu sudah pernah mencobanya?"


"Mencoba apa Nona?" Silvi bingung.


"Mencoba mendekati Pak Didi."


"Hah? Tidak, Tidak, saya bahagia hanya melayaninya sebagai asisten. Saya seorang janda dan beranak satu yang sakit-sakitan.


Laki-laki mana yang mau menerima wanita dengan beban sebanyak ini?"


"Kamu tidak akan tahu sebelum mencobanya. Kamu bisa bekerja denganku, sambil menggoda Pak Didi. Bagaimana?"


"Hahahaha, Nona , Tuan, saya mohon hentikan bercandaan ini. Saya akan terima pekerjaan ini. Tapi tolong rahasiakan dari pak Didi."


"Kamu tau kan, kalau menjaga rahasia dari Pak Didi akan jadi hal yang sulit? Jadi, manfaatkan keadaan. Cinta butuh perjuangan.


Dan aku yakin, kamu pasti berhasil." ucap Anita membujuk Silvi.


"Baiklah Nona, Tuan. Saya terima pekrjaannya, dan tentang Pak Didi, saya akan berjalan ke mana angin bertiup saja."


"Baiklah, kalau begitu kita sepakat. Datanglah ke kantorku besok. Kita akan bicarakan rinciannya." Romi mengulurkan tangannya menjabat tangan Silvi begitu juga dengan Anita.


Akhirnya pulang dengan tersenyum.


Di atas mobil, mereka duduk berpelukan.


"Kita ini, datang meminta maaf dan cari pegawai, atau cari jodoh untuk pak Didi?" tiba-tiba Anita bicara sambil tertawa kecil.


"Hahhaaha. kamu benar. Aku gak nyangka.


Mereka sepertinya saling menyukai."


"Kita hanya tinggal berharap, bahwa masing-masing mereka akan memberikan kesempatan pada satu sama lain. Dan bisa menyatakan perasaan mereka."


"Iya, kamu benar." Ucap Romi yang mengeratkan pelukannya disekitar tubuh istrinya dan Anita melakukan hal yang sama.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2