
Resepsi pernikahan pun sudah di gelar. Masing-masing tamu sudah duduk di meja yang sudah disediakan dengan nama masing-masing.
Karena hanya beberapa orang penting yang diundang, sahabat dan teman dekat, keluarga dekat dan beberapa reporter untuk merekam pernikahan mereka yang diundang.
Tokoh utama dalam acara resepsi ini belum menampakkan diri karena sedang bersiap-siap mengenakan pakaian resepsi yang akan dikenakan.
"Tuan Reza, apa yang ha...." ucapan ketika terhenti ketika melihat Reza yang melototinya.
"Tolong semuanya keluar sebentar," kata Reza kepada semua tata rias dan orang-orang yang membantu mereka berganti pakaian.
"apa? kenapa dia melotot??"
"Apa kamu tau siapa orang-orang itu? bagaimana bisa kamu memanggil suamimu dengan panggilan Tuan? atau apa kamu lupa apa alasan utama kita menikah? bagaimana kalau orang-orang itu mulai bergosip?" kata Reza sambil mengenggam lengan Cem.
"Astaga, aku lupa. Maaf" menutup mulut dengan menggunakan tangannya.
"Tapi kan tuan tidak suka saya panggil kakak, jadi saya harus memanggil tuan apa? mas, sayang?cintaku?" Cem geli sendiri waktu mendengar kata-katanya sendiri.
"Terserah, asal jangan tuan. Dan aku gak ngelarang kamu manggil aku kakak, asal jangan Eca saja. Putuskan cepat".
"putuskan sekarang?emmm. Mas aja deh," jawab Cem yang berfikir agak lama.
"apa yang mau kamu tanyain tadi?" tanya Reza.
"gak jadi, aku lupa" jawab Cem yang pipinya merasa panas.
Sebenarnya dia ingin menanyakan, nanti jika di luar sampai mana mereka sentuh-sentuhan biar dikira suami istri yang saling sayang. Tapi dia malu.
Begitu mereka siap, Reza menyodorkan lengan kirinya untuk diraih oleh Cem, Cem yang masih malu meraih lengan Reza dan mengaitkan tangan kanannya pada lengan Suaminya itu.
Begitu mereka keluar, tepuk tangan dan sambutan dari para tamu undangan.
Orang-orang ramai memberi selamat pada mereka. Entah kenapa, tanpa harus dilebih-lebihkan atau berpura-pura mereka tersenyum dan terlihat bahagia.
Apakah karena pernikahan ini niatnya untuk membantu tuan besar sehingga melakukannya dengan ikhlas atau karena mereka sama-sama menganggap bahwa pernikahan ini pernikahan yang harus mereka jalani dengan benar-benar.
Karena tak ada yang memaksa pernikahan ini. Dan itu adalah keputusan mereka sendiri.
Dan yang tak kalah, senyum Nyonya Besar setelah mendapatkan ucapan selamat dari tamu undangan.
Reza diberikan ucapan selamat oleh teman-temannya, yang juga kaget mendengar pernikahan tiba-tiba Reza.
__ADS_1
"Selamat Ja, aku gak nyangka. Aku pikir kamu pulang bakalan bantu kak Romi, malah balik nikah." Sambil menyalami Reza dan Cem yang sedang berdiri berdampingan.
Reza melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya dan menariknya lebih dekat dan mengenalkan.
"Sayang, ini teman kuliah aku. Omar. Mar, istri ku Cempaka."
"apa-apan sih, sayang?sejak kapan?"
Cempaka yang agak terkejut dipanggil sayang, hanya tersenyum pada Omar.
Sedikit demi sedikit tamu mulai berkurang. menandakan acara akan segera berakhir. Cempaka yang sejak tadi, menahan lelah ingin rasanya rebahan di kasurnya setelah ini.
Setelah acara berakhir, akhirnya mereka berjalan kemambali ke dalam rumah yang letaknya tak terlalu jauh dari taman halaman.
"mau ku gendong??" tanya Reza yang melihat Cempaka yang kelelahan karena kelamaan berdiri dan gaun yang lumayan berat yang sedang dipakainya.
"hah???gendong??" merasa sedikit malu, tentu saja dalam hatinya ia ingin digendong karena sudah terlalu lelah.
Memikirkan, suaminya akan menggendongnya seperti gaya pengantin baru membuatnya tersipu malu sendiri.
