
Setelah tiba di kamar, Cem mengemas pakaiannya masuk ke dalam koper dan setelah itu hanya memandang keluar jendela. Termenung.
Apa benar keputusanku menikah?
Bagaimana nanti kalau aku atau Mas Reza memutuskan untuk menyudahi pernikahan ini?
Pernikahan yang didasari cinta saja tidak bertahan lama.
Dasar pernikahanku karena ingin membantu Papa, bagaimana kalau Papa sudah tidak membutuhkan bantuan ku??
Reza masuk kamar, membuyarkan renungan Cem.
"aku bawakan makan malam, dan sepertinya makanan hotel terlalu monoton" menunjukkan kantung makanan yang dibawanya.
kemudian melihat barang-barang Cem yang sudah terkumpul rapi lagi dalam koper.
"urusan kita disini sudah selesei. bukannya lebih baik kita pulang?" ucap Cem dengan nada serius.
"apa?apa maksudmu?" tanya Reza agak kesal.
"apa arti pernikahan kita menurutmu? berapa banyak orang yang tau, kalau pernikahan kita terjadi karena skandal Papa.
Pernikahan kita dimata orang lain hanya lelucon dan sandiwara untuk menyelamatkan nama baik Papa"
Mendekati Cem "apa yang kukatakan padamu saat malam pernikahan kita??"
"aku mohon yakinkan aku, maka aku akan percaya. Satu, atau dua hari belum cukup untuk meyakinkanku" tanpa sadar air matanya sudah jatuh.
Padahal ia sangat tidak ingin menangis, ia tak tahu mengapa. Tapi, entah ada luka dan keraguan dalam hatinya.
Karena sebenarnya, bukan Reza yang dia ragukan melainkan hatinya sendiri.
Adegan siang hari yang dia dengar, menambah keraguan hatinya. Aku tak terlalu mengenal pria ini, fikirnya.
#siang sebelum pemotretan.
Reza sedang berada dalam kamar mandi, ketika hp nya berdering. Tak sengaja, sempat Cem melihat kontak pemanggil yang muncul di layar. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.
"DINI??? Dini? kak Dini sepupuku??temannnya???Dini siapa??" berkecamuk fikirannya penuh tanda tanya.
Reza keluar dari kamar mandi.
"Mas, hp nya dari tadi ada yang nelpon"
melihat Reza mengambil hpnya,
"siapa yang manggil?" tanya Cem
"hemm???bukan siapa-siapa!" Reza berjalan ke arah sofa. Karena kamar yang mereka pakai memiliki 2 kamar di dalamnya, dengan ruang duduk antaranya.
Cem masuk kamar mandi, Mondar-mandir di dalamnya.
__ADS_1
"Dini? apa teman Mas Reza??" Dia membasuh wajahnya, dengan harapan fikiran kalutnya agak mereda.
Setelah berusaha menenangkan diri dan keluar dari kamar mandi. Dia masih mendengar Reza bicara ditelpon.
Awalnya, dia berencana tidak ingin mendengar percakapan Reza dengan Dini, dia ingin tidak perduli. Entahlah siapa Dini itu.
"Aku tidak menikah, aku tetap cinta dan selalu cinta sama kamu. Aku sekarang lagi sibuk. Biarkan aku bicara dengan Ibu.(berselang beberapa detik)
Ibu bagaimana sih? Apa aku juga harus mengorbankan hidupku lagi? apa aku harus hidup melajang?"
diam sejenak setiap orang diseberang sana bicara. Entah apa yang diucapkan orang diseberang sana.
"sudahlah bu, usahakan seminimal mungkin kayak gini lagi. Kalau bisa usahakan jangan lagi. Aku sudah melakukan semua yang aku bisa."
.........
"mau aku menikah dengan siapa, itu bukan urusan Ibu, jangan libatkan dia dalam masalah ini" Reza kemudian menutup telpon dan membanting HP nya hingga berserakan di lantai.
Cem duduk di dalam kamar, dan mengolah pembicaraan Reza yang dia dengar barusan.
Dari pernyataan cinta hingga marah-marah. Ia belum paham. Bingung.
"Kamu udah siap??" Reza yang tiba-tiba masuk kamar.
"eemm???eeeh iya. Tunggu sebentar" Cem hanya tinggal memakai baju pantai panjang dan topi yang sudah dia siapkan.
Dan menyiapkan beberapa yang lain untuk ganti.
Dan pergilah mereka ke pemotretan bulan madu mereka.
#kembali ke kamar hotel.
