Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Trauma


__ADS_3

Keesokan harinya. Mereka memutuskan untuk jalan-jalan. Tapi sebelumnya lebih dulu memperbaiki hp Reza yang rusak terbanting.


Pesan dari ayahnya belum sempat di baca.


Cem sangat menikmati hari ini. Dia membelikan oleh-oleh untuk orang-orang rumah dan anak-anak panti asuhan, meski tak mewah hanya sekedar cindera mata.


Cem bahkan tidak pernah berlibur sekali pun. Karena terlalu sibuk belajar dan mengasah keterampilannya. Seluruh waktunya dia gunakan untuk mempelajari semuanya untuk bertahan hidup.


Setelah seharian bermain dan makan malam di luar, keduanya yang sudah sangat lelah mencuci wajah, berganti pakaian dan merebahkan tubuh mereka di atas kasur.


Sekitar pukul 2 pagi, Reza terbangun karena suara dering HP nya yang kencang karena belum sempat ia setting setelah pulang dari jalan-jalan.


Takut mengganggu tidur istrinya dia mengangkat telpon itu dan pergi ke kamar lain untuk bicara setelah melihat siapa yang menelponnya. Dini atau ibunya dia tak perduli. Ia sangat kesal.


Tak berselang lama, Cem yang mulai tersadar, merasa gerah.


Gelap, ia meraba tempat tidur di sampingnya, kosong. Tak ada sedikit suara kegiatan dari luar.


Ia mulai panik, dilihatnya jendela yang tertutup rapat.


Iapun bangun dari tempat tidurnya untuk segera membuka jendela, terlambat.


Kakinya sudah mulai lemas, nafasnya memburu sesak. Diapun terjatuh di lantai kamar.


Rasa gerah yang dia rasakan berubah menjadi dingin, meski kedinginan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.


"hhaaahh....tohh....lllo...buhhh," nafasnya sesak bicara tak jelas.


Ia meringkuk di samping kasur. Air matanya sudah keluar tak terbendung. Nafasnya yang sesak tak tau berapa lama lagi ia akan bertahan.


Berkali-kali ia mencoba menarik nafas dalam-dalam tapi udara seperti enggan mendekatinya. Dia menggenggam lehernya, yang sudah sesak, dengan tangan lainnya memukul meja dresser disamping kasur sampai gelas yang di atasnya terjatuh.


Reza yang sempat mendengar dentuman keras awalnya berfikir itu suara dari luar, sampai ia mendengar suara gelas pecah.


Dengan cepat ia berlari ke arah kamar dan melihat Cem yang sudah tergeletak dekat tempat tidur.


Cem mulai lemas, samar-samar ia dengar suara. Pandangannya mulai gelap.


"Ceeemmm...ceem...baangun!" teriak,


sempat bingung, dengan gemetar tangannya menelpon rumah sakit.


......


Trauma itu bermula saat gadis itu berusia 5 tahun.


Di hari yang cerah dan di hari yang sama setiap minggunya, kedua orang tua Cempaka akan keluar kota mengantarkan pesanan barang.

__ADS_1


Entah kenapa tak seperti biasanya, hari itu Cem memaksa ingin ikut.


Menangis sejadi-jadinya agar diajak. Keinginan kuat untuk ikut itu membuatnya menangis dan merajuk sepanjang hari.


Pengasuh yang merawat Cem, sangat lelah. Karena biasanya dia adalah anak yang ceria dan penurut.


Sore hari nendapat kabar bahwa majikannya akan tiba 30 menit lagi, pengasuh sudah meminta izin pulang lebih awal dikarenakan anaknya yang sedang sakit di rumah.


"Non, bibi pulang dulu yah. Fitri lagi sakit, jadi dia nyariin bibi terus," membujuk gadis yang sepanjang hari merajuk itu.


"Bunda sama Ayah dimana?"


"Bentar lagi nyampe Non, bibi sudah siapain cemilan Non, nanti kalau Non lapar bisa di makan yah."


Seolah mengerti ketika melihat wajah pengasuhnya yang sangat khawatir pada anaknya itu.


"Semoga Fitri cepat sembuh yah, nanti ditiup huhuhu...biar cepat sembuh kayak Cem, ditiup sama bunda," sambil meniup punggung tangannya sendiri.


Tersenyum, kemudian pengasuh itu menutup semua saklar listrik yang akan berbahaya buat Nona kecilnya, sesuai standar keamanan. Kemudian mengunci pintu dari luar.


Karena dia fikir 30 menit bukanlah waktu yang lama, karena tau Nona kecilnya seperti biasa selalu sabar menunggu.