"Anak kecil, mau apa gak?" Reza yang sejak tadi sudah membungkuk menunggu Cempaka agar naik ke punggungnya membuyarkan lamunannya.
"ini mah bukan gendong" celetuk cempaka yang agak kecewa.
"Emang kamu pikir aku bakalan gendong kamu kayak gimana? Jangan-jangan tadi kamu bengong khayalin adegan romantis digendong ala putri yah?" goda Reza.
"iihhh..nggaklah, siapa juga yang berharap digendong kayak gitu sama kamu?" sambil menggoyangkan kakinya biar terasa makin berat.
"bisa diam gak, gak usah goyang-goyang. Berat," Reza berhenti sebentar dan memperbaiki posisi Cem yang turun karena terlalu banyak bergerak.
"kan katanya, aku anak kecil. Masa' gendong anak kecil aja gak bisa?" goda Cempaka.
Hanya ingin sampai secepatnya Reza melebarkan langkahnya. Dia terhenti di anak tangga paling bawah. Reza menghisap nafas dalam-dalam.
"Tuan, sudah sampai sini saja, aku bisa jalan sendiri"
Tidak mendengarkan permintaan Cempaka, Reza menggendong Cem sampai depan kamarnya. Reza menurunkan Cempaka dari punggungnya.
"makasih Tuan"
"Tuan? bukannya sepakat kamu bakalan pakai kata Mas?"
__ADS_1
"iya makasih Mas, udah puas? Aku masuk dulu," ketika akan menutup pintu tangan Reza menahannya.
"Kenapa?" tanya Cem heran.
"Kamu lupa, kalau kamarku di renovasi?" tanya Reza.
Kamar Reza di renovasi jadi lebih besar agar bisa digunakan berdua dengan Cempaka.
Dan akan selesei setelah kepulangan mereka dari bulan madu.
"Gak lupa, memang kenapa? kan masih banayak kamar lain!!" tiba-tiba dia teringat statusnya, dag dig duer hatinya dan matanya melebar.
"ini orang gak serius kan? dia mau masuk ke kamar sini"
"kenapa suami gak boleh masuk satu kamar sama istri?" Reza senyum menyeringai.
"Tunggu dulu, kan aku belum siap lebih baik kita pisah kamar dulu," jawab Cempaka panik.
"Kenapa, bukannya waktu itu kamu udah gak sabar nunjukin ke aku produk dewasa kamu? tadi waktu aku gendong aku raba-raba kaki sama bokong kamu juga gak bilang apa-apa. Udah minggir aku capek mau istirahat." Reza mendorong pintu dan masuk lalu merebahkan diri di atas tempat tidur.
Cempaka yang masih terkejut, hanya berdiri tertegun melihat tingkah laki-laki itu.
"Udah baring sini, bukannya tadi bilang capek? aku gak bakalan ngapa-ngapain. Janji" sambil menepuk kasur disebelahnya.
Dengan langkah pelan, Cempaka pun mendekati kasur di mana Reza berbaring, Reza menggeser tubuhnya supaya Cempaka bisa mendapatkan tempat.
Awalnya dia begitu gugup ketika meletakkan tubuhnya di atas kasur, tapi karena begitu lelahnya, Reza dan Cem tertidur tanpa mengganti pakaian mereka dan tanpa berdebat sedikitpun.
Hari sudah menjelang senja. Reza yang sudah bangun sejak tadi sudah mandi membersihkan diri dan berganti pakaian. Sementara Cempaka baru saja menggeliat beberapa menit di tempat tidur, merasa masih berat membuka mata.
"ooyyy, anak kecil, anak kecil." Dia menggoyanhkan tubuh Cempaka, tapi masih saja menggeliat.
"liurmu basahi kasur tuh," teriak Reza agak keras, sehingga Cempaka bangun terduduk dan mengelap-ngelap mulutnya mencari jejak liur yang dikatakan tadi.
"uuuuggghhh...kenapa bohong sih?" sambil mengantuk dan dia kembali merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Bentar lagi makan malam, kamu belum mandi dan ganti baju. Cepat dan gaunnya harus sudah kembali malam ini. Mama sama Papa juga sudah nungguin dari tadi di ajakin ngeteh tuh," ucap Reza sambil menarik tangan istrinya.
Dengan berat hati, ia bangun, mandi dan mengganti pakaiannya.
*bersambung....
__ADS_1