Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Liburan Singkat untuk Cem


__ADS_3

"Cem, sayang lepasin dulu pelukannya. Kita perlu naik tangga," Reza berusaha melepaskan pelukan Cem yang lumayan erat.


"Gendong"


"mau digendong seperti apa?" Reza sudah menunduk meletakkan tangannya di punggung dan belakang lutut. Ingin menggendongnya seperti pengantin baru.


Cem menggeleng dengan cepat. "Punggung, di punggung saja" tanpa ragu Reza langsung berlutut dan Cem naik di punggungnya.


Pelayan yang melihat hanya bisa geleng-geleng dan tersenyum geli.


"Kamu rasanya kok makin ringan yah?" Ucap Reza dengan nada mengejek sambil menarik nafas dalam-dalam dan memperbaiki posisi Cem.


Cem kemudian mengigit pundak Reza.


Reza hanya mengaduh kesakitan. Setelah tiba di atas. Cem langsung menyiapkan air mandi suaminya.


"Rasanya senang banget, pulang kerja langsung disambut pelukan hangat istri juga di siapin air mandi." Memeluk Cempaka yang baru keluar dari kamar mandi.


"Mas, aku di kasi istirahat 5 hari sama Pak Didi" itu adalah berita yang tak sabar ia sampaikan pada Reza


Reza yang mendengar berita itu pun, merasa bahagia. Senyum sumringah di wajahnya.


"kalau begitu aku juga akan minta izin dari kantor".


Wajah Cem berubah jadi sedih.


"tapi kan, Mas Reza baru kerja 5 hari, masa sudah minta izin. Kan jadi gak enak sama Papa."


"Udah nanti mas yang tangani. Lagian Papa pasti ngerti, Kak Romi juga," Reza langsung masuk kamar mandi.


Sebenarnya Cem ingin menanyakan perihal Romi. Tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana.


Sejauh apa Reza mengenal Romi.


Sedekat apa dulu mereka.


Tapi ia putuskan untuk menikmati liburannya dulu.


"Tapi apa bisa nikmati liburan dengan tenang kalau fikiran kacau balau begini?" Menghela nafas dan menghempaskan diri di atas tempat tidur.


Menggeliat, guling-guling di atas tempat tidur.


"aaaaaaaaaaahhhhhhhhhrrrrr...." Cem mengeluarkan suara, seluruh tubuhnya di atas tempat tidur menghadap langit-langit dan kepalanya dibiarkan menggantung di sisi tempat tidur.


Reza yang keluar kamar mandi dan melihat istrinya itu hanya geleng-geleng.


"Anak kecil, ngapain?" kaget, reflek mengangkat kepalanya.


"aaahh. Mas Reza, berapa kali sih dibilangin. Bersuara dulu sebelum nyapa atau manggil Cem," Cem langsung duduk dan menyuruh Reza berbaring di atas tempat tidur.


"Baring sini," pinta Cem menepuk kasur.


Reza malah mendorong tubuh Cem berbaring lagi.


"aaahhh. Mas, aaahhh, jangan kencang-kencang, pelanin dikit"


Beberapa pelayan yang kebetulan sedang berada di lantai atas, wajahnya langsung memerah dan saling senggol mendengar desahan Cem. Mereka memutuskan kembali ke lantai bawah.


"mas, jangan di situ. Geli, mass. aahhh," Cem pun menendang Reza yang sedang memijat kakinya, karena tak tahan geli pijatan Reza yang berubah terlalu pelan.

__ADS_1


Reza terjungkal ke ujung tempat tidur dan hampir terjatuh ke lantai. Cem pun bangun dan duduk memegang kaki Reza yang terangkat karena terjungkal.


"Mas maaf, gak sengaja. Lagian sudah dibilangin geli. Baring gih sini. Sekarang giliran Mas."


"hahahahahhaha. Mas kaget tau" Tertawa masih mengelus dadanya.


Akhirnya, mereka bergantian memijat satu sama lain. Entah kenapa kalau bersama Reza, ia melupakan masalahnya.


Setelah merasa lega, sambil menunggu makan malam. Mereka memutuskan untuk nonton di sofa ruang santai lantai dua.


Reza bersandar di sofa dan Cem bersandar di dada Reza.


Pelayan yang tadi turun, sudah naik lagi kaget melihat Cem dan Reza di sofa.


"Non, Tuan sudah selesei? eeh, maksudnya sedang nonton?" pelayan itu malah gelagapan berusaha menemukan kata yang tepat.


"Bi, tau tempat latihan pijat gak?" tanya Cem


"Non butuh dipijat? biar saya panggilkan?" pikirannya sudah melayang kemana-mana.


"Bukan. Aku sama Mas Reza mau latihan. Soalnya lumayan lah, ngehabisin waktu berdua," ujar Cem sambil senyum melirik suaminya.


"Nanti akan saya carikan Non."


Setelah permisi, Pelayan tadi pun meninggalkan Reza dan Cem sambil membentuk huruf o di bibirnya. Mengerti kegiatan Nona dan Tuan Mudanya tadi. Mereka bekerja sambil menertawakan fikiran kotor mereka.


"Kamu sengaja kan mau latihan pijit, biar bisa ngeraba badan Mas."