Satu jam sudah berlalu dan hari mulai gelap. Cem tak tahu mana sakelar untuk menghidupkan lampu di rumahnya. Dia mulai memakan cemilan yang disiapkan pengasuh tadi.


Masih merasa lapar, ia mencari cemilan di buffet, tapi terkunci.


Satu-satunya sumber lampu yang masih menyala adalah lampu di dekat dapur.


Cem hanya duduk disitu.


"Bunda, Ayah, kapan pulang?" ucap gadis kecil itu menahan tangis.


Lingkungan rumahnya saat itu masih sepi, karena merupakan wilayah yang sedang berkembang.


Dia melihat keluar jendela, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Setiap ada mobil, dia berharap itu adalah orang tuanya.


Semakin sepi jalanan, dia memutuskan kembali ke meja dapur, yang mendapatkan pencahayaan. Dia sudah menghabiskan cemilan, air minum di atas meja. Diapun tertidur di atas meja makan.


Sementara itu, di suatu tempat. Orang tua Cem yang khawatir anaknya akan sendirian. Menyepatkan laju kendaraan, sehingga kecelakaan besar tak terelakkan.


Mengalami kerusakan parah, bahkan hampir membakar habis seluruh kendaraan dan orang didalamnya.


Jalanan sepi dan jauh dari pusat kota membuat penyelamatan yang dilakukan terlambat. Kesulitan dalam mengidentifikasi korban kecelakaan tersebut.


Pagi menjelang, gadis kecil yang biasanya akan terbangun di tempat tidur tidak perduli di mana dia tidur sebelumnya. Hari ini bangun dan masih berada di tempat ia merebahkan dirinya.


"Bunda?? Ayah?? " berkeliling dalam rumah mencari ayah dan bundanya. Karena hari yang masih terang ia tidak setakut tadi malam.

__ADS_1


Hari ini ia akan sendiri, karena pengasuhnya meminta izin beberapa hari.


Merasa lapar, ia akhirnya minum dari air keran. Karena cemilan yang biasanya tersimpan di lemari tak bisa ia dapatkan.


Kembali ia melihat dari balik jendela. Yang dipasangkan jeruji dengan niat agar tak mudah dimasuki maling, malah mengurung gadis kecil itu.


Akhirnya, ia hanya berdiri di balik jendela dan melihat kesibukan di luar rumah, beberapa kendaraan menjadi penghiburnya hari itu.


Menghilangkan laparnya dengan meminum air keran. Kadang sesekali menangis memanggil Ayah dan Bundanya.


Malam kembali datang, tubuhnya mulai lemas karena tidak memakan apapun hari itu.


Suara sepi dan lapar membuat ia semakin jelas mendengar. Suara deritan dari pelapon rumah karena tikus yang berlarian makin membuatnya takut dan bersembunyi di bawah meja.


Meringkuk, kedinginan, lapar dan ketakutan.


Sesegukan iya menangis memanggil ayah dan bundanya.


Pagi kembali menjelang, ia berjalan ke arah jendela luar, berteriak berharap ada yang mendengarnya.


Tubuh mungilnya yang sudah mulai kehabisan energi itu, sudah mulai lemas dan tak berdaya. Dia kembali ke bawah meja tempat persembunyian dari bunyi-bunyi yang menakutkan baginya saat malam tiba.


Ia tergeletak dan tertidur di sana. Entah dia pingsan tak sadarkan diri atau hanya tertidur lemas.


Dua hari kemudian, Pengasuh itu kembali melihat rumah yang masih kosong ia terheran. Majikannya bahkan tidak meninggalkan pesan tentang rumah yang akan kosong. Ketika ia menuju dapur, ia dengar suara merintih kecil dari bawah meja dapur, sangat terkejut dan segera membawa gadis kecil itu ke rumah sakit.


Dehidrasi dan trauma. Bahkan sampai gadis kecil itu, tak mampu bicara.


*Masa kini


Entah kenapa, setiap terkena serangan panik, Cem selalu memimpikan kejadian 15 tahun yang lalu itu.


Karena kejadian itu Cem tidak bisa berada di ruangan gelap dan sunyi.


Tidur dikamar dengan jendela terbuka.


Asalkan ia sempat mendengar suara orang disekitarnya ia baru bisa tenang.


Cem tersadar, ketika membuka mata dia sudah berada di rumah sakit.


Di sampingnya, kepala laki-laki yang sedang tertidur dan menggenggam tangan Cem dengan lembut.


Dielusnya kepala itu. Dan laki-laki itu seketika bangun.


"Cem sudah sadar?biar mas panggilkan dokter," dengan wajah khawatir.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2