Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Perasaan Silvi


__ADS_3

Setelah Silvi mengundurkan diri dan bersembunyi.


Pak Didi berusaha menemukannya.


Belum sebulan dia sudah menemukan lokasi Silvi.


Sejak di rawatnya Romi, Reza yang tidak ingin menggantikan Romi, Tuan Wisnu yang tidak ingin kembali ke perusahaan.


Sehingga semua beban Pak Didilah yang mengurusnya.


Hanya saja dengan kuasa Tuan Wisnu.


Meski sibuk, Pak Didi menyempatkan bertemu dan bicara secara langsung dengan Silvi.


Karena dia juga tahu, bahwa itu semua bukanlah sepenuhnya kesalahannya.


Dia sudah mencari tahu, bahwa Kakaknya Silvi mengambil uang operasi anaknya.


Meski dia tidak mengerti bagian. Kenapa Silvi tidak minta tolong padanya. Atau meminjam uang padanya.


Mereka berdua sedang duduk di bangku taman rumah sakit.


"Kenapa kamu mengundurkan diri?" ucap Pak Didi tiba-tiba tanpa basa-basi.


Silvi tidak bisa menjawabnya ataupun mengucapkannnya.


Meski berulang kali ia mengatur kata-kata agar bisa menjawab pertanyaan Pak Didi.


"Kenapa Pak Didi mempertanyakannya? Bukannya sudah jelas apa kesalahan saya?"


"Kembalilah! Semuanya sudah baik-baik saja. Nona Cempaka, dan yang lainnya baik-baik saja. Jika hal itu membuatmu merasa bersalah."


"Saya...." Silvi bermain dengan jari-jarinya di atas pangkuannya. Dia tidak bisa menatap Didi. Malu, bersalah, menyesal perasaannya bercampur aduk.


"Bagaimana bisa aku kembali, setelah mengecewakan banyak orang? Nyawa mbak Cempaka bisa saja melayang." batinnya.


"Terima kasih atas tawaran Pak Didi. Tapi saya gak akan kembali. Saya juga punya rasa malu." Dia menghela nafas dan berdiri.


"Permisi Pak. Bapak silahkan kembali dan tidak perlu datang kembali ke sini." berjalan dan meninggalkan Didi.


Dan wanita itupun pergi meninggalkan Didi.


Begitu ia memasuki kamar putrinya. Ia mulai menangis dan duduk dilantai. Bibinya yang melihat, "Kamu kenapa?"


Setelah suaminya meninggalkannya dan dia harus bekerja untuk biaya rumah sakit putrinya. Semua orang selalu merendahkannya.


Teman-teman yang selalu mengandalkannya hilang entah ke mana begitu ia membutuhkan bantuan mereka.


Teman-teman yang hanya seberapa, yang bisa menerima bahwa dia adalah anak hasil selingkuhan. Semuanya menghilang.

__ADS_1


Meski dia bekerja untuk keluarga Rahadi, dia tidak mendapatkan atasan yang baik. Atasan yang selalu memarahinya dan tidak mengerti kondisinya. Sebelum ia menjadi bawahan Didi.


Ia tahu bahwa ia salah karena selalu datang terlambat. Terlambat paling lama sekitar 30 menit ketika bisnya sudah lewat. Tapi ia juga selalu mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Dia tidak teledor.


Menjadi asisten bukanlah pekerjaan mudah. Sebelum menikah Ia sudah bekerja sebagai asisten di usia 18 tahun.


Di usia 25 tahun dia berhenti karena suaminya menyuruhnya fokus menjadi ibu rumah tangga. Ia pun menurutinya.


Tapi keterampilannya dalam mengurus, menata semuanya sangatlah baik.


Tapi ketika anaknya mulai kumat atau gejala lain mulai timbul, hal-hal yang tidak dapat ia prediksi tentu saja menghambat pekerjaannya.


Karena itu setiap hari ia selalu di damprat atasannya.


Ia juga tau, meski perusahaan mengerti, tapi tidak dengan atasannya. Belum lagi rekan yang selalu protes, menganggap ia mendapat perlakuan lebih.


Hingga suatu hari, Pak Didi meminta ia ke kantornya. Dan meminta Silvi menjadi salah satu asistennya.


Pak Didi memiliki banyak asisten, yang mempunyai pekerjaannya masing-masing.


Awalnya ia hanya membantu pekerjaan asisten lain. Itupun tidak memakan waktunya. Karena asisten lain juga tertata dan melakukan pekerjaan masing-masing dengan baik.


Sehingga tak jarang ia merasa minder karena tak punya pekerjaan penting seperti asisten lain.


Ketika semua orang sudah pulang, Pak Didi yang bekerja sambil menunggu Tuan Wisnu menyelesaikan pekerjaannya, Silvi pun memutuskan untuk bertanya pada Pak Didi.


Dia mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk.


Silvi merasa gugup. Karena Pak Didi terkenal dengan sikap dinginnya dalam menghadapi nasalah. Jadi dia ragu untuk bertanya.


