
"Pak Gun?"
Dia melihat Gun kaget, ada urusan apa dia datang menemui Silvi. Karena sebelumnya pun mereka mereka tidak pernah berbicara.
Mereka hanya bertemu beberapa kali ketika Nyonya besar dan Tuan Romi berada pada satu lokasi.
"emm..Ada apa bapak ke sini? Dan Bagaimana bapak tahu saya disini?" tanya Silvi heran.
"Ah, tentu saja. Para asisten-asisten punya informasi tentang pegawai mereka yang kerja dekat dengan keluarga mereka." batinnya mengingat pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.
"Saya ingin meminta bantuan!"
"Bantuan apa?"
Silvi mempersilahkan Gun duduk di bangku depan ruangan anaknya.
"Ini adalah rahasia. Tidak boleh ada yang mengetahuinya!"
"Huh? rahasia? dan kenapa memintaku," bertanya Silvi dalam hatinya, tapi memperlihatkan ekspresi bingung di wajahnya .
Melihat wajah Silvi, Gun langsung bicara, "biaya rumah sakit putrimu akan ditanggung Tuan Romi."
"Tunggu! kenapa? tidak, maksud saya tentu saja saya akan sangat berterima kasih. Tapi saya bahkan belum mengetahui tugas saya. Dan kenapa meminta bantuan saya?"
"Pegang ini!" Gun memberikan Silvi sebuah ponsel.
"Aku akan menghubungimu. Dan aku akan mengirimkan uangnya begitu tugasmu selesei."
"Kapan tugas saya perlu dilakukan? ini bukan pekerjaan yang ilegal kan?"
"Aku tidak tahu kapan pastinya. Kami akan menghubungimu lewat ponsel itu. Bahkan jangan beritahu Pak Didi." Gun beranjak pergi.
"Tunggu! operasi Vivi besok lusa. Jadi hari ini aku harus melunaskan biayanya."
"Tak usah khawatir. Mereka akan mengoperasi anakmu.
Jaminannya adalah nama Tuan Romi.
Tapi kalau kamu gagal, maka biayanya akan jadi hutang seumur hidupmu. Dan tidak usah khawatir. Kita tidak akan membunuh siapapun. Apa yang akan kamu lakukan adalah hal sederhana." Gun lalu beranjak pergi.
"Apa sih yang aku fikirkan? Aku bahkan tidak tahu apa tugasku. Tidak, ini jadi lebih mudah kan? Aku tidak perlu malu di hadapan Pak Didi. Tapi, kenapa pekerjaan ini harus di rahasiakan dari Pak Didi?" Meskipun bingung, ia merasa lega karena tidak perlu memikirkan biaya operasi putrinya lagi.
Operasi putrinya berjalan dengan lancar.
Tidak ada tanda-tanda penolakan pada ginjal yang diterima. Akhirnya ia bisa menarik nafas lega.
Pak Didi sudah memberikan dia waktu istrahat untuk menjaga putrinya karena operasi. Dia sangat bersyukur bekerja pada keluarga Rahadi. Apalagi atasannya adalah Pak Didi.
Beberapa hari kemudian. Pak Didi menelponnya karena Nyonya Rahadi yang tiba-tiba sakit.
Semenjak Cempaka menikah, Silvi lebih sering menjaga Nyonya besar. Hampir setiap waktu.
Silvi tidak mengetahui detail maslah yang ada di dalam rumah itu.
__ADS_1
Yang ia tahu, Tuan Romi sakit Nyonya yang mengetahuinya ikut jatuh sakit.
Belum lagi masalah Cempaka dan Reza, yang hubungannya terganggu karena Reza menemani Anita.
Ponsel yang di berikan Gun akhirnya berdering.
"Temui aku di Cafe XX. Sekarang." Gun langsung menutup teleponnya.
"Apa? aku bahkan belum bisa menjawab bisa atau tidak. Apa aku harus melapor pada Pak Didi? Tapi Gun memintaku untuk tidak memberitahu Pak Didi."
Silvi pun meminta izin untuk keluar.
Dia bertemu dengan Gun.
"Masukkan itu ke dalam makanan untuk malam ini?" Gun menyodorkan sebuah botol kecil pada Silvi.
"Hah? Apa ini? Anda bilang tidak akan membunuh!"
"Itu hanya obat tidur. Berikan pada seisi rumah."
Silvi langsung menolaknya.
"Tidak, saya tidak mau. Saya bahkan tidak tahu pasti apa isi botol itu."
"Kamu tidak punya hak untuk menolak. Kamu ingat kan?"
"Saya ingat. Tapi jika harus melakukan hal seperti lebih baik saya menanggung malu di hadapan Pak Didi." Gun menghela nafasnya kesal.
"apa maksud bapak? Kenapa saya harus dipenjara?" Gun menggeleng.
"tsk..tsk..tsk.. Kamu tahu kan betapa mudahnya menjebak seseorang menggelapkan uang perusahaan? Apalagi mengingat kondisi putrimu."
