
Tiga belas bulan sejak Romi di rawat, akhirnya dia diizinkan keluar.
Meski tetap harus kontrol setiap seminggu sekali.
Mereka bilang, cinta menyembuhkan segalanya. Meski cinta juga penyakit, cinta juga adalah obat yang manjur.
Terdengar menggelikan memang, tapi itulah kekuatan cinta.
Mereka memutuskan untuk pindah rumah, memulai lembaran baru kehidupan mereka.
Mereka ingin mengukir kenangan baru, di tempat yang baru.
Sementara mereka dalam perjalanan, seluruh keluarga Rahadi dan juga keluarga Anita sedang menyiapkan kejutan penyambutan untuk mereka di rumah baru mereka.
Di dalam mobil, Anita memeluk Romi dengan erat. Dan Romi mulai mengelus rambut Anita.
"Nit?" Romi memanggil Anita, berhenti mengelus rambutnya.
"iya, kenapa?" tanya Anita lembut, lalu menatap Romi.
Romi ingin mengatakan sesuatu, tapi dia menggeleng sendiri. Anita jadi penasaran
"Kenapa? kamu mau ngomong apa sih?" sambil berpura-pura manja.
"ooh, ayolah. Aku sudah melarangmu bersikap sok manja. Sangat tidak sesuai dengan wajahmu," sambil Romi meletakkan telapak tangannya di wajah Anita menutupnya.
Anita semakin merajuk. Melihat istrinya merajuk,
"Beda lagi kalau kamu mencoba bersikap seksi, wajahmu lebih cocok dengan sikap seksi," puji Romi tersenyum.
Anita tersenyum dan memeluk Romi.
"Tapi apa yang ingin kamu katakan?"
"Emm, kamu lupa mencuci rambutmu lagi yah? bukannya aku menyuruhmu mencucinya 2 hari sekali"
Anita lantas makin marah, "Kamu tahu gara-gara siapa aku tidak sempat cuci rambut? Karena aku sibuk mengurus surat kepulanganmu. Dan rumah kita. Sementara kamu tidak diizinkan keluar dari tempat itu." Dia melepaskan pelukannya dari Romi.
"Kembalilah ke sini!" ucap Romi membuka tangannya menyuruh Anita kembali ke dalam pelukannya.
"Kamu bilang rambutku bau! Aku tidak ingin memelukmu."
"Tidak, aku tidak mengatakannya. Aku hanya menanyakan kenapa kamu lupa mencuci rambut? Ayo cepat kemarilah!"
Menghela nafas, dia mendekatkan diri pada Romi, karena dia tahu dia tidak akan bisa menolak Romi.
Setelah mobil berhenti. Anita buru-buru turun tanpa menunggu Romi.
"Apa dia masih marah? ahh, memang berurusan dengan wanita sangat merepotkan. Apa tidak bisa jantungku copot simpan di lemari agar aku tidak terganggu dengan kemarahannya?" batin Romi mengikuti Anita ke dalam rumah.
Anita yang berlari cepat, masuk ke rumah. Saat orang mengatakan "surprise" dia terkejut tapi lanjut melangkah masuk ke kamarnya dan kamar mandi dan mencuci rambutnya.
Ia merasa malu jika Romi menyinggung rambutnya yang lupa di keramas, meskipun setelah itu Romi tetap memegang atau mengelus rambutnya.
__ADS_1
Ia ingin Romi mengelus rambutnya tanpa ada rasa risih di hatinya.
Orang-orang yang melihatnya bertanya-tanya.
Lalu kemudian Romi masuk dengan wajah yang bingung melihat semua orang ada di rumahnya.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
Lalu dia melihat balon dan dekorasi "selamat datang di rumah" dan makanan yang banyak.
"Kalian kenapa?" tanya mamanya
"Tidak, kita tadi hanya membahas masalah rambutnya. Lalu dia sedikit marah. Tunggu, ke mana dia?" Tanya Romi yang tidak melihat sosok Anita di kerumunan orang banyak.
Semua orang menunjuk ke arah kamar di mana Anita masuk. Romi fikir ia akan menemukan Anita menangis di tempat tidur, tapi ternyata sedang mencuci rambutnya.
Ia tertawa kecil dan geleng-geleng.
Anita yang melihat Romi semakin mempercepat mencuci tambutnya yang kemudian mengeringkannya.
"Kenapa kamu masih disini?" tanya Anita pada Romi.
"Kenapa memangnya?"
