
"Nyonya, ayo kita kembali ke kamar." Ucap Silvi pada Nyonya.
"Romi, mama sudah nunggu kamu. Mama, cuma mau bicara sebentar sama kamu." Ucap Nyonya memelas.
Romi menutup mata dan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Mah, lebih baik mama kembali tidur. Aku akan bicara sama mama lain waktu." Ucap Romi merendahkan nada bicaranya.
"Nyonya, benar kata tuan Romi," tambah Silvi.
"Kak, biar aku bantuin mama tidur. Sebentar saja," sambil memohon.
"Baiklah, aku akan menunggumu 3 menit"
"Makasih Kak"
Cem langsung membawa Mama mertuanya ke kamar.
Dia melihat Papa mertuanya tidur pulas. Mencoba dia menggoyangkan tubuhnya. Tapi tak bergeming.
"Maaf, percuma Mbak. Semua orang di rumah ini sudah saya kasih obat tidur," bisik Silvi pada Cem.
"Kenapa Mbak? kenapa?"
"Saya gak punya dendam apa-apa. Saya cuma butuh uang Mbak. Keluarga saya benar-benar butuh uang. Maafkan saya," dengan wajah bersalah.
"Aku gak tau, bakalan di bawa ke mana. Hp ku sudah di hancurin Kak Romi."
Silvi cepat memberikan sebuah hp pada Cem.
"Simpan ini mbak. Ini nomor sekali pakai. Kalau sampai Tuan Romi tau aku ngasi ini ke Mbak, aku...."
"Tenang, aku gak bakalan kasi tau dia. Tolong jagain mama," menggenggam tangan Silvi.
"Ma, kuatin hati Mama yah. Aku pasti kembali dan bawa kak Romi balik ke sini," mencium kening Mama mertuanya.
Mamanya yang dalam fikiran kalut, hanya mengangguk.
Setelah itu, Cem naik ke mobil Romi dan pergi meninggalkan rumahnya.
Cem sangat bingung, bagaimana cara berurusan dengan Romi.
"Apa perlu ku hasut Gun?" geleng-geleng Cem mengingat betapa lengketnya orang dua itu.
Mereka tiba di danau tempat Romi melamar Cem beberapa tahun yang lalu.
Romi tersenyum.
"Ingat gak tempat ini, dulu kamu menyuruh Kakak menunggu?"
"menunggu? apa? menunggu apa?" Cem kebingungan
"Kak Romi meminta Cem menikahi kakak di sini"
Cem berusaha menenangkan dirinya dari khayalan Romi.
"Mas Reza, aku mohon cepat cari dan temukan aku!" batinnya memohon.
Cem sangat ingin memberitahukan fakta pada Romi, tapi ia fikir Romi sudah di luar akal sehatnya.
"Aku mau ke kamar kecil, apa boleh?" tanya Cem.
Begitu masuk kamar kecil, ia mengeluarkan Hp yang diberikan Silvi dari bra nya.
__ADS_1
Dia memanggil nomor Reza. Hanya nomor Reza yang ada di kepalanya.
Belum sempat bicara, ketukan keras di pintu mengagetkannya dan hp nya terjatuh dalam closet. Cem menahan tangisnya.
Tiba-tiba rasa mual menyeruak dari perutnya. Kepalanya berdenyut pusing. Gelap , ia akhirnya tak sadarkan diri.
Sementara itu, di kediaman Rahadi. Reza yang menemukan penjaga langsung memanggil pak Didi dan ambulan.
Tak lama berselang, Pak Didi yang sedang berada di depan ruangan Anita mendapatkan telepon dari nomor tak dikenal.
"Aku gak tau mereka ke mana. Tapi aku meninggalkan handphone anakku di mobil mereka. Cobalah lacak" Ucap Windi tanpa basa-basi lalu memberikan nomor hp anaknya.
Pak Didi langsung menelpon seluruh tim keamanan. Dan meminta semuanya bekerja sama melacak nomor hp tersebut.
Reza yang berkeliling sekitar rumah mengetuk pintu kamar pelayan. Tapi tidak ada yang menyahut.
Reza merasa kosong, bingung.
"Sadar Reza. Cem pasti baik-baik saja."
Karena Reza keluar seharian, dia tidak tahu menahu persoalan Romi.
Dia menelpon dokter untuk mengecek Mamanya. Dia memeriksa kamar orangtuanya. Mamanya duduk bengong di atas tempat tidur.
"Mama, mama gak tidur? mama lihat Cem gak?"
"Dia bilang nanti balik ke sini sama Romi. Cem kan selalu nepatin janji," ucap Mamanya kosong.
"Reza, apa Reza juga benci sama Mama?" tiba-tiba mengingat sedikitnya waktu untuk anak-anaknya selama ini.
