Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Morning Sickness


__ADS_3

Silvi begitu bangun, langsung siap-siap dan menunggu kedatangan bibinya. Agar dia segera berangkat kerja.


Begitu tiba di tempat kerja, seperti biasa dia akan langsung ke ruang istirahat dan sarapan di sana. Dia selalu datang lebih awal agar mendapat sarapan gratis yang disediakan oleh boss nya untuk kariawan.


"Kak Silvi, ada yang cari." Salah satu rekan Silvi memanggilnya.


"Siapa?"


"Gak tau. Tapi ganteng." perempuan itu cekikikan meninggalkan Silvi.


Silvi pun keluar dari ruang istirahat, melihat sosok laki-laki gagah.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ragu.


"Perkenalkan saya Adi. Saya asisten Tuan Romi." Adi menjabat tangannya, tapi tangan Silvi gemetar.


"Tuan Romi? kenapa dia mencariku? Saya sudah tidak punya urusan lagi dengan tuan Romi. Saya harus segera bekerja. Permisi."


Silvi meninggalkan laki-laki itu dan masuk ke dalam supermarket.


"Kenapa dia sampai gemetaran? Aku bahkan belum menjelaskan tujuan kedatanganku." Adi tidak tahu cerita detailnya sehingga informasi tentang Silvi tidak ada dalam laporannya.


Sementara itu.


Romi terbangun sejak subuh merasakan mual yang luar biasa dari perutnya.


Dia sudah lemas karena bolak balik kamar mandi.


Anita pun menemani dan menepuk punggung suaminya di dalam kamar mandi.


"Aku minta bibi siapin teh jahe dulu," ucap Anita berdiri hendak meninggalkan Romi, tapi ia menarik tangan Anita, menggeleng.


"Kamu di sini aja, uuughhhheeeh." Anita pun diam di kamar mandi menemani dan mengelus punggung suaminya yang mual-mual.


Setelah merasa sedikit lega, Anita menelpon ke dapur untuk dibuatkan air madu dan jahe.


Romi tidak melepas pelukannya dari Anita.


Padahal baru sehari mulai bekerja, tiba-tiba dia mulai ngidam.


"Nona, Tuan, di bawah ada Pak Didi." Ucap salah satu pelayan mengetuk pintu kamar mereka.


"uurrgghhh, kenapa Pak Didi pagi-pagi ke sini. Tuh orang gak istirahat apa?" Sambil kesal Romi bangun. Anita pun ikut bangun.


Tiba-tiba ponsel Romi berdering.

__ADS_1


Anita lebih dulu meninggalkan kamar.


"Nona Anita."


"Pak Didi, emmm... hari ini dia agak sensitif. Jadi tolong jangan terlalu buat dia stress." Agak berbisik pada pak Didi, dia langsung ke dapur dan Pak Didi masih bingung dengan informasi yang disampaikan Anita.


Romi yang telah selesai menerima telepon, akhirnya turun menemui Pak Didi dan duduk di sofa.


"Ada apa Pak?" tanya Romi singkat yang masih lemas karena mualnya.


"Apa anda baik-baik saja? Anda terlihat sangat pucat."


Romi hanya mengangguk lemah.


"Apa perlu saya panggilkan dokter?" tanya Pak Didi.


"Saya sudah panggil, katanya itu hal lumayan sering ditemui. Suami ngidam bersama istri." jelas Anita berusaha menahan tawa. Menyuguhkan suaminya jahe dan madu, dan menyuguhkan kopi pada pak Didi.


"Ada perlu apa? pagi sekali." tanya Romi yang menarik Anita duduk di sampingnya.


Pak Didi ragu bicara karena ada Anita. Romi mengerti. "Ah, Anita sudah tahu. Kalau pak Didi mau bicara masalah Silvi."


"Saya rasa, anda tidak perlu menawarkan Silvi pekerjaan. Saya sudah menawarkannya berulang kali. Tapi dia selalu menolak. Dan.." agak lama Pak Didi melanjutkan bicaranya.


