
"Ayah aku mohon. Jangan kirimkan surat itu"
Anita lalu merebut surat yang dipegang ayahnya dan menyobeknya.
"Apa yang kamu lakukan?" teriak ayahnya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikannya. Kecuali dia yang memintaku dan mengirimkan surat cerainya dihadapanku." Ucap Anita pada ayahnya.
"Apa kamu sudah gila? apa kamu tidak ingat apa yang sudah dia lakukan padamu?" tanya ayahnya.
"Tidak. Aku tidak gila. Aku akan tetap di sampingnya. Sampai dia benar-benar melepaskanku."
Ayahnya duduk mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya frustasi dengan sikap putrinya.
"Apa sebenarnya yang membuatmu bertahan dengannya?" tanya ayahnya dengan lembut.
"Aku tidak tahu. Dia sangat perhatian padaku. Selain karena kesalahan yang aku lakukan. Dia tidak pernah membiarkan Gun memukuliku.
Ayah, aku ingin merawatnya. Dia sedang terluka hatinya."
Ayahnya semakin frustasi dengan sikap Anita.
"Kita akan bertemu dengan dokter besok. Kalau dokter tidak menganggapmu gila atau apapun itu, aku akan membiarkan kamu bersamanya jika itu yang kamu inginkan."
Anita dan kedua orang tuanya pergi menemui dokter. Anita memang dianggap mengalami gangguan.
Tapi hanya dalam satu bulan, dia sadar apa yang dilakukan Romi adalah salah. Membiarkannya disiksa oleh Gun adalah suatu tindakan tidak normal.
Dia sadar akan kesalahan-kesalahan yang dilakukan Romi.
Tapi hatinya tidak bisa melepaskan Romi.
sebulan bulan kemudian, dokter mengatakan kejiwaannya sudah lebih stabil. Tetapi ia masih tetap harus melakukan terapi.
Seperti yang di janjikan ayahnya. Dia membiarkan Anita berada di samping Romi.
Anita pun mengunjungi Rumah Rahadi untuk meminta izin.
Mereka sedang berada di ruang keluarga.
Anita tiba-tiba duduk berlutut.
"Maafkan saya."
"Duduklah dengan baik Anita, tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Aku sudah mendapatkan kabar dari Ayahmu bahwa kamu tidak ingin menceraikan Romi dan ingin tetap bersamanya." ucap Tuan Wisnu.
Anita hanya bisa menunduk.
"Kenapa kamu tidak mau menceraikannya? Kamu masih bisa memperbaiki hidupmu. Aku juga sudah dengar penyakit yang kamu derita karena perlakuan Romi terhadapmu.
Aku ragu untuk membiarkanmu bersamanya."
Nyonya meraih tangan Anita.
"Ini bukan hanya karena Romi, tapi kami juga mengkhawatirkanmu.
__ADS_1
Ada hidup yang lebih baik di luar sana. Kamu akan menemukan laki-laki yang pantas untuk mencintai dan dicintai olehmu."
"Aku mencintai Romi. Istri macam apa aku yang meninggalkan suaminya saat dia bersedih. Meskipun sekarang dia tidak mencintaiku. Aku tahu dia adalah laki-laki yang baik dan perhatian."
"Anita." Nyonya menatap iba terhadap wanita itu.
"izinkan aku mencobanya. Izinkan aku merawatnya dengan sepenuh hatiku. Ketika aku tak sanggup aku akan menyerah." pinta Anita menggenggam tangan Nyonya besar.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan," jawab tuan Wisnu
"tapi aku ingin aku tinggal bersama Romi dalam ruangan itu."
"Apa?"
"Aku akan tinggal bersamanya, menjaganya dan merawatnya setiap hari. Dengan begitu ia akan melihatku setiap hari dan akupun bisa melihatnya setiap hari," ucap Anita.
Tuan Wisnu menghela nafas.
"Baiklah akan kusiapkan tempat di sana untukmu"
"Terima kasih, Mah, Pah." Ia pun pergi dengan wajah sumringah.
Anita pun mulai merawat Romi sejak hari itu.
Di bulan pertama, Romi sama sekali tidak menghiraukannya.
Anita hanya mengoceh, bicara dan tertawa sendiri.
Di bulan kedua, Romi terkadang mulai melirik Anita saat dia tidak mengatakan apapun.
"Aaahhh...aku pikir sekarang aku benar-benar gila. Aku bicara sendiri, tertawa sendiri dengan leluconku. heheheh," sambil mengelus rambut Romi yang sekarang sedang tertidur.
