Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Rencana Anita


__ADS_3

Begitu tiba, Anita sudah melihat Cem duduk di dalam ruangan tempat yang sudah disepakati dengan Pak Didi.


"Ku pikir aku akan bertemu dengan Pak Didi," ucap Anita duduk di depan Cem.


"Bukankah sama saja yang akan kita bicarakan?" jawab Cem.


"Apa kamu sudah selesei bermain rumah-rumahan dengan Reza? Aku pasti akan mengambilnya kembali"


"hah, mbak fikir dia barang yang mbak titipkan? Sudahlah, tanda tangani ini, dan kita akan segera mengakhiri pembicaraan ini" Cem menyodorkan map yang berisi surat perjanjian.


"Aku, ingin meninggalkan Romi. Aku yakin kamu datang karena sudah mengetahui apa yang terjadi antara aku dan Romi kan?" Jawab Anita tanpa membuka map.


Anita melihat kiri dan kanan.


"ah aktingku buruk sekali, kita diruang VIP tapi aku pura-pura lihat kiri kanan," batin Anita.


"Bacalah dulu. Aku tidak membuat perjanjian yang memberatkan. Dan aku fikir ini akan menguntungkan kedua belah pihak," ujar Cem.


"kamu anak kemaren sore, ingin membuat kesepakatan denganku? cih" batin Anita.


Anita membuka map yang disodorkan.


"Ide siapa ini?"


"hahhahaha....sebenarnya ini bukan ide buruk. Dengan begitu, apapun yang aku lakukan berdampak juga pada keluargaku karena adanya anak kami.


Tapi menyuruhku mengandung keturunan Rahadi? Dia bahkan tak melirikku meski aku berdiri tanpa pakaian di hadapannya. Apa kau juga sedang berusaha menjaga suamimu dengan menyuruhku hamil?" batin Anita


"apa kamu gila? apa kamu tau bagaimana aku bertahan di rumah itu. Jangankan untuk menghamiliku. Aku tak akan membiarkan ia menyentuh seujung kukuku." ucap Anita yang pura-pura marah memukul meja.


Cem yang kaget, selain dengan gertakan meja, tapi juga dengan kata-kata Anita.


"berhasillah, perdulilah, aku tahu kamu orang baik Cem. Tapi ini harusnya bukan untuknya. Aah..Tapi tidak perduli siapapun mereka juga akan tahu pada akhirnya." Anita.


"Apa maksud mbak Anita?" tanya Cem khawatir menarik pergelangan tangan Anita.


"jika kamu hanya akan mempercayai Romi dan tidak punya niat untuk membebaskanku. Maka hentikan omong kosongmu yang pura-pura perduli." Jawab Anita judes.


Setelah itu, Anita menepis tangan Cem lalu berlalu pergi.


"tidak, dia tidak boleh pergi. Bagaimana aku bertanggung jawab akan hal besar kalau hal ini saja aku sudah galau. Aahh." batin Cem.


Dia lalu mengejar Anita keluar.


Menghentikan langkah Anita dan berdiri di depannya.


"Baiklah, aku akan membuat mbak Anita bercerai. Aku akan memperbarui suratnya. Dan meminta persetujuannya Pak Didi.


Jika tidak, aku tidak punya pilihan lain selain menggunakan aib keluarga Mbak untuk menghancurkan Mbak dan aku serius." Ancam Cem pada Anita.


"Ternyata kamu sama saja seperti orang lain. Selalu mengancamku menggunakan keluargaku. Demi bebas dari Romi aku akan melakukan apa saja."

__ADS_1


Anita kemudian kembali masuk ke dalam ruangan"


Cempaka sekarang semakin galau. "Bagaimana caranya aku bisa menyelesaikan masalah seperti Pak Didi?" ucapnya dalam hati.


"Baiklah, sebaiknya mbak ceritakan ke aku yang sebenarnya. Maka dengan begitu, aku bisa membantu Mbak. Apa Mbak pernah disakiti secara fisik?" tanya Cem ragu.


"aahhh..tidaak.. Kak Romi tidak mungkin berbuat seperti itu kan? Tuhan, siapa yang harus kupercaya?" batin Cem memohon.


"Apa aku bisa percaya sama kamu?" Tanya Anita ragu-ragu.


"gak tau, aku saja tidak tahu siapa yang akan aku percaya. Pak Didi bilang jangan percaya siapapun."


"Itu semua terserah Mbak. Mbak yang memutuskannya. Dan aku juga akan memutuskan sesuai dengan apa yang mbak ceritakan ke aku." Jawab Cem dengan percaya diri.


Kemudian Anita menceritakan awal pernikahannya dengan Romi. Dan bagaimana pertahanannya mulai runtuh ketika melihat Reza.


Tapi tentu saja ia tak akan memberi tahu tentang perasaannya terhadap Romi.


Dan bagaimana perasaan cinta Romi pada Cempaka.


