
Demi membantu skandal yang sudah merusak nama baik Tuan Wisnu, akhirnya Cempaka menyetujui perjodohan yang di usulkan oleh Nyonya Besar.
"Kalau sampai laki-laki itu berani main kasar lagi, aku akan melaporkannya pada polisi. Lagipula gak ada ruginya," fikirnya.
Meskipun dia tidak berharap menikahi Reza yang sekarang. Dia berharap Reza yang baik dan lucu masih ada di dalam sana.
Berita pun mulai dimuat. Di koran dan media-media televisi. Tentang Wanita Simpanan yang ternyata adalah Calon Menantu Tuan Wisnu
Sementara itu di tempat lain.
"aaaaaaaahhhh....gak...gak... gak mungkin, kenapa dia tega ngelakuin ini sama aku bu? Dia bilang dia cinta sama aku"
gadis itu berteriak dan membanting semua benda yang ada dalam kamarnya setelah melihat berita pernikahan itu.
"stop nak, tenangin dirimu. Dia hanya mencintaimu, kamu gak boleh khawatir.
Kalau sampe kamu dibawa ke RS lagi dia bilang gak akan nelpon lagi kan?" ibunya memeluk anak gadis yang sedang berteriak histeris itu.
Di tempat lain lagi.
"Gak, Gak mungkin. Ini semua berita bohong. Aku tau gadis seperti apa Cempaka itu, gak mungkin Reza memutuskan menikah dengan gadis seperti itu. Dia sudah pernah bersumpah."
Dia berdiri melihat berita itu berbisik pada diri sendiri dan gelas yang tengah dipegangnya jatuh ke lantai.
"Non, gak apa-apa Non?" tanya seorang pelayan yang khawatir karena melihat gelas pecah dekat kaki Nona muda nya.
"euh, apa? aku gak apa-apa bi, tolong beresin yah!" kemudian ia pergi ke kamarnya.
Wanita yang galau itu, hanya bisa mondar mandir dalam kamarnya.
Di tempat lain.
"hahahhahahaha, Mama benar-benar hebat. bisa bikin Reza menikah begitu balik ke sini" tawa Romi yang melihat berita tentang kabar pernikahan adiknya.
Kemudian ia menelpon istrinya untuk bersiap-siap nanti sore akan menjenguk keluarga Rahadi.
Dia belum bertemu dengan adiknya karena sibuk dengan pengambil alihan kepemimpinan perusahaan. Dan juga dia rindu orang tua dan adik kecilnya ,Cempaka.
Kediaman Rahadi.
Kediaman ini, sudah mulai sibuk sejak pagi. Pernikahan mendadak yang kabarnya sudah ke mana-mana ini, kabarnya akan di adakan dalam tiga minggu ke depan, karena setelah itu Reza akan sibuk dengan kerjaan baru, begitu juga Cempaka yang akan sibuk membantu Tuan Besar kampanye.
Sebuah mobil sudah memasuki gerbang dan berhenti di pintu utama. Turunlah Romi dan istrinya Anita.
"Non, ada tuan Romi datang berkunjung!" Bi Ida memberitakan kedatangan Romi pada Cem.
Otomatis gadis yang tengah sibuk itu, berlari menuju pintu utama.
"Kak Romiiii," dia berteriak dan memeluk laki-laki yang sudah lama tidak datang berkunjung tersebut.
__ADS_1
"Cem, gi mana kabar?" tanya Anita yang sejak tadi berdiri disamping Romi.
"Baik mbak, mbak gi mana?" beralih memeluk Anita.
"Baik juga, semoga lancar yah acaranya!" kata Anita dengan senyuman yang kelihatan dipaksakan.
Reza juga turun menyambut kedatangan kakaknya tersebut.
"woyy, calon pengantin, padahal harusnya kamu mulai kerja besok lusa, lah balik ke sini bukannya sibuk kerja malah nikah, sebegitu jatuh cintanya sama Cempaka? Belum ada berapa hari udah lamar-lamar aja," kata Romy menggoda adiknya.
"hahaha. iya, siapa sangka aku jatuh cinta secepat ini? sampai nikahin dia," menjawab kakanya bercanda sambil menunjuk ke arah Cem.
"iiihhh, jatuh cinta apaan?? uueeekkk"
Cem hanya bisa memincingkan matanya ke arah calon suaminya itu.
Sementara di sisi lain, Anita merasa kesal dengan candaan kedua saudara ini.
"aah. kamu belum pernah ketemu Anita kan, ini istri aku" Romi mengenalkan istrinya.
"kenalk......" Anita berpura-pura mengenalkan diri tapi di potong pembicaraannya oleh Reza.
"udah pernah, satu kampus dulu di luar negeri. Udah lama gak ketemu Nit," jawab Reza cuek.
"eehh, ya. Udah hampir 3 tahun yah??"
"Tak taulah, gak ngitung. Ayo ke tempat Mama" ajak Reza yang jawabannya agak cuek kepada Anita.
Kemudian mereka menuju ruang santai, di sana ada Nyonya dan Tuan Besar yang sedang duduk santai sambil mengobrol minum teh.
Wanita yang kaget kedatangan putra sulungnya yang mendadak, otomatis berubah jadi kebahagiaan yang berkali-kali lipat. Karena sudah cukup lama juga putra sulungnya berkunjung.
"aku tau adik-adikku akan menikah melalui berita. Bagaimana bisa aku gak datang minta kejelasan?" canda Romi kepada orang tuanya.
Asyik mengobrol, "Ka Romi, mbak Anita dan Tuan Reza mau minun apa?" Cempaka bangkit dari tempat duduknya.
"Lah, kok Reza dipanggilnya Tuan?" tanya Romi pada anggota keluarga.