"tapi tidak apa, aku gila karenamu. Seperti orang bilang Cinta akan membuatmu gila. Tapi jangan membuatku gila sendiri terlalu lama." Dia meletakkan kepalanya di kasur Romi dan memegang tangannya dan tertidur.
Romi membuka matanya, dia ternyata mendengar ucapan Anita.
Dia tersenyum menatap Anita dan ingin mengelus rambutnya. Tapi dia urungkan takut Anita terbangun.
Hari-hari setelahnya ia menjadi lebih responsif terhadap Anita. Bahkan mulai memintanya melakukan sesuatu.
"Aku ingin memakan sesuatu yang pernah kamu masakkan untukku."
"emm? apa itu?" tanya Anita.
"Aku tidak tahu namanya. Kamu mencampurnya dengan mie, ayam, telur, daun bawang dan menggorengnya lalu kamu selipkan keju di tengahnya" Jelas Romi mengingat-ingat apa yang dia makan hari itu.
"oohh itu omelet. Kamu benar-benar ingin aku memasakkannya untukmu?"
Romi mengangguk, lalu Anita memeluk pinggang Romi tiba-tiba.
"Baiklah. Tunggu sebentar." Anita lalu berlari ke dapur dan meninggalkan Romi yang masih kaget setelah dipeluk.
Dia merasakan gelitikan-gelitikan kecil di dadanya.
Setelah itu mereka berjalan-jalan di sekitar rumah sakit. Mereka berdua duduk di kursi panjang. Romi duduk tegak menatap lurus ke jauh.
__ADS_1
Anita hanya memperhatikan Romi. Dia melirik bahu Romi.
"Kalau aku bersandar di bahunya aku akan didorong apa tidak yah?"
Anita beegerak perlahan dan menyandarkan kepalanya di bahu Romi.
Romi tak bergerak beberapa saat.
"Kenapa kamu tak membenciku?" tanya Romi tiba-tiba. dan Anita mengangkat kepalanya dan melihat Romi.
"Karena Aku mencintaimu.
Haruskah aku membencimu? Tunggu, apa kamu mengingat semuanya?"
"Ya, aku ingat semuanya. Betapa bodohnya hidupku. Dan betapa bodohnya kamu menyerahkan hidupmu untuk Reza, yang kemudian kamu serahkan untukku."
"Emm, kamu salah. Ketika aku tidak lari dari pernikahan kita. Aku sudah berfikir mencoba memulai masa depan denganmu. Tapi siapa sangka." Anita tak melanjutkannya karena mereka berdua tahu persis apa yang terjadi.
Romi menghadap Anita. "Baiklah, mari kita coba berteman. Aku tidak yakin apa aku bisa mencintaimu." Romi menyodorkan tangannya, yang diterima Anita dengan tersenyum dan mereka bersalaman.
"Tapi, kenapa selama ini tidak ada yang membicarakan Gun?" tanya Romi tiba-tiba.
Anita tidak tahu, apakah berita ini baik atau tidak untuk Romi.
"Romi, masalah itu. emmm Itu.."
"kenapa? apa Gun dipenjara?" Anita menggeleng
"emm..dia sudah meninggal"
"apa maksudmu meninggal?"
"Dia tidak sengaja menembak Cem, dia fikir kamu akan marah karena menembak Cem karena itu ia meminta maaf padamu dan menembak dirinya sendiri. Itu pesan terakhir yang dia ucapakan pada petugas yang hampir menangkapnya"
"ini semua karena aku!" Romi menangis. Anita menarik tubuh Romi dan memeluknya. Membiarkan laki-laki itu menangis.
Romi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Ketika orang tuanya, pak Didi dan yang lainnya menjenguk. Meskipun agak canggung mereka sudah mulai mengobrol.
Ketika akan bersiap-siap tidur.
"Anita?"
"kenapa?kamu perlu sesuatu" Anita mengangkat kepalanya dari bantal dan melihat Romi.
Romi menggeleng. "Ada satu orang lagi yang sudah kuhancurkan hidupnya, tidak, maksudku dua orang lagi. Dan aku ingin meminta maaf pada mereka." ucap Romi lirih.
Anita tidak menjawab, dia hanya mendengarkan ucapan Romi.
"Apa menurutmu mereka akan memaafkanku?"
"aku tidak tahu, karena kamu tahu, memaafkan itu sulit. Tapi aku berharap mereka akan memaafkanmu. Karena aku melihat bagaimana kamu mengumpulkan keberanian dan kemauanmu untuk meminta maaf. Tapi siapa?" tanya Anita penasaran.
"Dini dan Ibunya"
*bersambung......
__ADS_1