
Melihat istrinya tergeletak hampir tak berdaya, benar-benar membuat Reza takut.
Semenjak Cem dibawa ke RS tak sekalipun ia meninggalkan sisi Cem. Menggenggam tangan wanita itu.
Tak berhenti ia berdoa dan merasa bersalah.
Seandainya saja ia mendengar pesan ayahnya dengan baik. Seandainya saja hari itu Dini
dan ibunya tak menelpon, makan ia bisa melihat pesan dari ayahnya.
......
Ketika masih di luar negeri, Mamanya sering menelpon dan membahas gadis yang bernama Cempaka.
Tak pernah habis cerita tentang Cempaka setiap kali menelpon.
Gadis yang baik, polos, tulus, kerja keras dan lain-lain, Mamanya menjelaskan.
Betapa besar keinginan Mamanya mengangkat Cempaka menjadi putrinya.
Tapi Reza tentu saja tidak ingin tertarik dengan wanita seperti itu.
Dan dia tau, bahwa Romi menyukai gadis itu. Karena sempat melihat postingan-postingan Romi di banyak acara dengan gadis itu di belakangnya.
Meski gadis itu sepertinya tak menyadarinya.
Lulus SMA di luar negeri, Reza melanjutkan kuliahnya di sana.
Meski diminta ibunya untuk kembali Reza masih tidak ingin berurusan langsung dengan keluarga Dini.
Iya, meski ia sudah di luar negeri. Tapi masih berhubungan melalui telepon dengan keluarga Dini.
Setelah mengetahui Dini berusaha bunuh diri karena ditinggalkan Reza.
Reza merasa bersalah pada gadis itu.
Rasa kasih sayang yang pernah dia habiskan selama kurang lebih 2 tahun untuk Dini, dalam sekejap menghilang berubah jadi rasa bersalah, kesal, benci , terbebani.
Karena masalah mental yang dialami, Dini harus melakukan perawatan dan semua biayanya Reza yang menanggungnya. Bahkan untuk menenangkannya tak jarang Reza harus bersandiwara masih mencintai Dini.
Dalam masa sulit itu, Reza bertemu dengan Anita. 2 tahun saling mengenal dan menjadi teman dan 2 tahun berikutnya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Awalnya, Anita tak merasa keberatan dengan rasa bersalah yang di tanggung Reza terhadap Dini. Sebagai seorang teman, ia hanya bisa menyemangati saja, fikirnya.
Setelah menjalin hubungan, mendengar kekasihnya menyatakan cinta kepada wanita lain meskipun hanya pura-pura membuat Anita gusar.
Karena pada kenyataanya wanita itu memang pernah dicintai Reza atau memang masih dicintai.
Anita selalu ragu akan perasaan Reza.
Lumayan lama bertahan, Reza lebih memilih rasa bersalahnya dibanding kasihnya pada Anita. Reza ingin memberi waktu pada Anita, untuk memikirkan hubungan mereka.
Tak disangka, Anita malah meminta keluarganya pergi melamar ke rumah Reza atau lebih tepatnya melamar Romi.
Reza tentu merasa marah, kecewa dengan keputusan Anita.
__ADS_1
Berkali-kali mencoba meyakinkan Anita untuk tidak menikahi Romi, berkali-kali juga Anita memaksa Reza melepaskan segala hubungan dengan Dini.
Reza menyerah. Apakah suatu kesalahan ia menyerah? entahlah, Reza sendiri tak tahu.
Saat Pernikahan Romi dan Anita Reza hanya melihatnya dari jauh.
Sebenarnya juga Reza sedikit heran melihat Romi mau menerima lamaran Anita.
Akhirnya memutuskan kembali pulang setelah menyelesaikan S2 nya, agar bisa membantu Papanya di perusahaan atau di manapun dia dibutuhkan nanti.
Selain merindukan orang tua dan rumahnya, ada hal yang juga dinanti Reza, bertemu dengan Cempaka yang merupakan idola di mata orangtuanya.
Meskipun telah berjanji bahwa tak ingin lagi menyukai gadis polos dan baik, Reza tak bisa menghapus rasa penasaran tentang Cempaka.
Terang saja, pertemuan pertama mereka di rumah itu sudah menghibur Reza. Dia mencicipi masakan lezat dari Cem dan tingkah lakunya yang lucu, agak ceroboh dan mudah dijahili membuat Reza semakin tertarik.
Disisi lain juga memiliki karakter yang sigap dan cekatan.
Begitu mengetahui ia adalah adik Dini, di tambah skandal Papanya membuat Reza kembali mengingatkan dirinya bahwa gadis ini akan sama seperti Dini. Sirine peringatan berbunyi di kepala, tapi tidak di hatinya.
Meskipun setelah memarahinya perihal Dini dan skandal membuat ada rasa bersalah, karena menyalahkan Cempaka atas perbuatan Dini yang sama sekali tak ada hubungannya dengan Cem.