Cempaka kemudian menghubungi Pak Didi dan menceritakan semua yang diceritakan Anita. Dari Gun yang suka memukuli Anita, karena berusaha lari dan Cem diminta pulang ke rumah oleh Pak Didi.


Karena mereka harus membicarakannya lebih lagi, jika memang terjadi hal seperti ini.


Sementara itu, Anita yang sudah tiba di rumahnya masuk ke ruang kerja Romi. Setelah dipersilahkan masuk. Gun malah menamparnya.


"Dengan siapa kamu bertemu?" tanya Romi seolah tak melihat kalau Anita sudah ditampar.


"kamu tidak usah khawatir, aku menceritakannya sesuai rencana kita. Aku tidak akan membuat Cem benci padamu." jawab Anita.


"Duduklah, Gun ambilkan kompress. Lain kali jangan langsung memukulnya di wajah!"


"Baik Tuan" Jawab Gun.


Anita kemudian duduk di sofa. Dan Romi berjalan ke sofa dan duduk di samping Anita.


"Apa kamu tidak membenciku?" tanya Romi menyandarkan lehernya di sofa.


"Tidak, awalnya memang iya. Tapi aku sadar, bahwa kamu juga laki-laki yang punya harga diri yang tinggi. Maafkan aku kalau saat itu membuatmu merasa di rendahkan." Jawab Anita.


Kemudian Romi mengusap kepala bagian atas Anita.


Dan Anita hanya tersenyum. Tak lama kemudian Gun membawakan kompress dingin. Dan Romipun meletakkannya di pipi kiri Anita.


"Sepertinya Gun tidak menamparmu terlalu keras. Lain kali, jika ada perubahan rencana. Kamu harus melaporkannya padaku." Jelas Romi.


"baiklah, aku mengerti. Dan juga, aku harap Cem tidak meragukanmu. Dia bahkan menggeleng tak percaya kalau aku dianiaya. Jadi kalau dia menghubungimu, berarti dia mempercayaimu"


"aku harap begitu" batin Anita.


Begitulah siklus hubungan antara Romi dan Anita. Dan Gun yang melihatnya, merasa apapun yang dilakukan Tuannya asal bisa membuat Tuannya merasa puas, dia tak perduli.

__ADS_1


......


Di rumah Rahadi.


"Lantas apa yang Nona fikirkan?" tanya Pak Didi


"Aku tak tahu. Kalau Pak Didi. Apa yang akan bapak lakukan?"


"Saya tentu saja mencari kebenarannya."


Pak Didi kemudian menelpon seseorang. Yang katanya akan tiba 30 menit lagi.


"Pak Didi, jika memang benar itu yang terjadi. Apa kita akan menutup mata akan perbuatan Gun?"


Pak didi tersenyum mendengar partanyaan Cem.


"Kenapa Nona fikir itu hanya perbuatan Gun, mana ada asisten yang melakukan sesuatu tanpa izin Tuannya.


Meski saya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Tuan pun saya harus meminta izin." Jelas pak Didi.


Semakin tak karuan fikiran Cem dibuatnya.


"Nona, lebih baik istirahat dulu. Lima hari, istirahatlah selama itu. Dan saya juga akan memberitahu Nona tentang penemuan saya. Agar Nona bisa segera menyelesaikan tugas Nona"


Dengan pandangan kosong, Cem langsung naik ke atas. Berfikir keras. Dengan mandi, ia harap bisa mendinginkan fikirannya.


Dia melihat hp nya mondar mandir di dalam kamarnya. Berfikir apakah harus menelepon Romi dan menanyakannya langsung.


Tapi teringat kata Pak Didi, mana mungkin Gun memukul Anita tanpa seizin Romi.


"aaaahhhh..... aku butuh pelukan Mas Reza. Pelukannya selalu membuatku tenang" tersenyum mengingat suaminya.


Dia melihat jam dinding. Menunggu waktu suaminya pulang kerja. Berkali-kali dia mengirim pesan pada Reza menanyakan waktu kepulangannya.


Dan Reza yang tadinya berencana untuk bertemu dengan Romi pun membatalkan rencananya. Labih baik bertemu istrinya daripada Romi.


Reza mengabarkan Cem bahwa ia sudah dekat. Cem pun turun menunggu Reza di bawah.


Begitu dia mendengar suara mobil Reza ia berlari ke pintu utama menyambut suaminya.


Belum sempat supir membukakan pintu untuk suaminya dia sudah pergi membukanya. Setelah Reza keluar, dia langsung memeluk Reza dengan kencang. Menghirup aroma tubuh suaminya. Membenamkan wajahnya di dada Reza.


"Masss, aku kangennn"


Tentu saja Reza yang seharian kerja sambil memikirkan Cem merasa senang diperlakukan seperti ini.


Mereka pun berjalan sambil berpelukan.


Meskipun berjalan seperti kepiting. Tapi Reza tak mempermasalahkannya.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2