"Kita punya banyak tamu di luar sana yang menyambutmu." Anita yang sudah selesei buru-buru menyisir rambut dan berjalan keluar.
"Aku tidak mengundang mereka ke sini." Ucap Romi kemudian menarik pergelangan tangan Anita dan memeluknya. Dia mengangkat wajah Anita , dengan menyentuh dagunya agar menatapnya dan ia menyatukan bibir mereka.
Agak lama mereka berciuman, tiba-tiba ada ketukan di pintu kamarnya. Romi menghela nafas meletakkan keningnya di kening Anita.
Itu bukanlah ciuman pertama mereka. Mereka sudah sering melakukannya. Hanya saja mereka tidak pernah melakukannya lebih dari sekedar berciuman dan meraba tubuh. Karena tempat yang tidak tepat.
Anita sendiri juga sudah menantikannya.
Romi sudah merencanakan malam pertama mereka adalah malam pertama di rumah baru mereka.
Tapi apa daya. Rencana tinggallah rencana.
"Kalian baik-baik saja kan?" tanya Ayahnya Anita.
"iya, kami baik-baik saja," ucap Romi menggandeng Anita berjalan keluar kamar.
Malam itu, terdengar tawa seluruh keluarga.
Tangis dari Rezka dan suara mengobrol memenuhi rumah itu.
Bahkan pelayan-pelayan ikut menikmati pesta penyambutan malam itu.
Romi, setelah hatinya dibuat bergetar oleh Anita. Kini seluruh keluarga yang hadir di rumahnya membuat ia merasakan hal yang serupa. Kehangatan dan kebahagiaan.
Setelah acara selesei. Keluarga Anita menginap tapi keluarga Rahadi memutuskan untuk pulang karena lokasi yang tidak terlalu jauh.
Romi sudah tertidur lebih dulu. Sementara Anita masih di ruang tamu bersama Ayah dan ibunya.
__ADS_1
"Apa kamu bahagia?" ayahya bertanya.
Ia mengangguk senang, matanya berkaca-kaca.
"iya ayah, aku sangat bahagia. Dia juga mencintaiku, Ayah!" air matanya mengalir.
Ayahnya ikut menangis.
"Setelah dua bulan bersamanya, aku fikir aku akan menyerah padanya. Tapi aku bersyukur tak melakukannya."
Ayahnya memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Ibunya ikut bergabung dalam pelukan hangat itu.
Keesokan harinya Anita dan Romi mengantar kepergian keluarganya.
Ketika mereka akan menutup pintu, tamu yang tidak diduga datang.
Romi menggeram "Aaarhh. Pak Didi"
Anita hanya tersenyum.
Masuk ke dapur dan meminta pelayan menyiapkan kopi.
"Ada apa pagi-pagi sekali?"
"maafkan saya jika menganggu tuan Muda."
"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa di ganggu sejak tadi malam."
Pak Didi tidak mengerti maksud Romi dan dia hanya menyampaikan tujuan kedatangannya.
Pak Didi meminta Romi untuk kembali bekerja sebagai Presdir, karena Reza sudah menolaknya sejak awal.
Dan Tuan Wisnu menikmati masa pensiunnya.
Tuan Wisnu mengundurkan diri dari pencalonan. Karena mengingat privasi kehidupan yang akan terganggu karena publik.
Sementara dia memiliki jiwa yang sama dengan Reza tak mau terlalu terbebani.
Jadi selama setahun ini Pak Didi yang mengisi kekosongan jabatan itu untuk sementara.
"Tuan muda, anda sangat kompeten. Saya sudah melihat anda sejak anda lahir dan kemajuan yang anda lakukan bahkan di awal usia 20an."
"Pak Didi, bisa berikan aku waktu? Aku dengan senang hati melakukannya. Karena itu adalah hal yang sudah kupelajari sejak kecil.
Tapi untuk saat ini, aku ingin fokus pada kesehatanku dan Anita.
Bisa kan Pak Didi meberikanku waktu?
Aku tidak tahu, mungkin akan butuh waktu berbulan, bahkan mungkin bartahun." ucap Romi.
"Baiklah Tuan Muda, saya akan menunggu Tuan Muda hingga kembali. Hubungi saya jika tuan muda sudah siap kembali."
Dengan begitu Pak Didi pun pamit dan akan menggantikan Romi untuk sementara umtuk waktu yang belum ditentukan.
__ADS_1
*bersambung......