
Sudah hampir satu bulan sejak Cem memutuskan untuk menjadi dirinya sendiri.
Menjadi Cem, yang melakukan yang terbaik yang ia bisa. Mengurus suaminya dan keperluan di rumah. Dan Reza membuat ia merasa bahagia melakukan itu semua.
Malam sebelum tidur.
"Sayang, demamnya sudah mendingan?" tanya Reza khawatir.
"Iya, udah kok. Dan tadi juga sudah makan bubur ayam sama martabak telur.
Mas, besok Mas kan libur. Gimana kalau kita ke taman tempat kita kencan itu. Jadi pengen tidur di sana lagi," ucap Cem yang membayangkan damainya suasana di taman dengan suara tawa anak-anak.
Reza pun setuju dengan rencana Cem.
Besok paginya Reza yang bangun dengan buru-buru, mondar-mandir dalam kamar mempersiapkan diri untuk ke kantor.
Sementara Cem, duduk di kasur menyilangkan kaki dan tangan di dadanya karena kesal.
"Sayang, kamu serius gak bantuin aku siap-siap?"
"Bodo amat, kamu itu lebih perduli sama kerjaanmu banding sama istrimu." Cem memalingkan wajahnya, air matanya tertahan di pelupuk mata.
Semenjak Reza kerja, pekerjaannya selalu selesei dengan hasil yang memuaskan.
Selain ramah ia sudah dinilai sebagai seseorang yang sangat kompeten dalam perusahaan.
Karena itu banyak yang menyukainya di perusahaan.
Reza berhenti, melihat istrinya yang hampir menangis.
"Sayang, maafkan mas. Mas gak tahu kalau mereka akan menelepon sepagi ini dan menganggu hari libur kita. Dan juga belakangan ini Kak Romi sering izin." Reza menyentuh kedua pipi Cem memintanya melihat wajah Reza, air mata Cem yang tadi tertahan malah semakin jadi.
"Mas kan sudah janji kalau hari ini itu bakalan ke taman. Padahal aku sudah bayangin berbaring di bawah pohon dan tidur di atas paha Mas Reza." Sesegukan dia mengucapkan semuanya.
Reza semakin tidak karuan, tidak mengerti kenapa istrinya menangis seperti itu.
Tapi apa yang akan ia kerjakan adalah proyek bernilai milayaran.
"Ya sudah, mas akan minta seseorang menggantikan Mas kita bisa pergi ke taman hari ini."
"Lagipula proyek itu selain aku pasti ada yang bisa melakukannya. Daripada melihat istriku menangis," batin Reza lalu mencium kening Istrinya.
Cem langsung menghapus air matanya dan tersenyum sumringah.
Ketika Reza akan membuka setelan baju kerjanya
"Ya udah gak apa-apa Mas pergi aja ke kantor Kita bisa pergi lain kali. Kalau Mas sudah tidak terlalu sibuk," ucap Cem yang bangun dari kasur dan langsung ke dapur.
Masih ragu, Reza mengikuti Cem ke dapur.
"Sayang, kamu yakin?"
"he em, aku yakin, lagian aku mau bantu bibi aja beresin taman," ucap Cem tersenyum pada Reza sambil mengambil sekotak stroberi dan kiwi.
Cem langsung memasukkan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Tapi cepat dicegah Reza, "sayang, ini harus dicuci dulu!"
"Udah di cuci sebelum dimasukin kulkas. Sudah, berangkat kerja sana!" merebut kembali buahnya dan membentak Reza, ia sendiri kaget dengan nada bicaranya.
"Maaf, Mas." Cem langsung memeluk suaminya.
Reza balas memeluk Cem, "ya sudah, Mas siap-siap dulu" mengelus punggung Cem beberapa kali.
Reza melihat jam, sudah lebih dari waktu yang ia targetkan. Ia pun buru-buru berlari ke lantai dua dan melanjutkan persiapannya.
Dan secepat kilat berangkat, hanya berteriak dari luar bahkan tanpa sarapan.
Cem merasa sedih karena ditinggal Reza seperti itu. Dia sendiri merasa kesal karena sedikit-dikit merasa sedih, senang, kesal. Kadang semua bercampur aduk.
Setelah sarapan, Cem memutuskan untuk mandi kemudian menonton film di laptopnya. Karena dia tidak suka menonton di sofa kalau sendirian.
Sekitar pukul 10 pagi, hp Cem berdering. Dia melihat panggilan dari nomor baru.
"Ya, halo?" jawab Cem
"Cempaka?"
"iya, siapa?" tanya Cem lagi.
"Windi, emm. Apa kita bisa bertemu hari ini?"
"emm? untuk apa? Aku tidak punya sesuatu untuk dibicarakan."
