Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Hidup Silvi


__ADS_3

"Kamu tahu gak, aku itu khawatir?" Romi mengomel sejak dari rumah ibunya sampai mereka tiba di rumah.


"Iya, aku tahu. Tapi aku juga kan sudah kabari dan kenapa harus nelpon setiap 3 jam?" Padahal, seandainya dia tak asyik dengan online shopping dan membuka paket, ia akan senang mendengar suara suaminya.


Romi kesal mendengar ucapan Anita yang menanyakan hal yang sudah jelas. Tentu saja ia harus menelepon dan mendengar suara istrinya, bahkan waktu 3 jam itu ia sampai harus bernegosiasi dengan Adi agar mendapatkannya.


Romi langsung ke kamarnya masuk ke dalam ruang ganti. Melihat suaminya yang merajuk, Anita langsung memeluknya dari belakang.


"Maafin aku yah? bukannya aku gak kangen. Tapi sepertinya kita terlalu bergantung satu sama lain." Entah kenapa Anita merasa kata-katanya itu benar.


Ia dan Romi sejak dia dirawat sampai sekarang, hampir 3 tahun. Tak pernah seharipun mereka melakukan kegiatan sendiri-sendiri.


Romi lalu melepaskan tangan Anita yang melingkar di pinggangnya. Dan ia lalu duduk di pinggir tempat tidur.


"Apa kamu sudah mulai benci sama aku sekarang?" air mata Romi sudah mengalir di wajahnya.


Anita langsung kaget, melihat suaminya menangis. "My hobi? kamu kenapa? Aku gak bermaksud bilang kalau aku benci sama kamu. Aku cuma.."


"Kita baru pisah beberapa jam, tapi kamu sudah bisa hidup tanpa aku." Memotong ucapan Anita.


Anita yang bingung harus berbuat apa akhirnya hanya memeluk Romi.


Romi yang duduk di atas kasur balik memeluk Anita yang berdiri di hadapannya sehingga ia meletakkan kepalanya di perut Anita dan sesegukan.


Setelah agak lama, Romi mengantuk dan tertidur. Anita yang khawatir langsung menelepon dokter mereka.


Anita menjelaskan sifat dan kelakuan Romi hari ini, pada dokter.


Dokter memberitahukan kalau itu adalah hal yang biasa. Bahwa suaminya terkena sindrom cauvade, dimana suaminya ikut merasakan pergejolakan perubahan istri yang sedang hamil. Apalagi ini adalah hari pertama mereka jauh satu sama lain.


Anita pun merasa sedikit lega. Tapi membayangkan suaminya akan ikutan ngidam. Geli fikirnya.


"Jika beberapa hari ke depan, Tuan Romi menunjukkan gejala lebih agresif, saat itu anda bisa membawanya ke sini." Ucap dokter itu.


Dan Anita pun akhirnya bisa istirahat dengan tenang.


Sementara itu, seorang wanita yang baru pulang dari tempat kerjanya terlihat sangat lelah.


Setiap hari ia bekerja selama 12 jam sehari. Setelah itupun, ia harus berjaga di rumah sakit tempat putrinya dirawat.


"Bi, maaf Silvi telat. Tadi tukang ojeknya mogok di jalan. Terima kasih Bi." ucap Silvi pada bibinya sambil meletakkan barang-barangnya dan membersihkan sekitar tempat tidur anaknya.


"iya, bibi gak apa-apa. Tapi, Silvi. Sampai kapan kamu mau hidup begini?"

__ADS_1


"Silvi juga gak tahu Bi."


"Pak Didi, udah gak pernah nawarin kamu lagi?"


"Udahlah bi, bagaimana aku akan gak tahu malu lagi? Setelah apa yang telah dia lakukan untuk keluargaku.


Aku malah menghianati kepercayaannya demi uang. Kalau aku terus terima bantuannya. Akuu...."


"Bukannya dia juga mengerti kondisi kamu kan? Kalau bukan karena.."


"Gak bi, ini bukan karena siapa-siapa. Aku yang terlalu lemah. Bukannya Bibi juga yang bilang waktu itu. Kalau apa yang sudah Silvi lakuin merupakan kesalahan besar."


Semenjak 3 tahun yang lalu, Silvi mengundurkan diri. Sejak itu ia kerja jadi kasir. Di waktu kosongnya ia akan mencari kerja lain.


Putrinya yang berumur 12 tahun, sejak 5 tahun yang lalu menderita penyakit ginjal.


Biaya yang dikeluarkan bukan main.


