Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Libur Terakhir?


__ADS_3

Mereka bilang Memaafkan akan membebaskan hatimu dari kesedihan, kekecewaan dan kebencian.


Meminta maaf dan dimaafkan mungkin tidak akan mengubah masa lalu, tapi kamu akan yakin untuk mengubah masa depan.


Karena beban hatimu sudah terangkat.


Di dalam mobil, ada dua orang yang sedang tenggelam dalam lamunan masing-masing.


Meski mereka dalam dekapan satu sama lain. Reza yang mengelus kepala Cem.


Cem bersandar di dada Reza dan mendengarkan detak jantungnya.


Reza, merasa sangat lega. Semua rasa bersalah, semua bayangan buruk masa mudanya akan dia hapuskan. Dia hanya akan menyimpan kenangan-kenangan baik. Dan menguburnya dalam hatinya. Meskipun terluka, dulu ia juga pernah bahagia.


Sementara Cem, merasa bersalah karena cemburu pada Dini. Belum lagi masalah Romi.


Fikirannya kacau, dia menutup matanya dan mengeratkan pelukannya tanpa sadar menyakiti Reza.


"uuggh..Cem? Cem?" Berhasil melepaskan tangan Cem yang melingkar di tubuhnya.


Cem kaget dan bengong. Baru tersadar ketika melihat Reza yang ngos-ngosan dan memegang kedua lengannya.


"hah...?maaf, aku gak sadar," ucapnya dengan perasaan bersalah.


"kamu kenapa?" menatap Cem dengan rasa penasaran.


"emm? kita masih lama nyampe yah?" mengalihkan pembicaraan.


Cem tidak ingin berbohong pada orang-orang yang dia sayangi. Karena itu ia akan selalu mengalihkan pembicaraan atau tidak menjawab sama sekali.


Reza sudah faham, sehingga tidak lanjut menanyakannya.


Reza hanya menghela nafas dan menarik Cem ke dalam pelukannya lagi.


Seperti biasa, setelah tiba di rumah mereka membersihkan diri. Karena hari masih sore, Reza memutuskan untuk bekerja dan Cem pergi ke dapur membantu menyiapkan makan malam.


"Noon.. Non Cem?" panggil salah satu pelayan.


"Kenapa?" tersadar, lauk yang dia goreng sudah berubah menjadi warna coklat gelap dan hampir gosong.


"Cem, baik-baik saja kan?" tanya Bi Wati yang khawatir karena mendengar keributan di dapur.


"emmm....apa pakaian mama dan Papa sudah dikemas. Besok lusa akan berangkat kan?"


"Sudah Non, tadi pagi Pak Didi, Mbak Silvi dan juga beberapa orang datang membantu."


"Ooohh, kalau Pak Didi di mana sekarang?"


"Mengantarkan Nyonya dan Tuan ke acara amal mungkin kembali setelah makan malam."


Cem kemudian kembali ke kamarnya. Dia sangat ingin menanyakan perihal Romi pada Pak Didi.


Kalau di ingat dari kata-katanya seperti Pak Didi tahu apa yang sudah dilakukan Romi pada Dini dan Ibunya.


Menggeleng, meyakinkan dirinya. Bahwa Romi tidak akan melakukan hal seperti itu.


"Dua tahun bukan waktu yang sebentar kan?" batinnya meyakinkan dirinya bahwa ia mengenal Romi dengan baik.


Perasaan di mana kamu rasa kamu sangat mengenal seseorang dan mempercayainya, akan tetapi kamu menemukan sesuatu yang tak terduga tentangnya. Kamu percaya padanya, tapi kamu juga meragukannya.


"aaarrrgghhhhhh.." kesal pada dirinya sendiri.


"apa benar pak Didi tidak merasa pusing memikirkan orang yang sudah dia ancam, atau orang yang sudah dia rugikan? Dan kenapa belum ada informasi tentang Mbak Anita dari pak Didi?" fikirnya.

__ADS_1


Cem menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Berguling-guling, menghela nafas, kembali duduk, kembali menjatuhkan tubuhnya lagi. Benar-benar terlihat seperti orang gila. Sementara rambutnya sudah tak karuan.


Reza yang melihat tingkah istrinya, lantas merekam tanpa diketahui Cem.


"Mas Reza!"


Reza yang tiba-tiba kaget karena dipanggil Cem, langsung memasukkan hp nya ke dalam saku bajunya.


"eemm? kenapa?" berjalan mendekat ke arah Cem. Dia merapikan rambut Cem dan menyentuh kedua pipi istrinya dan mengecup bibirnya.


"Istriku kenapa seperti ini? Bukannya kita bilang akan berbagi kalau punya masalah?"


Cem menghela nafasnya lagi.


"Menurut Mas Reza, Apa aku cukup tangguh untuk bisa seperti Pak Didi yang menyelesaikan masalah berjubel-jubel?"


"Kenapa kamu ingin seperti Pak Didi? Jadi saja dirimu sendiri," ucap Reza dan duduk di samping Cem.


"Masalahnya, aku ingin bisa seperti Pak Didi, membantu Papa dan juga menjaga seluruh keuarga Rahadi"


"Pak Didi sejak tinggal di sini, sudah di didik seperti itu. Tugasnya adalah melindungi keseluruhan keluarga Rahadi, perusahaan, rumah dan juga seluruh anggota keluarganya. Itu juga kata Pak Didi sendiri.