"iya lah, kan badan suamiku. Badan siapa lagi yang kuraba kalau bukan Mas?" sambil menunjuk-nunjuk perut suaminya.


Reza tertawa geli dan senang, tapi tak bisa berkata-kata mendengar ucapan Cem. Sementara Cem mengeluarkan senyum kemenangan.


"Mas?"


"emmm?"


"Kak Romi, orangnya seperti apa sih menurut Mas?"


Reza kemudian melirik Cem. Berfikir tentang sifat Romi.


"Kak Romi? hemmmm. Seingat Mas sih, Kak Romi selalu sibuk belajar. Dan dia di ajarin tuh sama Pak Didi. Jadi Mas rasa, Kak Romi itu pintar? berwibawa? raji..." semua sifat Romi ia ucapakan dengan nada tanda tanya.


Belum Reza selesei bicara Cem bicara lagi "bukan, bukan itu maksud Cem. Emm, apa pernah misalnya kasar atau punya indikasi emosi yang tinggi?"


"Seingat Mas sih gak pernah, justru Mas yang lebih sering marah-marah.


Tapi kalau di fikir-fikir lagi.


Kak Romi juga jarang ketawa dan juga gak punya teman.


Ahh, tapi aku ingat dulu ada anak cewek yang sering diam-diam main sama kak Romi. Dia anak salah satu pelayan.


Namanya, Mas lupa," jelas Reza.


Cem hanya mengangguk,


"Bahkan Mas Reza yang adik kandungnya saja tidak begitu mengenalnya.


Di usia 17 tahun, Mas Reza sudah pergi sampai kurang lebih 9 tahunan. Pak Didi adalah satu-satunya yang paling mengenal Kak Romi" fikir Cem.

__ADS_1


"Tapi semua yang Pak Didi katakan adalah hasutan-hasutan jahat. Lama-lama ingat Pak Didi seram juga" batin Cem


Bulu kuduknya merinding mengingat gaya bicara Pak Didi dengan wajah datar. Apalagi pertama kali ia masuk ke rumah itu.


Seperti biasa makan malam bersama Tuan dan Nyonya Besar. Nyonya Besar selalu menanyakan tentang anak. Dan Reza selalu menjawabnya dengan bercanda.


Setelah makan malam dan mengobrol dengan Orang tuanya. Reza dan Cem kembali ke kamar.


Ketika berada dalam kamar, Reza memeluk Cem dari belakang, melingkarkan tangannya di perut Cem.


"Sayang, wujudkan cita-cita Mama yuk!" Cem langsung memerah, tapi kemudian ia berbalik.


"hemm, jadi cuma cita-cita mama?" Cem menggoda Reza dan mengangkat alisnya.


Tanpa basa basi terjadilah kegiatan dalam upaya mewujudkan mimpi Nyonya Besar untuk menimang cucu.


Reza yang menutup mata, tangan kirinya memeluk tubuh Cempaka. Menikmati kehangatan tubuh satu sama lain dan Cem seperti biasa melakukan posisi favoritnya. Mendengarkan detak jantung Reza.


Meletakkan telinga kanannya, di dada sebelah kiri Reza dan tangan kirinya melingkar di tubuh Reza.


"Mas Reza?


"emm?"


"Apa gak apa-apa kita punya anak terlalu cepat?"


Reza membuka matanya, melihat ke arah istrinya.


"kenapa? Cem takut?"


" bukan, Mas Reza kan tahu. Hubungan kita, di mulai bukan karena saling cinta. Apalagi waktu pertama Mas tahu kalau aku adik kak Dini, Mas kan benci sama aku."


Reza mencium ubun-ubun Cem.


"Kamu tahu gak? Mas Reza cuma membenci ide kalau wanita itu pura-pura polos di depan Mas tapi ketika di belakang Mas, dia itu sangat berbeda."


Cem kemudian duduk dan menatap Reza. "Polos? mana ada manusia polos didunia ini? bukannya Mas yang terlalu polos?"


"Apa maksud Cem?"


"Iya, coba Mas Reza lihat.


Kak Dini pada dasarnya memang gadis yang polos, tapi karena dia berfikir egois, agar bisa bersama Mas Reza karena itu dia mengambil keputusan yang salah.


Seandainya dia hanya mendengar ucapan Mas Reza yang menyukainya apa adanya. Maka semuanya tidak akan terjadi. Apa yang dia lakukan adalah untuk dirinya sendiri, bukan untuk Mas."


"Begitu juga denganku, Mas. Suatu hari nanti, mungkin aku akan membuat keputusan egois yang Mas gak suka.


Tapi, satu hal yang harus mas ingat.


Keputusan yang dilakukan seseorang adalah tanggung jawab orang itu sendiri," Cem kemudian memegang kedua pipi Reza dengan kedua tangannya dan menatap mata satu sama lain.


"Jadi aku juga mau, Mas melepaskan rasa bersalah Mas atas kak Dini.


Aku mau Mas percaya sama Aku. Aku akan selalu ada buat Mas. Mas ngerti kan maksud aku?"


Reza mengangguk, Cem kemudian memeluk pinggang Reza dan meletakkan kupingnya di dada Reza. Entah kenapa mendengar detak jantung suaminya ia selalu merasa tenang.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2