"Tak tau lah, Tuan Reza tidak suka aku panggil kakak," jawaban jujur dari bibir Cem.
"hahahahha, ya udah aku Kopi aja, Nita?"
"aku teh aja, Cem," jawab Nita.
Cempaka kemudian melihat Reza, tapi Reza bangun dan menarik tangan Cempaka.
"Udah, aku pergi lihat langsung aja ke dapur," berjalan ke dapur sambil menarik tangan Cempaka.
"iiihhhh, apa-apan sih main tarik-tarik. Emang aku apa sih, suka banget narik-narik, udah itu ja...ngan pegang-pegang, bukan muhrim." Cem menarik tangannya dari tangan Reza.
__ADS_1
"Sok bicara muhrim, tadi juga meluk Ka Romi gak ada tuh bahas-bahas muhrim-muhriman?"
"kan kak Romi ku anggap Kakak, gak ada perasaan aneh-aneh," jawab Cem
"Jadi kamu punya perasaan aneh sama aku?" tanya Reza yang tiba-tiba mendekatkan wajahnya melihat ekspresi wajah Cem dari dekat.
Otomatis gadis itu menahan nafas, seolah-olah udara disekitarnya tersedot oleh Tuan Mudanya. Dan iapun melihat wajah tampan Reza dari dekat, dari jauhpun sudah terlihat tampan apalagi dari dekat.
Melihat wajah gadis itu dari dekat, bulu matanya yang lentik, pipinya yang sedikit cubby dan kelihatan lembut itu, Reza pun kembali menarik wajahnya menjauh.
"jadi kamu punya perasaan aneh apa sama aku?" tanya Reza yang sedikit agak gugup setelah melihat wajah calon istrinya dari dekat.
Cempaka, yang akhirnya bisa bernafas menjawab pertanyaan Reza dengan terbat-bata.
"iiihh... aa..appaan sih, bukan.. bukan persaan itu maksud aku.."
Cempaka pun berjalan dengan cepat menuju dapur, tak sadar nafasnya sudah ngos-ngosan sampai dapur.
Dia pun membuka kulkas mendinginkan wajahnya yang memanas dan segera meneguk air dari kulkas. Pelayan yang melihatnya hanya geleng-geleng. Karena tingkah aneh Cempaka merupakan hal biasa di rumah ini.
"Walaupun dia ganteng, tapi kalau sifatnya kasar kamu gak boleh suka Cem, tapi kan bentar lagi jadi suami istri.
ehh, pokonya ntar kalo berani macam-macam laporin Ibu atau langsung laporin polisi aja," Cem berdebat dengan fikirannya sendiri.
Kemudian Cem membuat teh dan kopi yang tadi di pesan Romi dan Anita. Dia mengantarkan minuman itu, tapi dia tidak melihat Reza dan Anita di ruangan itu.
Akhirnya dia memutuskan kembali ke kamarnya, di lantai 2 dia justru melihat Reza dan Anita yang sedang larut dalam percakapan atau lebih tepatnya perdebatan menurutnya. Dia ingat tadi katanya kalau mereka pernah satu kampus.
Cem, jadi ragu. Apakah ia harus terus jalan ke kamarnya atau menunggu mereka selesei bicara. Ketika dia akan turun tiba-tiba Anita teriak.
"kamu sudah pernah bersumpah sama diri kamu Ja, apa kamu lupa? atau jangan-jangan kamu sama sekali gak pernah ngelupain dan masih mencintai Dini? Iya? Terus apa arti aku buat kamu Ja? selama hampir 4 tahun aku nemenin kamu Ja, menemani kamu dari luka hati kamu. Atau semua kata cinta yang pernah kamu ucap ke aku itu semuanya bohong?huh?jawab Ja..." wanita itu menagis sambil meraih baju Reza dan meremasnya.
"kalo kamu tanya apa arti kamu saat ini, kamu cuma kakak iparku dan istri kakak ku. Gak lebih. Di detik kamu ninggalin aku dan memutuskan menikahi kakakku kamu bukan lagi siapa-siapa buatku Nit," jawab Reza.
"aku ngelakuin itu, buat kamu Reza. Aku fikir kalau aku pura-pura akan menikahi Kakak kamu, kamu akan berusaha cegah aku." Menagis dan mendekatkan kepalanya ke dada Reza.
"Nit, aku pernah cinta sama kamu, kata cinta aku ke kamu gak pernah bohong. Tapi sekarang aku jujur. Aku lepasin kamu di detik kamu putuskan menikah sama Kak Romi. Perihal Dini, aku hanya merasa bertanggung jawab sama mentalnya, itu saja gak lebih dan kenapa jawaban kalian selalu bilang demi aku, seolah aku yang minta kalian ngelakuin semua itu," jawab Reza.
Masih menangis, " Cempaka? terus Cempaka, bukannya dia mirip sama Dini, sifat yang paling kamu benci dari cewek?" tanyanya lagi.
Reza kemudian memegang bahu Anita menjauhkan wajahnya dari dadanya.
"Apapun perasaan aku ke Cempaka, itu sudah gak ada hubungannya sama kamu. Dan aku mohon hiduplah bahagia sama Kak Romi dan setia sama dia," Kata Reza meninggalkan Anita dan berjalan turun.
"bagaimana aku bisa bahagia, sementara dia tak pernah mencintaiku," batin Anita.
Sampai di anak tangga, Reza melihat Cem yang sedang terkejut, tidak bisa bicara apa-apa.
"Cem!" Reza memanggil Cempaka, Cempaka yang tersadar kemudian lari bersembunyi.
__ADS_1
Reza mencoba mencari Cempaka tapi tidak ketemu.
*bersambung...