Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku

Kubenci Kau Dengan Segenap Hatiku
Kencan (Part 1)


__ADS_3

Reza sudah menyiapkan daftar liburan untuk istrinya. Cem yang tidak pernah berlibur, kecuali bulan madu mereka. Sehingga Reza punya banyak list untuk kegiatan kencan mereka.


Pertama, makan di restoran.


Reza mengajak Cem makan di sebuah restoran kesukaan Reza ketika masih kecil. Restoran mewah yang elegan. Tapi masih terkesan santai.


"a.a.a.a.." tiba-tiba Reza mengangkat sendok ke depan mulut Cem.


Cem yang malu dengan cepat membuka mulutnya.


Tiba-tiba ada yang memanggilnya.


"Cem??"


Cem menelan makanannya dengan cepat kemudian menyahut "iya?"


"Masih ingat aku kan?"


"iya, ingatlah. Emm Ben kan?"


"hahahhaa. hampir. Beny"


tiba-tiba Reza berdehem membersihkan tenggorokannya.


"Maaf Tuan Reza. Saya sepertinya mengganggu makan kalian"


"Iya, sudah cepat pergi sana!" gumamnya pelan, tapi terdengar oleh Cem dan Beny.


"Kalau begitu saya permisi. Tuan, Cem? Sampai ketemu minggu depan, Cem"


"Hehe, iya. Maaf yah. Makasih sudah mau nyapa," tertawa canggung.


Akhirnya Benny pergi.


"Menganggu saja. Gak tahu apa orang lagi asyik-asyiknya.


Katanya lupa, kok sekarang sok akrab gitu?terus ngapain ketemu minggu depan?"


"Iihhh. Kan kita ketemu di basecamp. Tadi aja aku salah nyebutin namanya."


"Iya, tapi cuma kurang satu huruf. Berarti kamu ingat kan sama dia?" Reza kemudian meletakkan sendok dan garpunya.


"Kenapa berhenti makan? katanya tadi enak?"


"Sudah gak nafsu," Cem yang tahu suaminya cemburu, dia tersenyum.


"Yakin? kita pulang aja kalau gitu. Ayo!" Cem pura-pura memasukkan hp ke dalam tasnya.


"Apa?pulang? terus semua yang aku siapkan bagaimana?" batin Reza


"Duduk, kita lanjutkan makan"


Setelah makan, mereka pun berjalan kaki, melihat toko-toko disekitar.


Mereka membeli gantungan kunci couple, baju kaos couple bertuliskan Suami Istri di masing-masing baju kaos, sepatu couple, mereka bahkan menggammbar desain di atasnya, gantungan kunci couple. Dan itu semua ide Reza.


"Biar mereka tau, kalau kamu sudah bersuami." Memberikan gantungan kunci ke tangan Cempaka.


"Mereka juga sudah pada tau. Gak ingat muka kita pernah terpampang di mana-mana? Untungnya kita bukan artis, waktu kemaren lagi kampanye, sempat ada yang teriakin nama aku."


Tiba-tiba Reza menghentikan tiga orang pejalan kaki. Dua perempuan dan satu laki-laki.

__ADS_1


"Mas kamu ngapain sih?" membisiki Reza


Tapi Reza tidak memperdulikan pertanyaan Cem.


"Menurutmu, dia sudah menikah apa belum?" Reza menunjuk Cem dan Cem hanya tersenyum malu.


"Belum?" kata tiga orang itu hampir bersamaan lebih dengan nada bertanya daripada menjawab.


Semakin gusar Reza "Tuh kan, aku bilang. Kamu dikirain belum nikah."


"Mas, kan umurku baru akan masuk 21, jadi wajar kalau orang berfikiran aku belum nikah."


"Gak! gak wajar! Di negara ini ada banyak wanita seusiamu bahkan sudah punya anak"


Sambil menarik tangan Cem kembali ke tempat membeli baju kaos. Dia bahkan meminta desainnya sendiri.


Istri Reza Rahadi untuk baju Cempaka


Suami Cempaka Rais untuk baju Reza.


Reza membeli 5 pasang dengan warna dan model berbeda tapi desain yang sama. Dan mereka mengenakan salah satunya sekarang.


"Mas, apa ini gak berlebihan?"


"Apanya yang berlebihan? Banyak kok orang-orang kayak kita. Kamu harus pakai baju ini kalau keluar rumah."


"iya aku tahu. Tapi.... sudahlah, sekarang kita lanjut ke mana?" mengaitkan lengan kanannya ke lengan kiri Reza.


"Kalau sekarang Rahasia. Kamu harus sabar."


Mereka menaiki mobil dan berkendara kurang lebih satu jam.


Mereka tiba sore hari, di sebuah taman keluarga yang luas. Ada banyak pohon dan bunga yang menghiasinya. Terlebih lagi danau buatan yang indah dan luas di tengahnya.


Ketika supir ingin membantunya, ia tidak membiarkannya "Hari ini saya yang akan mengurus istri saya," ucapnya bangga.


Cem hanya tersenyum melihatnya.


Reza menggelar tikar di bawah pohon yang rindang menghadap danau.