"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya pak Didi lagi.


"Apa saya tidak pantas mendapatkan pekerjaan layaknya asisten lain?"


"Kenapa kamu merasa seperti itu?"


"Yah, karena selain membantu asisten lain. Saya tidak punya pekerjaan lain."


"Kenapa kamu menanggap pekerjaan itu tidak layak?"


"Kenapa pertanyaanku dijawab dengan pertanyaan sih? Apa ini semacam tes?" batinnya kesal.


Silvi bingung ingin menjawab. Dia tidak berfikir bahwa pekerjaan yang dilakukan begitu penting.


Tapi kalau difikir-fikir lagi asisten yang dia bantu meminta bantuan karena memerlukannya. Tidak pernah mereka memanfaatkan posisi Silvi untuk melakukan pekerjaan yang tidak penting.


Pak Didi yang melihatnya berfikir mulai bicara.


"Pekerjaanmu juga sangat penting. Kami menyebutnya asisten siaga.

__ADS_1


Selain kami tahu waktu pagi mu sangat sibuk, sehingga kami hanya akan meminta bantuan saat diperlukan saja."


"Tapi, apa yang sudah saya terima sangat tidak sesuai dengan apa yang saya kerjakan. Selain biaya rumah sakit putri saya. Dan juga gaji saya....."


Belum selesei bicara, telepon Pak Didi berdering. Pak Didi dengan sigap mengangkatnya sambil bicara di telepon, pak Didi melambaikan tangannya memerintahkan Silvi untuk keluar.


Keluar dari ruangan pak Didi, ia hanya menghela nafasnya. "Apa sekarang? aku malah terlihat seperti orang tak bersyukur. Heeeh."


Semenjak pengalihan kekuasaan dari Tuan Wisnu kepada tuan Romi, Silvi sejak saat itu menjadi asisten yang mengikuti pak Didi dan Tuan Wisnu. Paling sering membantu di rumah dengan urusan Nyonya besar ketika Cempaka berhalangan.


Tapi sesibuk apapun dia, Pak Didi selalu memeberikan dia waktu untuk menjaga anaknya. Kecuali hal itu sangat genting. Karena dia juga sudah bisa menyewa pengasuh.


Lama bersama Pak Didi, dia tahu pak Didi adalah laki-laki yang sangat setia pada keluarga Rahadi. Ia juga membayangkan betapa bahagia jika jadi istrinya. Semua urusan akan diurus dengan baik.


"Tunggu! apa yang kamu fikirkan? Dia hanya begitu terhadap pekerjaan, buktinya dia tidak menikah." memukul kepalanya sendiri.


Meski mengetahui kenyataan itu pun tak membuat ia berhenti jatuh cinta pada Pak Didi.


Usia yang terpaut 12 tahun menurutnya bukanlah halangan. Karena menurutnya Pak Didi masih terlihat muda.


"Pak,ini minumnya!" Silvi menyodorkan segelas jus apel di mejanya.


Pak Didi melihat dari balik buku yang ia pegang. "Oh, terima kasih."


Pak Didi sedikit terkejut karena Silvi tahu apa minuman yang disukai Pak Didi. Karena hampir semua orang mengira Pak Didi peminum kopi. Saat disediakan kopi pun dia tidak akan bilang apa-apa. Tapi dia tidak meminumnya.


Silvi yang melihat Pak Didi langsung meminum jusnya merasa senang. Karena Silvi selalu memperhatikan Pak Didi.


Pak Didi yang kelihatannya cuek, tapi selalu membantunya. Yah, mungkin dia merasa kesepian. Tapi dia juga tidak akan punya waktu untuk urusan pria.


Jadi dia hanya akan menikmati kebersamaannya bersama Pak Didi membantu keluarga Rahadi.


Melihat laki-laki itu datang, memintanya kembali ke perusahaan.


Bagaimana mungkin ia akan jadi perempuan tak tahu malu.


Setelah suaminya meninggalkannya, ia berjanji tak ingin lagi menangis karena laki-laki.


Laki-laki yang ia sukai bahkan tak tahu perasaannya, tetapi selalu membantunya, membuatnya merasa nyaman.


Kadang meski laki-laki itu hanya tersenyum tipis untuknya, sudah membuat detak jantungnya berdegup kencang.


Melihat laki-laki yang menyempatkan waktunya menjenguk putrinya dan mengajaknya berbincang bahkan bersenda gurau, menghangatkan hatinya.


Suaminya saja yang ayah kandung putrinya tidak pernah datang sama sekali sejak mereka bercerai.


Bagaimana ia akan menatap laki-laki itu, jika ia kembali bekerja bersamanya. Rasa bersalahnya tidak hilang begitu saja.


Mengetahui laki-laki yang meski sangat sibuk itu, tetap menjenguk putrinya bahkan setelah 3 tahun ia pergi dari keluarga Rahadi.

__ADS_1


Membuat hatinya semakin sakit, karena semakin mencintai laki-laki itu tapi tak akan bisa mendekat padanya.


*bersambung......


__ADS_2