"Aku perlu bicara denganmu, ada yang ingin kuberitahukan."
Cem berusaha menghubungi pak Didi, tapi tak tersambung sehingga dia meninggalkan pesan. Menghubungi Reza juga tak terhubung. Satu jam dia menunggu jawaban dari kedua orang itu, tapi tak ada jawaban.
Jadi, dia hanya berpesan pada bi Wati kalau ia akan keluar menemui seseorang.
Dia mengendarai mobilnya sendiri dan pergi ke tempat yang dijanjikan.
Sementara itu.
"Gun, sudah berapa lama dia seperti ini?" tanya Windi.
"Belakangan ini gejalanya sering muncul, aku bahkan tidak tahu kapan itu akan datang. karena itu aku menyiapkan obat anti depresannya di hampir semua tempat."
"Tapi , kamu juga harus lebih berhati-hati. Kalau sampai orang-orang tahu. Semua yang ia lakukan akan sia-sia."
"Aku tahu. Apa kamu fikir dia akan baik-baik saja?" tanya Gun khawatir.
"Aku akan bertemu dengan Cem hari ini. Memintanya menghubungi Romi atau apapun itu.
Hanya karena tidak dihubungi oleh Cempaka dia bisa seperti ini.
Apa dia berubah seperti Dini yang dia ciptakan?"
"Jaga bicaramu!" ucap Gun meninggikan suaranya.
Windi hanya memutar bola matanya dan pergi meninggalkan Romi dan Gun.
__ADS_1
Di antara mereka bertiga, mungkin hanya Windi yang masih sedikit normal.
"Aku yang akan menjemput Aleka dari tempat penitipan anak"
"huh, demi mereka aku menitipkan anakku pada orang. Hal-hal yang kulakukan demi sahabat," batin Windi sambil menggelengkan kepalanya.
Windi kemudian berangkat menemui Cem.
Belakangan mereka lebih sering menginap di rumah Windi, karena Romi sering emosi. Sementara di rumahnya sendiri ada mata-mata Pak Didi.
Tiba di tempat yang dijanjikan, di mana terakhir kali Cem menemui Anita.
"heh.. tempat ini seperti gaya Pak Didi." Ucap Windi yang masuk tanpa mengetuk.
"Jadi ini Windi? ahh kenapa aku tak menerima informasi tentangnya? Tapi siapa yang tahu aku akan bertemu dengannya saat ini?" batin Cem yang kemudian mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" Tanya Cem langsung pada intinya.
"Kenapa kamu tidak menghubungi Romi untuk menanyakan kebenaran yang kamu dapatkan?"
Cem merasa bingung, apa yang Windi maksudkan.
"Maksudnya?"
"Aku dengar Anita membeberkan kalau ia mendapatkan kekerasan fisik dari Gun? Apa kamu tidak cukup mempercayainya sehingga tak ingin menanyakannya langsung pada Romi?"
"Aku sangat ingin menelponnya, tapi aku juga takut akan kenyataan yang aku terima. Aku fikir aku mengenalnya, tapi...."
"Itu sama saja kamu tidak mempercayainya, karena kamu fikir kenyataan yang kamu terima akan sama seperti yang kamu dengar, bukan?" ucap Windi memotong pembicaraan Cem.
"Iya, aku tak bisa mempercayai Kak Romi, karena aku sadar, aku tak pernah bersamanya seharipun selama 24 jam.
Jadi aku tidak akan tahu apa yang ia lakukan di luar sana."
"Ternyata hanya sedangkal itu perasaanmu pada Romi.
Aku sangat kecewa sekarang Cem.
Romi begitu mengagungkanmu, memujamu, bahwa kamu adalah wanita yang paling mengerti dia." Windi bicara meremehkan.
"Perasaanku mungkin tidak sedalam dugaanku, tapi juga tak sedangkal fikiranmu. Kamu tidak tahu apa yang aku alami menghadapi semuanya.
Sehingga aku memutuskan untuk melepaskannya.
Karena aku terlalu memikirkan perasaan Kak Romi.
Aku berhenti bertemu orang-orang di belakangnya, karena aku tak mau mencari informasi di belakangnya.
Karena itu aku melepaskannya." Cem meninggikan nada bicaranya kemudian meminum air dan memakan makanan yang ia pesan tadi.
Sambil nafasnya yang berburu karena ia merasa kesal.
Windi menyeringai. "Dan kamu juga tidak tahu apa yang sudah Romi alami, apa usaha yang ia lakukan sampai saat ini. Hingga pernikahanmu dan Reza merusak semuanya."
Windi lebih meninggikan suaranya dan memukul meja.
__ADS_1
*bersambung......