"Ma, aku gak benci sama Mama. aku sayang sama Mama. Kak Romi juga sayang sama Mama. Kak Romi pasti baik-baik saja"
"Kemana Kak Romi dan Cem. Kenapa mereka pergi berdua? tidak mungkin Kak romi menculik Cem. Untuk apa?" batin Reza memikirkan segala alasan.
Dia sudah mencoba mengorek informasi dari Anita. Tapi tidak mendapatkan apa-apa.
Reza menemani mamanya sampai tertidur.
Akhirnya menemui Pak Didi dan menceritakan semuanya.
"Jadi, maksud Pak Didi sekarang istriku ada di tangan kakakku yang terobsesi dengan istriku? Bagaimana bisa tak ada seorang pun yang menyadarinya?"
"Maafkan saya Tuan, saya tengah mengumpulkan informasi. Kemudian setelah saya tahu apa penyakitnya. Saya fikir itu hanya terhadap perusahaan. Tapi itu lebih dalam terhadap Nona Cem Dan Nona Anita membantunya"
"Apa?"
"Rencana mereka sempat berubah karena Tuan memutuskan untuk meninggalkan Nona Anita. Dan mereka mengikuti seluruh anggota keluarga ini." Jelas Pak Didi.
"ini semua salahku, andai saja aku tetap di samping Cem dan mendengarkan ocehannya." Reza meremas rambutnya sendiri.
Saat ini mereka tengah melacak keberadaan Romi. Ketika mereka menemukan sinyalnya.
sinyalnya tidak stabil. Tapi mereka mengetahui rutenya.
......
Cem yang tersadar membuka matanya. Dia berada di sebuah kamar yang asing.
Tapi di dindingnya ia melihat foto pernikahannya dengan Romi?
Menutup mulutnya karena kaget. Foto lainnya adalah ketika dia tertawa, di dapur, di taman, semua fotonya menempel di dinding.
Sekarang dia menjadi semakin takut.
__ADS_1
Dia mencoba menarik nafas.
Tanpa mengetuk pintu Romi langsung masuk dalam kamar.
"Kamu sudah bangun? coba lihat ke sana!" ucap Romi sambil menunjuk keluar jendela ke arah danau nu"
"kalau dalam keadaan biasa. Aku akan menikmati pemandangan ini. Tapi di film yang aku tonton bareng Angel, aku orang yang akan mati supaya mereka bisa menangkap penjahat."
"cantikkan?"
"iyaaa. cantik," jawab Cem pura-pura antusias.
Cem yang setengah menghadap jendela dan setengah menghadap Romi.
"Kak, ayo kita pulang"
"pulang? ini rumah kita Cem." ucap Romi serius.
Romi kemudian mendekati Cem ingin memeluknya.
"aahhhh," Cem reflek mendorong tubuh Romi. Tangannya gemetaran.
Romi kelihatan sangat marah. Dia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
"Kakak akan menyiapkan makanan untuk Cem," ucap Romi.
"Kak Romi. aku mohon. Ayo kita kembali. Semuanya bakalan baik-baik aja. Semua pasti sedang menunggu kita." Ucap Cem dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa? kamu mau kembali pada Reza? Aku mencintaimu lebih dulu. Aku fikir kamu akan menungguku. Karena itu aku tidak maslah menikahi Anita" Romi menjelaskan ke mana-mana. Pembicaraannya tidak fokus.
Cempaka semakin tidak mengerti.
"Kak Romi, tarik nafas. Aku akan membuatkan Kak Romi sesuatu. Supaya kakak bisa tenang."
"Biarkan Aku yang membuatnya," ucap Romi dan meninggalkan Cempaka di dalam kamar.
Cem tidak ingin membuat Romi semakin sensitif dan bertindak gila.
Meski belum tahu kabar pasti kehamilannya, ia akan menjaga bayinya dengan tegar.
Karena itu ia tak ingin memancing Romi. Tapi semua yang dikatakannya Romi adalah hal-hal gila.
Sementara itu, Pak Didi sudah menemukan lokasinya.
Mereka mengenali lokasi sinyal berada.
Danau yang dulu sering digunakan ayah Tuan Wisnu memancing. Properti ini sudah lama di tinggalkan.
Tapi ternyata setelah Pak Didi mencari kabar, Bahwa ada renovasi besar-besaran untuk Rumah di dekat danau sejak 4 tahun yang lalu.
Pak Didi sangat kaget "4 tahun yang lalu?"
Mereka pun segera pergi ke sana.
*bersambung....
Sedikit info kalau ada yang tanya, kenapa Gun dan Anita bisa ikutan Gila seperti Romi. Ini hanya ilustrasi saja yah. Dan juga karena mereka tidak menjalani perawatan.
Faktanya, para ahli mengatakan bahwa penyakit mental tidak menular. Meski begitu, ada kemungkinan kita menyerap emosi serta kebiasaan orang-orang yang hidup di dekat kita.
"Emosi itu menular karena kita makhluk sosial yang merespons pada lingkungan."
Sumber:google.
__ADS_1