"Dan kenapa?" tanya Romi.


Romi yang heran dengan tingkah Pak Didi yang pagi-pagi datang ke rumahnya hanya untuk melarangnya menganggu Silvi lebih tepatnya menawarkan pekerjaan.


"Apa Pak Didi suka dengan Silvi?"


Membelalak mata pak Didi berbalik melihat ke arah Romi dan kupingnya memerah.


"Haha, Tuan Romi sangat pintar melawak sekarang." Dengan tawa canggungnya.


Anita pun menangkap sikap canggung Pak Didi.


"Saya, hanya membantu pegawai keluarga Rahadi saja." Jawab Pak Didi, kembali dengan wajah normalnya.


"Tapi dia kan sudah berhenti. Aku juga dapat informasi kalau Pak Didi pergi menjenguk putrinya setiap bulan selama 3 tahun, bahkan setelah ia mengundurkan diri. Dan juga sebelum dia mengundurkan diri." Romi mengangkat alisnya.


"Ka... Ehem.. Kalau begitu saya permisi." Pak Didi agak gugup sehingga tak sadar teggorokannya kering. Romi hanya nelihat gelagat Pak Didi.


Pak Didi pun pergi meninggalkan rumah Romi.


"Kayaknya benar deh kata kamu. Pak Didi naksir Silvi." Anita langsung memasang wajah iba.

__ADS_1


"kenapa?"


"Kamu tahu sendiri kan, Pak Didi belum menikah sampai saat ini?"


"yah, itu keputusannya sendiri. Nit, apa begini rasanya..uuuuueeeek." Belum selesei bicara, Romi sudah berlari ke kamar mandi.


Dia kembali dengan kondisi yang sangat lemas. Dan duduk di sofa.


"Tadi Adi menelepon, katanya Silvi menolak untuk datang. Memang harusnya akulah yang pergi dan minta maaf padanya terlebih dahulu."


"Iya, kan memang harusnya begitu. Kan kamu yang salah." ucap Anita tanpa bermaksud apa-apa.


Tapi entah kenapa ucapan Anita sangat menyakiti hati Romi.


"Maafkan aku, karena kamu mempunyai suami yang jahat, tak berperasaan dan hanya perduli pada dirinya sendiri.


Aku memang tak pantas bersama kamu. Aku adalah laki-laki yang penuh dosa dan kesalahan." Air matanya mengalir deras mengucapkan itu semua.


"Romi!!" Anita yang kaget otomatis memeluk Romi.


"Jangan, jangan sentuh aku. Aku hanya lelaki kotor yang tak pantas untuk kamu cintai." mendorong pelan tubuh Anita menjauh dari tubuhnya.


Anita ikut menangis, merasa bersalah membuat suaminya merasa seperti itu lagi.


Melihat Anita menangis, Romi memeluk Anita dan mereka menangis.


"Maafin aku juga. Aku juga banyak melakukan kesalahan." sambil sesegukan mengucapkannya.


Para pelayan yang melihat tidak tahu harus melakukan apa. Kedua majikannya menangis seperti anak kecil yang kehilangan permennya.


"Maafkan saya Tuan dan Nyonya Muda" ucap Adi agak berteriak.


Tangisan mereka pun terhenti setelah mendengar Adi bicara.


"Kenapa kamu harus teriak-teriak?" tanya Romi sambil mengusap wajah dan air matanya.


"Saya sudah memanggil anda berkali-kali. Tapi anda terlalu fokus pada kegiatan Anda." melihat Anita dan Romi karena apa yang mereka lakukan tadi.


"Aku akan pergi menemuinya ke rumah sakit nanti. Siapkan saja mobil." ucap Romi.


"Baik Tuan"


Dengan begitu, Romi pun siap-siap berangkat kerja. Berbeda dengan orang hamil, sehingga ia bisa meredakan mualnya dengan minum obat.


Dan akan mengunjungi Silvi di rumah sakit tempat putrinya dirawat sepulang kerja.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2