"Wah, mas disini posisinya pas banget," ucap Cem sambil naik ke atas tikar dan akan duduk.


"Eiitt, jangan dulu!" Reza menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan kanan tanda tidak boleh.


Kemudian Reza duduk terlebih dahulu dan mengeluarkan isi keranjang bekalnya.


Ada kue, buah dan minuman.


"duduk di sini" Reza menepuk tempat tepat didepannya menyuruh Cem duduk antara kedua kakinya.


Reza menyandarkan punggungnya di pohon, dan duduk menghadap danau, Cem duduk di antara kedua kaki Reza bersandar di dada Reza.


Reza kemudian melingkarkan tangannya ke tubuh atas Cem.


"Cantik kan?"


"iya, walaupun rame tapi kita masih bisa nikmati keindahannya."


Tak selang beberapa lama kemudian, sebuah keluarga lewat, dengan tiga anaknya. Dua balita yang sudah bisa berjalan, dan seorang balita di dalam kereta dorong.


"Mas, kalau kita bawa anak-anak kita ke sini pasti lucu. Mama yang ribut ngejagain mereka. Kita bakalan lihat aja dari sini. Terus Papa cuma ngangguk-ngangguk ngelihat Mama. Pak Didi berdiri diam di pojok sana"

__ADS_1


Mereka berdua tertawa membayangkan perkataan mereka.


"Memangnya Mas Reza pengen punya anak berapa?" tanya Cem.


"Kalau Mas, yah terserah Cem. Kan Cem yang bakalan ngelahirin. Cem maunya berapa?"


"Empat aja, dua cewek dan dua cowok biar rame. Hehehehe."


Menikmati angin sore dan suasana taman. Mereka tenggelam dalam kedalam dunia khayalan, menghayalkan keluarga kecil mereka berlari sekitaran taman dan saling mengejar. Keduanya tersenyum.


Matahari sudah mulai terbenam, langit jingga yang mewarnai langit sore hari itu, menambah kepuasan dalam hati mereka.


Dalam perjalanan pulang, mereka mampir makan malam di warung kesukaan Cem.


Itu hanya sebuah warung kecil, tapi rasa masakannya sangat nikmat.


"Mas, pasti gak pernah makan di tempat seperti ini?" tanya Cem ragu, siapa tahu suaminya tidak bisa memakannya.


"hahahha, mas dulu sering bolos waktu SMP yah makannya di warung kayak gini. Setelah ketahuan Pak Didi, Mas dipindahin ke sekolah elit bareng Kak Romi. Jadi, yah udah lama juga sih gak makan di warung kayak gini"


"Terus, pas SMA emang kencan sama Kak Dini ke mana aja?" tanya Cem, dia memincingkan matanya menunggu jawaban Reza.


"emm...Mas gak terlalu ingat. Yang pasti gak ke warung."


Cem tersenyum puas mendengar jawaban Reza.


Setelah makan malam mereka kembali ke rumah. Mandi dan berganti pakaian.


Seperti biasa, Cem akan langsung tidur dengan posisi favoritnya. Telinga di dada Reza.


"Sayang, kamu mau ngapain?"


"ya tidur lah Mas, besok aku harus pagi demi rencana kencan kita."


Mereka akan bergantian membuat rencana kencan.


Baru akan terlelap.


"sayang, bagaimana dengan rencana kita akan bawa anak-anak ke taman kalau kamu langsung tidur," ucap Reza sambil mengelus punggung Cem.


"Kan besok juga bisa"


"Kita kan harus berusaha maksimal sayang. Katanya usaha juga harus banyak-banyak"


Tangannya sudah gerayangan ke mana-mana. Mereka pun melakukan usaha nya semaksimal mungkin.


Keesokan paginya, Cem terlambat bangun. Tidak sesuai dengan jadwal yang ia inginkan.


Reza justru sudah bangun mengenakan baju couple yang mereka beli kemarin.


Melihat Reza yang sudah siap "Mas, kok gak bangunin aku, kan hari ini tuh date planner nya itu aku," bangun lalu mandi dan siap-siap.


Di ruang ganti, Reza sudah menggantung baju couple milik Cem di depan pintu lemari Cem. Akhirnya Cem pun menggunakannya.


Rencana awal adalah membuatkan sarapan umtuk Reza di tempat tidur. Akan di ganti jadi belanja keperluan dan masak siang bersama.


Di meja makan, Tuan besar, Nyonya besar dan Ina sedang siap sarapan. Mereka rencananya, akan pergi ke kota orang tuanya Ina, mengadakan acara syukuran.


Ina yang melihat Cem dan Reza berjalan menuju menuju meja matanya membesar berusaha menahan tawa.


"please, jangan ketawa. Please mbak Ina," Cem yang wajahnya sudah merah. Sementara reza berjalan dengan bangga.

__ADS_1


"Buahahahahhahaha, Kak Reza gokil. Cem, keren!" mengacungkan jempol pada pasangan itu. Cem yang malu, langsung cepat-cepat duduk. Para pelayan pun ikut tersenyum melihat pengantin baru itu.


*bersambung......


__ADS_2