"Cem, kamu kenapa??" Reza yang khawatir melihat Cempaka menangis.
"aku bilang, yakinkan aku. Kalau kamu benar-benar menganggap ini pernikahan sungguhan. Bukan hanya karena Papa, tapi karena kamu benar-benar ingin aku sebagai istrimu!
Karena masih terngiang di kepalaku, saat kamu bilang benci dengan gadis sepertiku."
Reza kemudian memeluk Cem untuk menenangkannya.
Cempaka, selama ini dia sudah hidup dengan tegar. Kasih sayang yang dia dapatkan dari Nyonya dan Tuan Besar, dia sangat mensyukurinya.
Kasih sayang yang bahkan ia tak ingat pernah rasakan bersama orang tua kandungnya.
"Aku ingin hidup sebagai suamimu, dan aku ingin kamu sebagai istriku" Reza membelai rambut gadis dihadapannya.
"Kenapa?? bukannya pernah bilang, benci gadis sepertiku?"
Reza menarik Cem duduk di atas tempat tidur dan duduk berhadapan.
"Sebelum tau kalau kamu itu Cem adik Dini, dalam 2 hari Mas sudah tertarik sama Cem, dan meskipun Mas sebenarnya gak mau tertarik sama Cem.
__ADS_1
Cem, masih keluarga Dini, dan mas gak mau lagi berhubungan sama dia.
Tapi satu bulan mengenal Cem, mas tau kalau Cem gak sama kayak Dini. Cem itu lebih kuat dan mandiri. Karena itu dari sekarang, Mas akan berusaha menjadi suami yang baik buat Cem. Kita jalani sama-sama, perlahan."
Reza kemudian menyentuh wajah Cem dengan kedua tangannya, dan mencium kening istrinya. Cem senyum tapi malu sambil mengusap air matanya.
Kemudian Reza mengecup kedua pipi Cem, dan mengecup bibirnya.
Tak seperti sebelumnya, Cem menutup matanya perlahan, Reza menghubungkan kembali bibir mereka dan memulai mencium bibir istrinya.
Getaran listrik kecil yang Cem rasakan, membuat ia mendekatkan tubuhnya ke arah Reza. Tangan Reza yang tadinya memegang pipi Cem berpindah memeluk pinggangnya, dan menarik Cem merapatkan tubuh mereka satu sama lain.
Cem melingkarkan tangannya di leher suaminya. Reza membaringkan Cem di tempat tidur, tangannya sudah berpindah ke arah paha Cem, mendesah.
Desahan Cem mebuat Reza mengehentikan ciumannya, meletakkan keningnya di kening istrinya dan tersenyum
"bersama, perlahan", lebih dia tujukan untuk dirinya sendiri.
"kamu gak lapar??" mencium kening istrinya dan beranjak dari tempat tidur.
"engg?? kenapa, aku belum lapar" duduk di tempat tidur.
"kenapa berhenti?kan lagi asyik" Cem yang baru pertama kali merasakan ciuman pertamananya dan merasakan getaran-getaran merasa kegiatan ini harus dilanjutkan.
"yakin?? kamu nggak lapar? makanan yang aku beli tadi nanti jadi sia-sia."
"tapi kan" dia ingin bilang lagi serunya tapi dia malu.
Reza mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Cem "kamu yakin? udah siap?"
memerah wajah Cem membayangkan apa yang akan mereka lakukan.
Reza mencium kening Cem dan mencubit pipi istrinya.
"anak kecil, jangan mesum-mesum. aku lapar"
Setelah mendengar desahan Cem, Reza sangat ingin melanjutkan kegiatan yang mereka lakukan.
Tapi dia ingin berjalan perlahan, agar Cem percaya dengan kata-katanya. Karena sehari atau 2 hari tidak cukup untuk meyakinkan seseorang untuk percaya padamu.
"mesuum? messum? hah...yang cium-cium duluan siapa?" bangun dari tempat tidur menyambar kantung makanan yang di beli Reza dan membawanya ke ruang tengah.
Setelah makan malam, mereka menonton sejenak kemudian tidur di dalam kamar.
Saling berpelukan, merekapun terlelap dalam tidur mereka.
"bundaa.....ayah.......hiks..hiks..." menangis Cem dalam tidurnya.
"Cem?Cem? bangun Cem." menggoyangkan tubuh istrinya.
Terbangun sebentar, kemudian mengeratkan pelukannya ke tubuh Reza dan tersenyum lagi.
__ADS_1
Reza juga mengeratkan pelukannya sambil mengelus rambut istrinya.
*bersambung......