Mantan suaminya karena stress malah pergi senang-senang dalam pelukan wanita lain di saat ia sibuk mengurus putrinya.


Semenjak ia kerja dengan keluarga Rahadi, keuangannya jadi lebih baik karena dibantu Pak Didi, jadwal untuk mengurus anak dapat terurus. Ia bahkan bisa menyewa pengasuh.


Tapi sekarang, ia terpaksa meminta bantuan bibinya, adik dari ayahnya untuk membantu merawat putrinya jika ia sibuk bekerja. Sebagai gantinya ia harus bekerja 2 kali lipat.


Dan juga lebih murah daripada harus menyewa pengasuh.


Padahal bibinya sudah menolak, karena meski hidup sendirian, anak-anaknya masih mengirimkannya biaya hidup. Bibinya juga senang, daripada diam di rumah tidak ada teman mengobrol.


3 tahun yang lalu, putrinya akan mendapatkan donor. Dia membutuhkan dana untuk operasi putrinya. Pak Didi hari itu memberikannya uang. Yang akhirnya direbut oleh kakaknya.


"Berikan aku uang itu sekarang!!" Teriak kakak laki-lakinya. Mereka memiliki ayah yang sama dan ibu yang berbeda.


"Kak Erik, jangan!! Kakak tahu kan. Seminggu lagi Vivi harus operasi." Dia berusaha meraih amplop yang sudah berada di tangan kakanya.


"Ehh.. anak haram!"


begitu Erik mengeluarkan kata itu. Ia hanya bisa terdiam. Silvi adalah anak hasil dari perselingkuhan ayahnya dengan ibunya.


Setelah mengetahui hal itu, Ibunya Erik langsung bunuh diri.


Erik sangat benci pada Silvi dan Ibunya.


Ia pun mengerti bagaimana perasaan wanita yang dikhianati oleh suami.

__ADS_1


Silvi sendiri merasakannya, bahkan membenci ibunya. Yang sekarang sudah menikah lagi dan memiliki keluarga dengan laki-laki lain setelah ayahnya meninggal.


Tapi di sini ialah yang menanggung semua kesalahan ibunya.


Waktu semakin mepet. Ia tak tahu harus mencari uang ke mana.


Jika ia meminta bantuan Pak Didi lagi, ia akan merasa sangat malu.


Biaya rumah sakit yang sudah mendapat potongan ternyata dibantu Pak Didi, mana mungkin dia meminta bantuan Pak Didi lagi.


Hari berlalu hari. Ia semakin gelisah tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Apa harus aku bermuka tebal dan meminjam uang Pak Didi?" menggeleng.


"Tidak. Dia sudah terlalu banyak membantuku.


Meskipun aku tahu bahwa mendaptakn bantuan dari keluarga Rahadi adalah hal yang wajar untuk pegawainya.


Tapi apa yang aku terima sudah lebih dari apa yang pantas aku dapatkan.


Dan bagaimana kalau Pak Didi menganggapku wanita tak tahu terima kasih?"


Dia pun berusaha meminta suster agar memberikannya keringanan.


"Suster, aku mohon! Apa tidak bisa jadwal operasinya di tunda?" Silvi memohon.


"Saya gak bisa apa-apa. Jika tidak segera. Donornya akan dialihkan ke orang antrian berikutnya. Saya juga pengen bantu Mbak. Tapi saya gak bisa apa-apa." Suster itu melihatnya iba.


Vivi, putrinya sudah menunggu 1 tahun untuk mendapatkan donor ginjal yang cocok. Karena seluruh anggota keluarga tidak punya kecocokan. Sehingga harus mengantri.


Tapi ketika putrinya akhirnya mendapatkan kesempatan. Bagaimana bisa ia melewatkannya.


Dia menelepon kakaknya berulang kali, memohon untuk mengembalikan uangnya. Tapi kakaknya sama sekali tak perduli.


Berkali-kali ia membuka kontak Pak Didi di hapenya. Berkali-kali juga ia membatalkan niatnya meminta bantuan Pak Didi.


"Tidak!! berhentilah mempermalukan dirimu! Tapi jika tidak anakmu akan dalam bahaya. Aahhh...." Dia mengacak rambutnya. Menarik nafasnya, menutup matanya dan akan menekan tombol panggil pada kontak Pak Didi.


"Permisi, Nona Silvi?" Belum jadi dia menekan tombol memanggil. Kaget ia melihat asisten Tuan Muda Romi, Gun.


"Gun?"


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2