Silvi membeku. "Apa ini? Aku sudah melibatkan diriku dalam apa? Harusnya aku langsung melapor pada Pak Didi tentang Gun. Padahal dia sudah memperingatkan seisi rumah. Bodoh, bodoh." Silvi memaki dirinya sendiri dalam hati.
"Bukankah kamu harus kembali sebelum makan malam kan?" Gun membuyarkan lamunannya.
"Tapi, saya benar-benar takut Pak Gun."
"Terserah, pilihan ada di tanganmu. Penjara atau berikan obat tidur." Gun menghirup kopi yang ia pesan tadi.
Silvi menarik nafas dalam-dalam, menutup matanya. Terbayang wajah putrinya yang sakit dan menangis mencarinya.
Tapi terbayang juga wajah Pak Didi yang akan sangat kecewa padanya.
Ia pun cepat mengambil botol itu dan berdiri.
"Hubungi aku kalau semua orang sudah tertidur." ucap Gun.
Dan malam hilangnya Cempaka pun terjadi. Silvi melihat Reza yang kalang kabut. Memeriksa kamar Nyonya besar, memeriksa kamar pelayan dan akhirnya ke luar dan memeriksa penjaga yang ada di luar. Dan Reza menelepon Pak Didi.
Silvi hanya melihat sambil bersembunyi. Dia sama sekali tidak tahu apa yang sudah dilakukannya.
Setelah Pak Didi sampai di rumah. Ia menjelaskan dan menceritakannya pada Reza. Silvi yang kaget, menarik nafas dengan keras kemudian menutup mulutnya.
__ADS_1
"Silvi?" panggil Pak Didi.
Dia keluar dari tempat sembunyinya.
"Sa.. sa.. saya benar-benar tidak tahu. Kalau Pak Gun dan Tuan Romi akan melakukan itu.
Saya.. saya." Dia menangis sesegukan merasa bersalah.
"Silvi, tenang. Apa yang terjadi? Semua orang tertidur. Kenapa se....." Pak Didi yang khawatir tiba-tiba berubah menjadi dingin.
"Katakan, apa yang sudah kamu lakukan?" Dia menatap wanita di depannya.
"Saya .. saya yang sudah memasukkan obat tidur ke dalam makan malam hari ini. Karena Mbak Cem dan Nyonya tidak makan malam Hanya mereka berdua yang..."
"Pergilah menunggu ke ruangan pelayan." potong Pak Didi yang kelihatan sangat marah menahan diri menampar wanita di hadapannya. Karena mengingat Tuan besarnya sangat membenci kekerasan.
Reza yang mendengar Silvi pun sangat marah. Andaikan ia bukan seorang wanita. Entah mungkin Reza sudah menghajarnya.
Silvi berjalan ke ruangan pelayan.
Sementara Pak Didi dan Reza sibuk mencari solusi. Sampai mereka mendapatkan telepon dari seseorang bernama Windi. Dan mereka mulai bergerak.
Silvi sangat sedih mengingat tatapan Pak Didi padanya.
Dia akhirnya hanya siam di rumah itu. Membantu dokter dan perawat yang dipanggil untuk memeriksa keadaan seluruh orang di dalam rumah itu.
Akhirnya ia hanya duduk di samping Nyonya besar yang terjaga, karena tidak makan malam.
Keesokan harinya, semua orang bangun dengan sakit kepala. Silvi sudah menyiapkan makanan untuk mereka semua. Dia merasa sangat bersalah.
Tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Mengundurkan diri atau menyerahkan diri pada polisi. Dia juga sangat takut akan keuputusan Pak Didi untuknya.
Malam hari lagi Pak Didi sudah kembali. Cempaka dan Reza di rumah sakit begitu juga dengan Romi. Sementara Tuan Besar menemani istrinya dalam kamar.
Pak Didi langsung masuk ke dalam ruang kerja. Silvi yang melihatnya langsung mengikuti.
Membuka pintu tanpa mengetuknya langsung ia berlutut si hadapan Pak Didi. Sementara Pak Didi duduk di kursinya bersandar dan memijat kepalanya.
Mereka sama-sama menunggu siapa yang akan memulai pembicaraan. Pak Didi merasa sangat kecewa pada Silvi.
"Saya akan menyerahkan diri pada polisi," ucap Silvi tiba-tiba, dan membuat Pak Didi menatapnya.
"kenapa?"
"Saya tahu, saya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal."
"Sudah! jangan menambah masalah baru lagi. Aku sekarang sangat lelah. Pulanglah dan temani putrimu." Teriak pak Diidi yang sangat kecewa. Meskipun Pak Didi juga tau. Bagaimana gampangnya Gun membuat orang melakukan perintahnya. Apalagi dia pasti sudah tahu kelemahan Silvi.
Silvi pun menangis, keluar ruangan.
Keesokan harinya, ia mengirimkan surat pengunduran dirinya dan bersembunyi dari kealahannya. Ia bahkan memindahkan rumah sakit putrinya.
*bersambung......
__ADS_1