Sementara kamu, kamu di bawa ke rumah ini untuk disayangi, dikasihi dan dicintai," memeluk Cem dengan gemas.


"Jadi kamu gak perlu jadi Pak Didi kedua dalam rumah ini." mencium kening Cem dan berdiri.


"Tapi...." Reza menarik Cem


"aku sudah lapar" mereka pun turun untuk menikmati makan malam.


"Kamu belum ada tanda-tanda hamil?" tanya Reza tiba-tiba dalam perjalanan masih di lantai atas.


"Tunggu dulu aku cek" Memutarkan tangannya di atas perutnya, sambil pura-pura mendeteksi.


"bayi, kamu sudah ada di perut mama?" masih sambil memutar tangan di atas perutnya, Cem berbisik menunduk ke perutnya.


Cem melirik Reza yang sepertinya serius memperhatikan.


"hahahahahhaha" tawa Cem pecah karena tak tahan melihat wajah Reza yang serius dan penasaran.


Reza yang akhirnya mengerti kalau istrinya hanya bercanda, memeluk Cem, mengangkat dan membawanya ke kamar.


"Mas, mau ke mana? katanya mau makan malam?"


"Makan lebih nikmat setelah olahraga" sambil menutup pintu kamar.


Mereka terlambat turun untuk makan malam.


Sambil menunggu makanan di panaskan kembali, Reza dan Cem bercengkrama di sofa ruang keluarga.


Nyonya dan Tuan Wisnu baru pulang dari acara.


"Loh, kalian tumben di sini?"


"Ma, Pa. Kita lagi nungguin makan malam" jawab Cem dan Reza berdiri lalu memeluk kedua orangtuanya itu.


"Tadi sibuk bikinin cucu Mama, jadinya baru..aaaahhh," belum selesei bicara Cem mencubit perut Reza, pipi Cem sudah memerah karena malu.


Tuan Wisnu dan istrinya hanya tertawa melihat anak dan menantunya itu.


Silvi berdiri di belakang Nyonya dan Tuannya.


Reza yang melihat raut wajah Cem berubah setelah melihat Silvi.

__ADS_1


"Ya udah ma, pa. Silahkan istirahat," ucap Reza


Ketiga orang itu meninggalkan Reza dan Cem di ruang keluarga. Reza lalu memeluk Cem.


"Apa kamu gak bahagia, cuma bisa ngurusin Mas Reza?"


Cem kaget mendengar pertanyaan itu.


"Bukan, bukan begitu. Tentu saja Cem senang. Tapi kan biasanya Mama selalu minta Cem."


"Karena sekarang kan Cem sudah jadi istri Mas Reza. Yah, bagaimana Cem mengurus Mas, kalau sibuk juga sama Mama dan Papa? Apalagi sekarang calon cucu Mama lagi sebentar bakalan ada." Reza mengusap perut Cem dan mencium perutnya.


Cem hanya tertawa.


Dan setelah makan malam, mereka kembali ke kamarnya dan berganti pakaian.


Reza masih harus melanjutkan pekerjaannya, tapi mengerjakannya di tempat tidur karena tak mau Cem tidur sendiri dengan jendela yang terbuka.


Dan Cem memutuskan untuk membaca buku sambil menemani Reza.


Keesokan Paginya, setelah mengantar kepergian Reza. Cem mengetuk pintu ruang kerja Tuan Wisnu dan Pak Didi.


Cem tahu, kalau sekarang waktu Papa dan Mamanya menikmati waktu santai pagi setelah sarapan.


Karena besok mereka akan berangkat sehingga tak ada jadwal yang penting.


Jadi hanya Pak Didi di ruang kerja.


Setelah dipersilahkan masuk, Cem duduk di sofa tengah ruangan.


Pak Didi duduk dan membawa map di tangannya.


"Apa itu?" tanya Cem penasaran.


"Saya akan memberitahu Nona sesuai dengan jawaban nona"


"hem. memangnya ini tes apa?" batin Cem


"Aku cuma mau tau, apa Pak Didi tau apa yang Kak Romi lakukan kepada Kak Dini?"


"Ya, saya tahu. Karena itu saya katakan pada Nona. Fokus saja pada tujuan Nona." ucap Pak Didi datar.


Menghela nafas. "Jadi ada kemungkinan juga Mbak Anita benar-benar mendapatkan kekerasan fisik?"


"Saya masih belum mendapatkan bukti nyata. Saya harus mencari lebih dalam.


Sejauh mana Tuan Romi terlibat ataupun sejauh mana Nona Anita sendiri melibatkan diri.


Karena dari pembicaraan Nona Cempaka dan Nona Anita, sepertinya Nona Anita juga berusaha melindungi Tuan Romi"


Cem terdiam sebentar. "Menurut Pak Didi apa aku punya peluang untuk kerja seperti Pak Didi?"


"Tidak dan iya"


"maksudnya?"


"Kecerdasan Nona di usia muda, saya yakin Nona akan cepat beradapatsi dengan cara kerja saya.


Tapi halangan nona sendiri adalah perasaan Nona terhadap orang lain, kesadaran sosial, rasa kasihan.


Itu bisa menjadi suatu kelebihan dan juga kekurangan. Dan sepertinya nona sudah membuat pilihan Nona, bukan?"


"iya" Kali ini, Cem mengangguk lebih mantap tanpa kagalauan.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2