Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Malam Pertama (part 2)


__ADS_3

Setelah makan malam, Romi dan Anita pamit pulang.


Reza dan Cem kembali ke kamar.


Setelah berganti pakaian, Cem belum berani tidur karena sangat gugup.


"aaahhh, kenapa harus di sini sih tidurnya? serius kita bakalan tidur bersama malam ini? Tapi aku belum siap.Tapi dia kan suamiku, bagaimana kalau dia memintaku?"


Memerah sendiri pipinya memikirkan apa yang akan mereka lakukan.


Begitu Reza keluar dari ruang ganti, semakin tidak karuan detak jantung Cempaka.


Tetapi bukan hanya Cempaka yang merasakan, Reza juga yang tak kalah gugup jantungnya deg-degan tak karuan.


Berjalan mendekati tempat tidur, Reza duduk di hadapan Cempaka yang sejak tadi duduk dengan gugup juga.


Pelan-pelan Reza memajukan wajahnya ke arah Cem. Cem memeramkan matanya dengan rapat, Reza hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu, tapi begitu dia merasakan nafas Reza di wajahnya.


"Tunggu dulu, aku belum siap!" Cempaka berteriak cukup kencang dan sedikit mendorong tubuh suaminya, Reza dengan otomatis membelokkan tubuhnya dan tangannya langsung mengambil bantal yang terletak dibelakang Cempaka lalu berdiri.


"hahahahahaha, apa sih yang kamu fikirkan?? kamu berfikiran mesum yah?" tanya Reza sambil tertawa.


Cempaka kemudian membuka matanya, melihat Reza sudah berdiri memegang bantal dan melangkah ke pintu.


"Mas mau ke mana??"


"aku tidur di sofa luar saja."


Karena jujur, jika Cem tidak menghentikannya, ia akan terbawa suasana. Tapi ia juga tak ingin melakukan sesuatu yang tidak siap dilakukan oleh Cem.


"Mas Reza, marah?"


"hahahahahah, anak kecil, udah tidur saja. Aku gak marah, kita perlu tidur cepat, besok kan berangkat harus pagi-pagi."


"Hanya saja kalau aku terus disini aku bisa tidak tahan diri," batin Reza


Mendengar dipanggil anak kecil, semakin emosi Cempaka yang mengingat kejadian sore tadi bersama Anita.


Kenapa semua orang ini menganggapnya anak kecil?


Karena marah Cem melemparkan bantal ke arah Reza dan mengenai kepalanya.


"Apa-apan sih kamu?"


"aku...bukan... anak.....kecil" dia mengambil guling dan melemparkan lagi pada Reza, Reza menghindar.


Ketika akan mengambil guling lagi, Reza menangkap pergelangan tangan Cem, kemudian mendorong tubuhnya jatuh ke kasur dan menahan tangan Cempaka ke samping tubuhnya.


"kenapa sih tiba-tiba marah? tadi katanya belum siap," tanya Reza heran.


"kenapa kalian anggap aku anak kecil?" tanyanya kesal, dalam posisi tidur dan Reza di atas tubuhnya menahan tangan Cempaka.


"kalian?"


"iya, mas Reza sama Anita nganggap aku masih anak kecil. Itu juga kenapa Mas Reza keluar dari kamar kan?

__ADS_1


Anita bilang sekarang Mas Reza lagi main rumah-rumahan sama aku."


Reza kemudian turun dan melepaskan tangan Cem dan duduk. Cem pun ikut bangun dan duduk.


Reza memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Cem, ia menggenggam kedua tangan Cem dan menatap wajah istrinya itu.


"Memang pernikahan ini kita lakukan karena niatan bantu Papa, tapi aku gak pernah menganggap pernikahan ini main-main.


Aku serius menikahi kamu.


Untuk Anita, semuanya sudah berakhir dengannya 3 tahun yang lalu.


Dan untuk yang tadi, meskipun sebagai suami, aku gak mau melakukan sesuatu yang kamu belum siap," jelas Reza


"tapi, bisa gak berhenti manggil aku anak kecil?" pinta Cempaka.


"aku manggil kamu anak kecil, bukan karena nganggap kamu anak kecil, tapi karena reaksimu seperti anak kecil.


Dan aku juga tau, gak ada anggota badan kamu yang menunjukkan kamu anak kecil apalagi yang kulihat tadi setelah mandi". Canda Reza mengedipkan matanya.


Cempaka yang merasa malu, melepaskan tangan Reza dan berbaring di tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. "aku mau tidur."