Alasannya menyetujui pernikahan, selain membantu ayahnya, mungkin tanpa disadari Reza sudah jauh-jauh hari tertarik pada gadis itu.
Meyakinkan dia membenci gadis seperti Cem justru membuatnya semakin memikirkannya.
Tiga minggu mengenal Cempaka yang sudah tumbuh dewasa, mandiri, cekatan, penyayang dan pekerja keras, membuat iya yakin akan keputusannya.
Bahwa ia ingin menjadikan wanita itu sebagai istrinya dan akan mencintainya layaknya seorang wanita. Meskipun itu harus mengambil langkah pelan dan melupakan sumpahnya.
"hati menginginkan apa yang diinginkannya" membela dirinya yang melanggar sumpahnya.
Kejadian serangan Panik Cempaka ini, semakin meyakinkannya, bahwa ia ingin menjaga Cempaka seumur hidupnya.
Bahkan ia menangis, sambil memberikan nafas buatan ketika ambulans belum datang.
Di rumah sakit pun, ketika lamanya Cem tak sadarkan diri ia menangis dan memohon dokter untuk menyelamatkan istrinya.
Lama ia menunggu, sudah lebih dari 10 jam. Tapi istrinya belum juga sadar.
Dokter mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Tapi ia tetap meminta dokter memeriksanya secara berkala.
Reza mengabarkan orang rumah perihal keadaan Cempaka. Ia hanya bisa minta maaf dan merasa menyesal.
Mamanya berusaha menyuruhnya tenang, agar bisa tegar menemani Cempaka.
Merasa lelah, Reza menyandarkan kepalanya di atas kasur di samping tubuh Cempaka, sementara tangannya memegang tangan istrinya.
Ia tak mau nanti kalau tersadar, Cem sendirian.
Ia terbangun ketika merasakan belaian di kepalanya. Dengan cepat ia bangun dan melihat wajah Cem.
"Kamu sudah sadar? aku panggilkan dokter."
Cem yang melihat wajah khawatir suaminya, meremas pelan tangan Reza yang sejak tadi masih berpegangan.
__ADS_1
"Aku udah gak apa-apa, cuma pusing sedikit," suaranya pelan sambil tersenyum.
Cempaka mengangkat kedua tangannya, sperti minta dipeluk.
Reza pun memeluk istrinya yang masih dalam keadaan berbaring. Dia tidak perduli meski posisinya tak nyaman.
"mas, pasti ketakutan banget. Maaf yah!"
Cempaka ingat, ketika pertama kali orang-orang rumah melihat serangan paniknya,
Mama mertuanya sampai menangis tak berhenti, merasa bersalah karena menutup jendela kamarnya malam pertama ia menginap di rumah megah itu.
"Kenapa kamu yang minta maaf. Harusnya aku." Cem kemudian menepuk lembut punggung Reza, tak sengaja keluar air mata Reza.
"Kamu yakin gak apa-apa?" bicara pelan karena nafasnya mulai terganggu karena posisi mereka berpelukan.
Cempaka yang sadar kemudian melepaskan pelukannya. "Iya, aku udah gak apa-apa. Nanti istirahat lagi juga baikan."
Reza memgangguk, kemudian Cem kembali tertidur.
Ia mengabarkan keluarganya bahwa Cempaka sduah sadar dan melanjutkan istirahatnya.
Pukul 1 siang. Mereka sudah diizinkan pulang. Reza berencana menghentikan kegiatan bulan madunya yang harusnya 1 minggu hanya menjadi 3 hari.
Tapi Cempaka masih ingin bermain. Akhirmya mereka memutuskan melanjutkan bulan madu mereka.
Berjalan menuju kamar hotel, Cempaka melingkarkan tangannya di pinggang Reza, dan Reza menopang tubuhnya dengan memeluk bahu dan lengan Cempaka dengan erat.
Entah kenapa setelah melihat wajah khawatir Reza di rumah sakit, ada perasaan hangat mengalir di dalam dada Cempaka.
Bukan rasa gugup atau jantung yang berdegup kencang. Atau sesuatu yang membuat wajahnya memerah. Ada sesuatu yang lebih saat melihat tatapan Reza di rumah sakit tadi.
Sesampainya di kamar, Reza mendudukan Cem di sofa. Dia berlutut di hadapan Cem sehingga wajah mereka sejajar.
"Mau aku ambilkan minum?"
menggeleng Cempaka kemudian kembali memeluk Reza.
"kenapa?" tanya reza
"hemm? gak ada, cuma pengen peluk."
Cempaka menikmati pelukan itu. Sangat terasa berbeda. Perasaannya yang hangat, dan terasa penuh di hatinya. Seperti ada sesuatu yang membuatnya lega.
Agak lama berpelukan, Cem melepaskan pelukannya dan melingkarkan tangannya di bahu Reza.
Kemudian ia mencium kening suaminya itu.
Reza pun membalas mencium kening Cempaka.
Tanpa bicara, mereka menatap mata satu sama lain.
Reza pun mulai mencium bibir istrinya.
*bersambung.........
__ADS_1