Reza pun tersenyum dan


mengambil semua bantal yang sudah dilempar Cempaka tadi. Dia mengangkat kepala Cem dan meletakkan satu di bawah kepalanya.


Cem hanya memperlihatkan wajahnya saja dari balik selimut.


Dan Reza meletakkan bantal lain disamping Cem, kemudian ikut berbaring di samping istrinya.


"tangan? buat apa?"


"udah siniin tangannya"


Cem memberikan tangannya, dan Reza menggenggam tangan istrinya.


"malam ini, cukup segini saja. Tidak apa-apa" ujar Reza dalam hati.


merekapun tertidur sambil berpegangan tangan di malam pertamanya.


Tengah malam, Cem merasa sedikit gerah karena biasanya dia kan merasakan dingin saat malam.


Dia sadar, ternyata yang tadinya hanya berpegangan tangan, sekarang Reza sudah memeluk Cem.


Cem tersenyum dan melihat wajah suaminya.


Dia sadar, bahwa Reza tetap laki-laki yang baik dan hangat yang ia ingat.


Mungkin saat itu ia hanya marah dan bukan padanya.


Cem menegok ke arah jendela kamarnya. Jendela yang setiap malam terbuka itu, malam ini tertutup rapat.


Tapi ia tak merasa takut ataupun sesak nafas. Karena sekarang ada seseorang yang menemaninya di dalam kamarnya.


Ia tersenyum dan merapatkan pelukannya.

__ADS_1


Keesokan paginya.


Reza yang terbangun lebih dulu, melihat ke arah langit-langit merasakan tangannya kesemutan.


Dia melihat tangan Cem yang ada di atas tubuhnya, kepala Cem berada diatas lengannya. Dia berusaha mengangkat kepala Cem pelan-pelan. Tapi setelah melihat jam, sudah waktunya siap-siap.


Tentu saja, meski pagi-pagi begini fikiran jahilnya untuk menjahili Cempaka muncul.


Dia mengambil air yang ada di meja samping tempat tidur, dan membasahi lengannya yang dekat dengan wajah Cem.


"iiiiiiihhhhhh, anak kecil kamu jorok sekali!"


sontak Cem membuka mata kaget.


"lihat tuh, liur kamu basahin semua lenganku"


Cem yang melihat itu tentu saja kaget dan merasa malu dan cepat-cepat mengambil tisu dan mengelap lengan suaminya.


"maaf, aku gak tau kalau aku ngiler kayak gini," cepat-cepat dia membersihkan lengan Reza.


Reza yang melihat hal itu, hanya tersenyum menahan tawa. Cem masih sibuk membersihkan lengannya.


"tunggu, biar aku ambilin air" Cem hendak bangun tapi terhenti karena tawa Reza.


"hahahahahaha, muka mu, hahahahah, lihat mukamu," tentu saja Cem merasa heran.


"ini orang kenapa sih??" batin Cem.


"eeehhem, ini buka iler mu, cuma air. Tadi mas ngerjain kamu. Lihat muka panik mu, hahahahahhaa"


Lantas saja, Cem langsung marah dan memukul suaminya itu dengan bantal berkali-kali.


'ho..bi..nya ngerjain orang melulu" setiap kata yang keluar dia memukul Reza dengan bantal.


"hahahahha....ampuun..."


tapi Cem tidak berhenti, dia pun menahan kedua pergelangan tangan istrinya dan menariknya. Kemudian dia mengecup pipinya.


Cem yang pertama kali di cium pria ini, sangat malu, meskipun itu hanya kecupan di pipi.


"udah aku mau mandi dan siap-siap" Cem berlari ke arah kamar mandi.


"kamu ngajakin aku mandi juga?" teriak Reza yang masih di tempat tidur. Dia hanya bisa cekikikan melihat tingkah malu-malu istrinya.


Di lantai bawah, orang-orang sudah menunggu sepasang suami-istri itu untuk melepaskan mereka pergi berbulan madu.


"Pah, papa sudah kasi tau Reza kan?" tanya Nyonya pada suaminya


"Astaga, aku lupa. Kenapa aku bisa lupa? nanti tunggu mereka turun papa kasi tau."


Nyonya besar sangat bahagia melihat putranya dan menantunya yang turun dengan wajah bahagia dari lantai dua.


"Semoga aku bisa cepat dapat cucu," bathinnya.


*bersambung...

__ADS_1


__ADS_2